ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 

Injil Kristus yang Berlawanan (II)

Salam jumpa di Sekolah Alkitab Mini. Ini merupakan program studi keseluruhan Alkitab, di mana kita membahas kitab demi kitab. Kalau Anda baru saja bergabung atau kalau baru hari ini Anda bergabung, selamat datang. Program studi ini telah mengantarkan kita mulai dari Kitab Kejadian hingga ke surat-surat Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru.

Dalam sesi terakhir kita membahas surat Paulus kepada jemaat di Galatia. Dalam pasal 3 dan 4 dari surat Paulus kepada orang percaya di Galatia, Paulus menggambarkan apa yang saya sebut “Injil Kristus dalam perspektif”. Karena ini adalah suatu program studi secara umum, maka saya tidak akan membahas pasal-pasalnya secara mendalam atau ayat demi ayat. Sesungguhnya saya ingin melakukannya sebab pasal-pasal ini merupakan pasal-pasal yang sangat mendalam dari Alkitab.

Dalam pasal 3, Rasul Paulus mengajukan 8 pertanyaan. Paulus suka mengajukan pertanyaan sebab ia tahu bahwa pertanyaan-pertanyaannya akan membuat kita berpikir. Paulus juga mengajukan pertanyaan karena Yesus pun mengajukan pertanyaan.

Yesus mengajukan 83 pertanyaan dalam satu Injil saja, yaitu Injil Matius. Para rabi tua seperti Gamaliel, suka mengajar dengan tanya jawab. Salah satunya yang bernama Hillel, bahkan menjawab pertanyaan murid-muridnya dengan balas bertanya. Terkadang ia juga bertanya kepada murid-muridnya. Ketika mereka menjawabnya, ia akan menanggapi jawaban mereka, dan bahkan pertanyaan mereka dengan balas bertanya lagi. Pada suatu hari, seseorang bertanya kepadanya, “Rabi Hillel, mengapa Anda selalu menjawab pertanyaan dengan balas bertanya?” Dan ia menjawab, “Mengapa tidak?”

Paulus mengajukan 8 pertanyaan dalam Galatia 3. Kalau Anda mau mendengarkan pertanyaan-pertanyaan Paulus, merenungkan apa yang ia tanyakan, lalu menjawabnya, Anda akan melihat bahwa dalam pertanyaan-pertanyaan serta jawaban-jawabannya, Paulus sedang memberikan argumentasi yang sangat kuat tentang pembenaran oleh iman dan bukan oleh perbuatan. Paulus sedang mengajarkan bahwa mematuhi hukum atau aturan tidaklah menyelamatkan seseorang. Sehubungan dengan pasal 3 ini, Paulus  memberikan 2 ilustrasi. Yang pertama adalah tentang Abraham.
5Setiap kali Perjanjian Baru berbicara tentang iman, nama Abraham pasti disebut-sebut. Sebelum Anda membaca lebih dari 2 kalimat, Anda sudah akan membaca nama bapa iman, yaitu Abraham. Lewat 8 pertanyaan dan jawabannya ini dalam pasal 3, Paulus mencoba mengajarkan bahwa kita diselamatkan, atau dibenarkan, oleh iman dan bukan oleh perbuatan. Untuk mengilustrasikan kebenaran tersebut, Paulus menyebut nama Abraham. Akan tetapi di sini Paulus memberikan kebenaran tentang Abraham yang tidak kita temukan di tempat lain. Paulus menceritakan bahwa bapa kita, Abraham, menderita suatu penyakit. Penyakitnya disebut iman. “Siapa pun yang menerima dari Allah, karunia iman untuk meyakini Injil Kristus yang mutlak, yang kuberitakan ketika aku sedang bersamamu, mempunyai penyakit iman yang sama seperti yang diperlihatkan oleh Abraham.” Itulah rangkuman saya tentang apa yang disampaikan Paulus lewat tanya jawabnya dalam Galatia 3.

