| |
Pesan - pesan Terakhir Salomo (2)
Studi kita telah mengantarkan kita ke Kitab Pengkhotbah yang mendalam. Selamat datang di satu lagi program Sekolah Alkitab Mini. Studi ini adalah studi tentang keseluruhan Alkitab. Dalam studi terakhir, kita telah mempelajari beberapa pernyataan Salomo dalam Kitab Pengkhotbah ketika ia mempertanyakan dan meragukan Allah. Saya telah mengemukakan bahwa dalam Kitab Pengkhotbah yang sama, Salomo membuat pernyataan-pernyataan yang mendalam dan yang memberi inspirasi di saat ia tidak meragukan Allah, serta memberikan kita mutiara hikmat yang penuh inspirasi seperti dalam Kitab Amsal. Sekarang saya ingin membahas beberapa bagian Firman yang mendalam dalam Kitab Pengkhotbah.
|
Dalam Pengkhotbah 3 dikatakan: “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya. Ada waktu untuk lahir, ada waktu untuk meninggal, ada waktu untuk menanam, ada waktu untuk mencabut yang ditanam; ada waktu untuk membunuh, ada waktu untuk menyembuhkan …”
Bacaan Firman yang sangat indah ini mengajarkan bahwa Allah mempunyai waktu untuk segalanya. Bacaan Firman ini serupa dengan ungkapan dalam Mazmur 1: yaitu “yang berbuah pada waktunya,” atau karya Allah dalam kehidupan seseorang, pada waktu menurut Allah sendiri. Bacaan dalam Pengkhotbah 3 ini juga mengajarkan bahwa persoalannya bukanlah tentang hal ini atau hal itu, melainkan hal ini sekaligus hal itu. Orang sering bertanya, “Apakah hal ini atau hal itu?” Jawabannya seringkali adalah “Bukan hal ini dan juga bukan hal itu, melainkan hal ini sekaligus hal itu.” Menurut saya, itulah yang Salomo ajarkan dalam Pengkhotbah 3:1-8.
|
Dalam Pengkhotbah 3:10-11 Salomo menulis: “… bahkan Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka …” Sungguh pemikiran yang indah. Itulah sebabnya maka manusia mengajukan banyak pertanyaan, seperti halnya Ayub bertanya, “Kalau manusia mati, dapatkah ia hidup lagi?”
Salomo bersikap agak sinis saat ia menulis: “Aku melihat lagi kesia-siaan di bawah matahari: ada seorang sendirian, ia tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki, dan tidak henti-hentinya ia berlelah-lelah, matanya pun tidak puas dengan kekayaan; - untuk siapa aku berlelah-lelah dan menolak kesenangan? – Ini pun kesia-siaan dan hal yang menyusahkan.”
Sungguh menarik. Salomo sedang menggambarkan seorang pecandu kerja yang anak-anaknya telah dewasa, namun tetap bekerja 18 hingga 20 jam sehari, menghasilkan uang lebih banyak, padahal baik keluarganya maupun dirinya sendiri tidak membutuhkan lebih banyak uang. Kalau Anda bertanya kepada pecandu kerja seperti itu tentang jadwal kerjanya, mereka akan menjawab, “Saya harus menunjang keluarga; saya harus memberikan nafkah kepada keluarga saya.” Padahal dalam hati mereka yang terdalam, mereka sudah mengetahui bahwa menunjang keluarga bukanlah satu-satunya alasan mereka bekerja sekeras itu. Mereka bekerja karena banyak alasan lainnya. Jelas bahwa ketika seorang pecandu kerja tidak harus menunjang siapa pun namun masih juga bekerja seolah-olah keluarganya kelaparan, jelas ada hal-hal lain yang mendorong kecanduan kerjanya. Penjelasan sang pecandu kerja atas perilakunya adalah penjelasan yang tidak didasarkan kepada fakta.
Dalam Kejadian 3, ketika Allah mendekati manusia, Allah bertanya, “Di manakah engkau?” Sang manusia menjawab, “Aku sedang bersembunyi.” Ketika kita mempelajari Kejadian 3, saya telah mengatakan bahwa jawaban manusia kepada Allah itu menggambarkan sifat manusia sebagaimana dulunya dan sebagaimana sekarang ini. Manusia bersembunyi dengan berbagai cara. Mereka makan terlalu banyak, mereka tidur terlalu banyak, mereka bermain terlalu banyak, mereka bekerja terlalu banyak. Bekerja terlalu banyak bisa menjadi bentuk persembunyian dari Allah. Menurut saya itulah yang dipersoalkan oleh Salomo dalam bacaan ini.