Pernahkah Anda bertanya kepada diri Anda sendiri, “Mengapa sebagian orang meyakini Injil Yesus Kristus ketika mereka mendengarnya, sedangkan sebagian orang lagi mengatakan, ‘itulah kekonyolan terbesar yang pernah kudengar seumur hidupku’?” Persoalannya bukanlah bahwa yang menjadi percaya itu cerdas sedangkan yang tidak percaya itu tidak cerdas. Atau bahwa yang menjadi percaya itu tidak diberikan penjelasan, sedangkan yang tidak percaya itu kaum cendekiawan. Iman bukanlah soal kepandaian. Anda akan mendapati orang-orang pandai yang percaya dan orang-orang pandai yang tidak percaya. Iman tidak ada hubungannya dengan seberapa cerdas seseorang. Iman adalah soal menerima karunia dari Allah. Allah mau memberi Anda karunia iman. Paulus mengatakan kepada jemaat di Filipi: “Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada Kristus …” (Filipi 1:29).

Pertanyaan besarnya sesungguhnya adalah: apakah Anda mau percaya? Apakah Anda mau menerima karunia iman? Orang yang meyakini Injil Kristus tidak bisa mengklaim dirinya berjasa apa pun sehingga ia percaya. Paulus akan mengatakan kepada jemaat di Efesus bahwa iman adalah pemberian Allah (Efesus 2:8-9). Iman bukanlah soal perbuatan. Tidak seorang pun bisa sesumbar bahwa ia beriman; kalau Anda beriman, hal itu adalah karena Allah yang memberikan karunia iman itu kepada Anda.

Demikianlah yang terjadi pada Abraham. Itulah sebabnya maka Abraham percaya kepada Allah ketika Allah memberitahukan bahwa ia akan mempunyai banyak keturunan seperti pasir di pantai, dan seperti bintang di langit. Orang tua yang luar biasa ini, yaitu Abraham, mempercayai Allah. Lalu Allah memandang ke bawah dan mengatakan, “Lihatlah orang tua itu. Usianya sudah 100 tahun. Aku sudah lama memberitahunya bahwa ia akan mempunyai seorang putra dan ia percaya kepada-Ku. Aku menyukai hal itu. Aku menganggap hal itu sebagai kebenaran. Aku berkenan ketika Aku memberitahukan sesuatu kepada seseorang dan orang itu percaya kepada-Ku. Aku menyatakan orang itu benar karena ia percaya kepada-Ku.”

Dalam Galatia 3, Paulus menjelaskan bahwa kalau Anda mempunyai iman yang menyelamatkan karena Anda percaya kepada Injil tentang Kristus, maka Anda disebut anak Abraham. Dengan kata lain, secara rohani, Anda sama dengan orang Yahudi. Itulah sebabnya maka Dr. M.R. DeHaan mengatakan, “Seorang Kristen yang anti Yahudi sungguh merupakan penyimpangan teologi.” Anda tidak mungkin menjadi murid Kristus sekaligus membenci orang Yahudi karena kalau Anda memahami Galatia 3, Anda tahu bahwa Anda sendiri, secara rohani, adalah Yahudi. Secara rohani, Anda adalah anak Abraham kalau Anda mempunyai karunia iman, sebab Anda mempunyai penyakit iman yang sama seperti yang diderita Abraham.

Paulus memberikan ilustrasi lain dalam Galatia 3. Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat yang kita gunakan untuk mencoba menyelamatkan diri sendiri itu ada maksudnya. Paulus memberikan perspektif tentang hukum Taurat dalam Galatia 3 ini dengan memberikan sebuah ilustrasi. Paulus menulis, “Hukum Taurat adalah kepala sekolah yang dimaksudkan untuk membawamu kepada Kristus”.

Dalam Galatia 3, Paulus menjelaskan tentang fungsi hukum Taurat, yaitu untuk mematahkan hati Anda dan menunjukkan bahwa Anda membutuhkan seorang Juruselamat. Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat itu ibarat penggaris lurus yang Allah mau letakkan di sebelah kebengkokan hati Anda, untuk menunjukkan betapa bengkoknya hati Anda. Fungsi hukum Taurat bukanlah untuk menyelamatkan Anda, melainkan untuk mematahkan hati Anda, dan menunjukkan bahwa Anda tidak akan mungkin menyelamatkan diri Anda sendiri dengan mematuhi hukum Taurat. Pertanyaan kegemaran Paulus ketika ia membahas topik ini dinyatakan dalam ayat terakhir pasal 2: “Seandainya engkau bisa menyelamatkan dirimu sendiri dengan mematuhi hukum Taurat, untuk apa Kristus mati di kayu salib? Seandainya engkau bisa menyelamatkan dirimu sendiri dengan mematuhi hukum Taurat, sia-sialah kematian Kristus itu.” Dengan kata lain, sia-sialah Allah mengutus Anak-Nya untuk mati di kayu salib. Allah tidak perlu mengutus Anak-Nya untuk mati di kayu salib seandainya Anda bisa menyelamatkan diri Anda sendiri dengan mematuhi hukum Taurat. Allah benar-benar tidak bijaksana ketika Ia mengutus Anak-Nya untuk mati di kayu salib. Seharusnya Allah berkonsultasi dulu dengan Anda sebab Anda akan memberitahu Allah: “Seharusnya Engkau tidak perlu mengutus Yesus untuk mati seperti itu di kayu salib. Aku sanggup mematuhi 10 Perintah-Mu. Aku sanggup menjalankan Khotbah di Bukit dan menyelamatkan diriku sendiri.”