Sementara kita melanjutkan studi tentang Kitab Pengkhotbah, saya ingin mengomentari lebih banyak bagian Firman dimana Salomo membagikan hikmat yang penuh inspirasi seperti yang ia bagikan dalam Kitab Amsal.
Dalam Pengkhotbah 4, Salomo memberikan pemahaman yang indah tentang pernikahan: “Berdua lebih baik daripada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya! Juga kalau orang tidur berdua, mereka menjadi panas, tetapi bagaimana seorang saja dapat menjadi panas? Dan bilamana seorang dapat dialahkan, dua orang akan dapat bertahan. Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.”
Salomo memberikan kiasan pernikahan dalam perkataan ini: “Tali tiga lembar tak mudah diputuskan.” Para arsitek dan orang bangunan akan mengatakan bahwa tali tiga lembar itu sangatlah kuat. Jelas bahwa Salomo sedang membayangkan hubungan pernikahan disini sebab, ketika Allah merancang hubungan pernikahan, Allah menghendaki manusia menjalin hubungan yang lebih daripada hubungan binatang. Ketika binatang berhubungan dan berprokreasi, mereka tidak mungkin menjadi sepikiran dan satu roh. Ketika Allah merancangkan hubungan pernikahan antara seorang pria dengan seorang wanita, Allah menghendaki mereka menjadi satu dalam roh. Kesatuan spiritual itulah lembar pertama dari tali tiga lembar itu.
Lalu Allah merencanakan agar sang pria dan sang wanita menjadi satu dalam pikiran serta menjalin komunikasi dan terikat secara emosional maupun intelektual. Itulah lembar kedua. Dan saya percaya bahwa lembar ketiganya ialah Allah merancangkan kesatuan fisik mereka sebagai ekspresi dari ikatan roh dan pikiran yang lebih dalam. Penerapan tali tiga lembar dalam pernikahan Anda adalah seperti ini: Pernikahan Anda itu ibarat tali tiga lembar dalam arti bahwa Anda menjalin ikatan spiritual, ikatan intelektual, dan ekspresi fisik dari kedua ikatan pertama. Ketika hubungan fisik terputus karena penyakit atau karena usia, Anda masih mempunyai ikatan spiritual dan ikatan intelektual, yang merupakan ikatan terbaik, terpenting serta yang paling langgeng dalam pernikahan.
Masalah yang terdapat dalam banyak pernikahan sekarang ini adalah bahwa ikatannya hanyalah ikatan fisik. Ketika sesuatu seperti penyakit terjadi pada ikatan fisik, atau ketika daya tarik fisik tidak lagi sekuat sebelumnya, tidak ada lagi yang mempertahankan kesatuan di antara kedua individu tersebut. Allah merencanakan agar kita bersatu dalam pernikahan. Allah juga merancangkan agar kita menjalin hubungan fisik dalam pernikahan, melalui mana kita dengan penuh sukacita mengekspresikan dimensi atau komunikasi spiritual dan intelektual dari pernikahan kita.
Para penasihat pernikahan mengatakan bahwa dimensi fisik dari pernikahan yang baik hanyalah kira-kira 10 persen dari hubungan itu sendiri. Akan tetapi ketika ada masalah dalam dimensi fisik dari suatu pernikahan, seks bisa menjadi 90 persen dari masalahnya. Seks dirancang untuk menjadi ekspresi penuh sukacita, dimana ikatan kesatuan dan komunikasi yang lebih mendalam diekspresikan. “Tali tiga lembar tak mudah diputuskan”. Salomo sedang mengajarkan suatu pemahaman yang mendalam tentang pernikahan saat ia memberikan kiasan pernikahan yang indah ini, yang mendemonstrasikan bagaimana dimensi spiritual dan intelektual dari suatu pernikahan itu seharusnya diekspresikan dengan penuh sukacita dalam hubungan fisik yang baik.
Salomo juga memberi kita pengajaran yang baik dalam Pengkhotbah 7, yang mirip seperti miniatur Kitab Ayub: “Pergi ke rumah duka lebih baik daripada pergi ke rumah pesta, karena di rumah dukalah kesudahan setiap manusia; hendaknya orang yang hidup memperhatikannya. Bersedih lebih baik daripada tertawa, karena muka muram membuat hati lega. Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria … Pada hari mujur bergembiralah, tetapi pada hari malang ingatlah, bahwa hari malang ini pun dijadikan Allah seperti juga hari mujur …”
Dalam bacaan Firman ini, Salomo mengajarkan sesuatu yang diketahui setiap pendeta. Ada saatnya ketika seorang pendeta benar-benar diperhatikan oleh jemaatnya. Orang benar-benar mendengarkan pendeta pada saat pemakaman. Pada saat pemakaman, sistem nilai hidup jemaat seringkali selaras dengan sistem nilai Allah. Pada saat pemakaman, orang merenungkan tentang kekekalan. Pada saat pemakaman, orang merenungkan tentang realita kekekalan dan mereka menyadari bahwa kekekalan merupakan dimensi kehidupan yang terpenting. Orang merenungkan semuanya itu pada saat pemakaman sebab banyak orang yang mengidentifikasikan dirinya dengan kejadian yang dialami orang yang meninggal itu. Mereka tahu bahwa suatu hari kelak maut pun akan terjadi pada mereka. Tidak ada keraguan tentang fakta bahwa setiap orang akan meninggal. Faktor yang berbeda hanyalah kapan, di mana, bagaimana, dan karena apa, namun kita semua akan meninggal. Kita menyadari hal itu ketika kita menghadiri suatu pemakaman.
Allah berkepentingan agar nilai-nilai hidup kita selaras dengan nilai-nilai-Nya. Itulah sebabnya maka melalui Salomo, Allah mengatakan bahwa lebih baik pergi ke rumah duka daripada ke rumah pesta. Anda lebih mengalami pertumbuhan rohani di rumah duka daripada di rumah pesta. Oleh karenanya, orang yang bijaksana banyak merenungkan tentang maut. Bukan berarti ia cenderung tertarik kepada hal-hal yang berbau maut atau ingin mati. Pada saat pemakaman, orang yang bijaksana lebih menyadari kefanaannya dan terpaksa menerima realita bahwa ia tidak akan hidup selamanya, dan oleh karenanya dengan bijaksana ia mempersiapkan dirinya untuk kekekalan.
Dalam pasal yang luar biasa ini kita pun diberikan nasihat baik berikut: “Janganlah mengatakan: ‘Mengapa zaman dulu lebih baik daripada zaman sekarang?’ Karena bukannya berdasarkan hikmat engkau menanyakan hal itu.” Tampaknya kita semua rentan terhadap nostalgia yang membuat kita berkhayal. Ketika kita menengok ke belakang dan membayangkan orangtua kita yang sudah tiada, kita cenderung mengenang kebaikan mereka, bahkan bisa sampai menjadikan mereka lebih baik daripada yang sesungguhnya. Kita tidak mengenang kesalahan-kesalahan mereka. Kita berkhayal tentang masa lalu pribadi kita. Kita mengenang dan seringkali mengingat-ingat “zaman dulu yang baik.” Padahal, kita tahu bahwa kalau kita benar-benar realistis mengenangnya, “zaman dulu yang baik” itu juga tidak selalu baik.
Mungkin saja kita menengok ke belakang dengan bernostalgia lalu berkhayal karena jika kita menengok ke belakang secara realistis, hal itu terlalu menyakitkan. Dalam Filipi 3, Rasul Paulus mengajarkan bahwa adalah hal yang bijaksana bila sewaktu-waktu kita mengimplementasikan prinsip berikut: “Melupakan apa yang di belakang.” Ada saatnya ketika sebagian besar dari kita harus belajar untuk melupakan hal-hal yang sudah lewat.
Salomo juga mengajarkan dalam pasal ini: “Janganlah terlalu saleh, janganlah perilakumu terlalu berhikmat.” Itu bukanlah nasihat yang kita harapkan dari seorang pemimpin rohani. Menurut saya, Salomo sedang memperingatkan kita untuk tidak menjadi orang Farisi. Kalau Anda sampai menganggap diri Anda benar, maka mungkin Anda akan memandang rendah terhadap orang lain. Salomo tidak menginginkan kita menjadi seperti orang Farisi yang mengatakan, “Terima kasih Tuhan bahwa aku tidak seperti orang lain.” Kalau Anda memberikan kesan kepada anak-anak Anda bahwa Anda benar, maka Anda akan menjadi model yang tidak realistis sebab Anda menjadi model yang tidak mungkin ditiru mereka. Jadi, janganlah mengambil sikap bahwa Anda paling benar, sebab demikianlah Salomo mengajarkan, “Sesungguhnya, di bumi tidak ada orang yang saleh: yang berbuat baik dan tak pernah berbuat dosa!” Oleh karenanya, untuk apa Anda memberikan kesan kepada orang-orang, terutama kepada anak-anak sendiri, bahwa Anda lebih baik daripada yang sesungguhnya? Lepaskanlah topeng Anda, jangan lagi menjadi orang yang munafik, jadilah diri sendiri apa adanya.