Masalahnya, tentunya, adalah bahwa Anda tidak mungkin menyelamatkan diri Anda sendiri karena Anda tidak mungkin mematuhi seluruh hukum Taurat. Kalau Anda berpikir bahwa melakukan perbuatan baik bisa menyelamatkan Anda, bagaimana Anda tahu kapan Anda telah cukup melakukan perbuatan baik? Bagaimana Anda tahu kapan Anda telah cukup mengumpulkan poin untuk diselamatkan? Itulah pertanyaan-pertanyaan yang Paulus ajukan dalam Galatia 3.

Saat Paulus menempatkan hukum Taurat ke dalam perspektifnya, Paulus menjelaskan bahwa hukum Taurat memang ada maksud dan fungsinya. Pada zaman itu, pendidikan sangatlah berbeda dengan sekarang. Tidak semua orang dapat mengenyam pendidikan. Bahkan, sangat sedikit orang yang mendapatkan keistimewaan itu. Kebanyakan hanya orang kaya atau bangsawan yang berpendidikan. Pada waktu itu belum ada sekolah negeri. Paulus dilahirkan dalam keluarga warga Romawi. Mungkin Paulus mempunyai apa yang mereka sebut pendidik. Pendidik maksudnya adalah guru yang tinggal bersama keluarga yang dididik dan menjadi bagian penting dari keluarga tersebut. Maksud pendidik ini adalah untuk mendisiplinkan, mendidik, mengajar, dan mempersiapkan sang anak sebelum menjadi dewasa dan menerima warisan yang menjadi haknya. Sang pendidik mempersiapkan sang anak untuk hari itu. Sekarang Paulus menjelaskan bahwa itulah maksud hukum Taurat. Hukum Taurat itu ibarat seorang pendidik yang tinggal bersama Anda sebagai umat pilihan Allah, untuk mempersiapkan Anda bagi keselamatan. Maksud hukum Taurat adalah untuk menunjukkan bahwa Anda tidak mungkin menyelamatkan diri Anda sendiri, sehingga ketika Kristus datang Anda akan mengetahui bahwa Anda membutuhkan Juruselamat. Lewat beratus tahun hidup di bawah hukum Taurat tentunya Anda dapat membuktikan bahwa Anda tidak mungkin menyelamatkan diri Anda sendiri.

Dalam Galatia 4, Paulus mengemukakan Injil Kristus yang dikiaskan. Itulah yang menjadi tema Kitab Galatia. Pertama, Paulus mengemukakan Injil Kristus yang diputar-balikkan, lalu Injil Kristus yang mutlak, lalu Injil Kristus yang berlawanan, lalu, dengan mengajukan banyak pertanyaan, Paulus mengemukakan Injil Kristus dalam perspektif dan ilustrasi tentang Abraham dan seorang pendidik. Akan tetapi dalam pasal 4, Paulus mengemukakan Injil Kristus yang dikiaskan.

Paulus mengatakan, “Abraham mempunyai 2 orang anak, Ismael dan Ishak”. Itu adalah sejarah sekaligus kiasan. Di sinilah kita mendapatkan prinsip penafsiran Alkitab. Anda bisa membaca sesuatu dalam Alkitab yang bersifat sejarah, yang benar-benar terjadi, bukan mitos, namun sekaligus juga merupakan kiasan. “Sebuah kiasan maksudnya adalah sebuah kisah di mana orang, tempat dan benda mempunyai makna lain yang biasanya dimaksudkan sebagai pengajaran moral”. Kalau kita mempelajari Perjanjian Lama, kita akan melihat banyak kiasan. Kita juga akan melihat banyak kiasan dalam Kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab. Kita telah melihat banyak kiasan dalam Injil Yohanes karena Yohanes menulis dalam bahasa isyarat, yang merupakan bahasa kiasan.