Ada bacaan yang sangat dikenal dalam pasal 9 dimana Salomo menulis: “Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat, dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua.”
Karena saya percaya kepada pemeliharaan Allah, saya tidak percaya kepada kebetulan. Menurut saya, Salomo sedang memberikan pemahaman yang bijaksana yang mengilustrasikan kata “kasih karunia” atau “karisma” menurut Alkitab. Kaum Humanisme mengatakan, “Siapa saya menuntun kepada apa yang saya sanggupi. Anda bisa melakukannya. Anda mempunyai kemampuan untuk melakukannya.” Sedangkan Alkitab secara konsisten mengajarkan, “Siapa Dia menuntun kepada apa yang engkau sanggupi.” Anda sanggup karena Allah adalah Dia adanya dan karena Allah sanggup dan karena Allah hidup di dalam Anda dan menyertai Anda. Itulah sebabnya Anda sanggup. Dalam Akitab, konsep itu digambarkan sebagai “kasih karunia Allah.” Karena persoalannya bukan semata-mata pada upaya atau prestasi diri, masuk akallah bahwa orang yang paling cepat pun tidak selalu memenangkan perlombaan dan orang yang paling kuat pun tidak selalu memenangkan pertarungan.
Dalam Pengkhotbah 9, Salomo juga menggambarkan sebuah kota yang selamat berkat nasihat seorang bijak: “… ada sebuah kota yang kecil, penduduknya tidak seberapa; seorang raja yang agung menyerang, mengepungnya dan mendirikan tembok-tembok pengepungan yang besar terhadapnya; di situ terdapat seorang miskin yang berhikmat, dengan hikmatnya ia menyelamatkan kota itu, tetapi tak ada orang yang mengingat orang yang miskin itu.”
Salomo menganggapnya sangat tidak adil bahwa si orang miskin itu tidak pernah diakui atau diberikan imbalan. Kebenaran yang muncul dari bacaan ini adalah kira-kira begini: Lebih penting untuk menyelesaikan sebuah tugas daripada diakui berjasa karena telah menyelesaikan tugas tersebut. F.B. Meyer, seorang pendeta Inggris yang sungguh hidup dalam Tuhan, mengatakan bahwa ia pernah menghadapi kemelut dalam kehidupan dan pelayanannya. Ketika ditanya, kemelut apa itu, ia menjawab, “Katakanlah begini. Sebelum kemelut itu terjadi, saya adalah seseorang yang ingin melihat Kristus hadir di London melalui seorang F.B. Meyer. Namun setelah kemelut itu, saya adalah seseorang yang hanya ingin melihat agar Kristus hadir di London.” Sungguh besar perbedaannya. Menurut saya ituah kebenaran yang Salomo tekankan dalam bacaan Firman yang singkat ini.
Dalam pasal 10 Salomo menulis: “Jika besi menjadi tumpul dan tidak diasah, maka orang harus memperbesar tenaga, tetapi yang terpenting untuk berhasil adalah hikmat.” Sebagian orang menjalani kehidupannya dengan terus bekerja memakai besi yang tumpul. Ayat ini mengingatkan saya akan lirik sebuah kidung: “Sungguh Yesus adalah Sahabat yang Luar Biasa. Sungguh sia-sia kepedihan yang kita tanggung, karena kita tidak membawa segalanya kepada Allah dalam doa.” Kita tidak pernah meluangkan waktu untuk “mengasah besi” kita. Mengenyam pendidikan yang baik pada usia dini merupakan penerapan yang baik dari kiasan ini.
Lalu Salomo menulis, “Dalam pikiran pun janganlah engkau mengutuki raja, dan dalam kamar tidur janganlah engkau mengutuki orang kaya, karena burung di udara mungkin akan menyampaikan ucapanmu…” Dari sanalah kita mendapatkan ungkapan “aku diberitahu oleh burung.” Seseorang pernah menggunakan kata-katanya sendiri untuk mengutip Pengkhotbah 10:20 ini: “Engkau adalah majikan dari kata yang tak terucapkan. Kata yang terucapkan adalah majikanmu. Oleh karenanya, janganlah menjalani kehidupan yang dikuasai oleh ucapan-ucapan yang mungkin akan engkau sesali.”