Di sini Paulus mengatakan, “Abraham mempunyai dua orang anak”. Itu sejarah. Kalau Anda memperhatikan negara Israel dalam berita sekarang ini, Anda bisa membuktikan fakta bahwa pernyataan Paulus tersebut memang sejarah sebab memang ada dua tipe orang di sana sekarang ini – orang Arab dan orang Yahudi. Seandainya Abraham tidak mendengarkan isterinya, Sara, tidak akan terjadi krisis Timur Tengah sekarang ini. Akan tetapi, Abraham mendengarkan isterinya dan menjadi bapa seorang anak lewat pembantu Sara yang orang Mesir itu, Hagar. Anak itu, yaitu Ismael, menjadi bapa dari segala bangsa Arab yang menjadi umat Muslim. Mereka menganggap diri mereka keturunan Ismael.

Akan tetapi, menurut Paulus, hal itu juga kiasan. Anak pertama itu, yaitu Ismael, adalah gambaran dari daging, karya daging, atau “sifat manusia tanpa pertolongan dari Allah”. Allah memang sudah memberitahu Abraham bahwa Ia akan memberi Abraham seorang anak, dan Abraham berusaha menolong Allah, sebab Abraham sudah lama menantikan anak itu. Abraham mengemukakan beberapa rencana kepada Allah yang tidak akan melibatkan Sara dalam mujizat itu. Abraham menyarankan kepada Allah agar Lot menjadi ahli waris yang Allah janjikan kepadanya, atau dalam Kejadian 15, Abraham menyarankan agar hambanya yang paling setia menjadi ahli warisnya. Lalu tentunya, Abraham benar-benar mencoba menolong Allah dalam Kejadian 16, ketika ia menjadi bapa bagi Ismael lewat Hagar, pembantu Sara yang dari Mesir itu.

Mendapatkan seorang anak lewat Hagar sudah merupakan hal yang diterima pada zaman itu. Dengan konteks sejarah itu, yang dilakukan Abraham tidaklah dianggap tidak bermoral. Poin yang Paulus mau tekankan adalah bahwa melahirkan Ismael itu merupakan rencana Abraham dan bukan rencana Allah. Abraham berusaha menjadikan mujizat itu terjadi dengan upayanya sendiri tanpa pertolongan dari Allah. Kisah tentang Hagar dan Ismael adalah kiasan tentang daging. Yang Paulus maksudkan dengan daging adalah begini: Ketika Anda melakukan urusan Anda sendiri dan meminta berkat Allah atas rencana Anda sendiri, Paulus menyebutnya sebagai “karya daging”. Ketika Anda memberitahu Allah apa yang seharusnya dilakukan, Anda sama dengan merencanakan karya daging. Anda bukannya berdoa, melainkan menyuruh Allah. Mungkin Anda mendengar orang mengatakan, “Saya mengklaim janji Allah”, padahal mereka hanya menyuruh Allah. Mereka mencoba mengatakan kepada Allah, “Sembuhkanlah orang itu, dan lakukan ini dan itu, sebab aku mengklaim janji-Mu.” Aku mengklaim janji-Mu berarti, “Lakukanlah itu, dan setelahnya, kembalilah kepadaku sebab aku akan menyuruh-Mu melakukan yang lain.” Paulus mengatakan bahwa itu adalah karya daging. Itu bukan karya Allah dan bukan hasil doa. Doa artinya melapor untuk mendapatkan tugas. Doa artinya muncul dengan kertas kosong dan menyediakan diri Anda untuk disuruh oleh Allah.

Paulus menjelaskan bahwa sebagai orang percaya, kita mempunyai dua kekuatan besar yang bekerja dalam kehidupan kita: yaitu daging dan Roh. Daging dan Roh ini saling bertentangan. Ketika Anda menerima Roh Kudus, Anda bukannya menghilang. 3 kali Paulus mengatakan dalam Galatia 2:20: “Aku hidup.” Paulus sama sekali tidak mengatakan bahwa dirinya tidak lagi hidup. Paulus mengatakan, “Aku hidup karena Kristus hidup di dalam aku. Selain diriku sendiri, ada Seseorang yang hidup dalam kehidupanku.” Paulus mengatakan, “Aku hidup oleh iman kepada Anak Allah …” Lalu Paulus mengatakan, “Aku hidup karena aku disalibkan dengan Kristus.” Ketika Anda menerima Kristus ke dalam kehidupan Anda, Anda mempunyai pilihan. Anda bisa melakukan apa yang Kristus suruh Anda lakukan, atau Anda bisa memberitahu Kristus untuk hidup di lantai bawah tanah saja dari kehidupan Anda dan jangan ikut campur sementara Anda melakukan urusan Anda. Paulus mengatakan bahwa itulah daging, yang menghasilkan karya daging.

Paulus mengatakan bahwa kedua anak Abraham itu adalah kiasan. Kisah tentang lahirnya Ismael lewat Hagar adalah kiasan tentang daging, sedangkan kisah tentang lahirnya Ishak lewat Sara adalah kiasan tentang Roh sebab hanya Allah saja yang dapat membuatnya terjadi. Kita diberitahu: “Abraham dan Sara sudah lanjut usianya, dan Sara telah melewati usia melahirkan.” Kelahiran Ishak adalah suatu mujizat. Ketika Allah menampakkan diri kepada Abraham dan meyakinkan Abraham bahwa Sara akan melahirkan, Abraham tersungkur dan tertawa. Ia tidak percaya bahwa Allah akan melibatkan Sara dalam mujizat besarnya itu.

Masih ingatkah Anda akan duri dalam dagingnya Paulus? Paulus menjelaskan bahwa Allah memberinya duri dalam daging karena Allah tidak mau Paulus hidup dengan kekuatannya sendiri dan melakukan urusannya sendiri. Hal itu hanya akan menghasilkan karya daging. Allah membiarkan Paulus demikian lemah sehingga Paulus sepenuhnya bergantung kepada Allah dan percaya kepada-Nya. Ketika Paulus sepenuhnya bergantung kepada Allah dan percaya kepada-Nya untuk melakukan sesuatu yang hanya Allah yang bisa melakukannya, hal itu menghasilkan buah Roh dalam kehidupan dan pelayanan Paulus. Demikianlah inti dan rangkuman dari apa yang Paulus jelaskan dalam Galatia 4.

Dalam pasal 5, Paulus mengkontraskan karya daging dengan buah Roh. Dalam pasal 4, Paulus mengkiaskan karya daging dan buah Roh dan mengemukakan Injil Kristus yang dikiaskan. Paulus menjelaskan bahwa Abraham mempunyai dua orang anak. Kisah tentang anak pertamanya adalah kiasan tentang daging, namun kisah tentang anak keduanya adalah kiasan tentang Roh. Paulus menjelaskan kepada jemaat di Galatia maupun kepada kita sekarang ini, bahwa kita diselamatkan bukan oleh upaya kita sendiri. Pencapaian kita, prestasi kita, tidaklah menyelamatkan kita. Kita harus diselamatkan sebab benar-benar tidak ada cara untuk dapat menyelamatkan diri kita sendiri. Itulah sebabnya Allah harus menyelamatkan kita melalui Yesus Kristus. Roh Kudus telah memberi kita pengalaman pertobatan dan karunia iman agar kita bisa percaya dan menerima keselamatan dari Allah. Itulah inti dari pesan tentang Injil Kristus yang mutlak, yang dikemukakan dan dibela dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia.

Sebagai penutup, cobalah Anda jujur terhadap diri Anda sendiri. Apakah Anda berpikir bahwa Anda bisa cukup baik atau mematuhi serangkaian aturan untuk diselamatkan atau tetap diselamatkan? Paulus mengatakan bahwa semuanya itu keliru, bahwa semuanya itu adalah dari daging. Anda harus dilahirkan oleh Roh. Allah harus melakukannya dalam kehidupan kita. Sudahkah Allah menyelamatkan Anda dengan cara-Nya yang ajaib? Kalau belum, mintalah kepada Allah sekarang juga bahwa Anda mau agar Ia menyelamatkan Anda dari kuasa dosa dan maut. Lalu silakan menulis surat kepada kami, sebab kami mempunyai literatur cuma-cuma untuk membantu Anda bertumbuh dalam kehidupan baru Anda di dalam Kristus.