Ada suatu pemikiran indah dalam pasal 11: “Lemparkanlah rotimu ke air, maka engkau akan mendapatkannya kembali lama setelah itu … Siapa senantiasa memperhatikan angin tidak akan menabur; dan siapa senantiasa melihat awan tidak akan menuai. Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu. Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” Itulah pengajaran yang indah bagi para hamba Tuhan yang bekerja dengan anak muda. Kalau Anda adalah seorang guru Sekolah Minggu dan Anda mengajar anak muda, kalau Anda seorang pendeta bagi anak muda dan bekerja secara khusus dengan para pemuda, atau kalau Anda mempunyai anak remaja di rumah, Anda juga perlu menyadari kebenaran ini. Ketika Anda bekerja dengan anak muda, buahnya datang belakangan.
Menurut saya, hal ini secara khusus berlaku bagi para remaja. Masa remaja adalah usia yang sangat sulit bagi orang muda dan orang yang bekerja dengan mereka. Pernahkah Anda memperhatikan hal itu? Kalau Anda benar-benar menolong mereka, mereka tidak akan pernah memberi Anda kesan bahwa Anda sedang menolong mereka. Ibarat suatu konspirasi. Mereka memutuskan untuk tidak tertawa mendengar lelucon Anda, dan mereka takkan bersikap seolah-olah mereka mendengar ucapan Anda. Bukan berarti Anda tidak perlu menolong mereka. Perkataan ini secara khusus berlaku bagi mereka yang mengajar anak muda. “Lemparkanlah roti Anda ke air dan taburkanlah benih Anda. Setelah sekian lama, roti Anda akan kembali dan benih Anda akan berbuah. Anda tidak mengetahui benih mana yang akan bertumbuh dan benih mana yang takkan bertumbuh. Hal itu adalah urusan Allah. Urusan kita adalah kesetiaan. Jadi, dengan setia, taburkanlah benih Anda selalu maka Allah akan menjadikannya bertumbuh menurut kehendak-Nya.”
Pernahkah Anda melihat anak-anak muda yang tidak dapat dipercaya, namun setelah kira-kira 10 tahun, mereka muncul di seminari atau dalam pelayanan atau di ladang misi? Mungkin Anda teringat ketika mereka menjadi biang masalah dalam kelompok muda Anda atau dalam kelas Sekolah Minggu Anda. Ketika Anda mendengar bahwa sekarang mereka berada di ladang misi, Anda sulit untuk percaya! Jadi, teruslah menaburkan benih sebab Roh Kudus sanggup membuatnya berakar. Saya belum pernah berjumpa dengan seorang remaja yang kalah menjanjikan dibandingkan saya sendiri ketika masih remaja dan mungkin itulah sebabnya saya tidak pernah menyerah saat membimbing seorang remaja. Saya yakin orang yang mengajar saya di Sekolah Minggu dulu mempunyai karunia iman dan terus saja menaburkan benih mereka. Ketika saya pulang ke kota asal saya, saya bahkan tidak pernah memberitahu orang bahwa saya sudah menjadi pendeta sebab saya tidak mau menghabiskan waktu setengah jam untuk meyakinkan mereka bahwa saya tidak bercanda. Mereka tetap tidak percaya!
Kitab Pengkhotbah diakhiri dengan bacaan indah berikut: “Ingatlah akan Penciptamu pada masa mudamu, sebelum tiba hari-hari yang malang dan mendekat tahun-tahun yang kaukatakan: ‘Tak ada kesenangan bagiku di dalamnya!’” Demikianlah pesan mendasar yang sesungguhnya Salomo khotbahkan kepada para pemuda Israel. Salomo mau mengatakan bahwa, “Menikmati usia muda memang mengagumkan, silakan menikmatinya, namun ingat jugalah Penciptamu pada masa mudamu.” Lalu kita diberikan puisi yang indah. Puisi yang penuh inspirasi ini adalah penggambaran tentang usia tua ketika bagian-bagian tubuh mulai rusak. Salomo menasihatkan, “Ingatlah akan Penciptamu sebelum tiba hari-hari yang malang … pada waktu penjaga-penjaga rumah gemetar (maksudnya lengan dan tangan), dan orang-orang kuat membungkuk (maksudnya kaki), dan perempuan-perempuan penggiling berhenti karena berkurang jumlahnya (maksudnya gigi), dan yang melihat dari jendela semuanya menjadi kabur (maksudnya mata), dan pintu-pintu di tepi jalan tertutup (maksudnya telinga), dan bunyi penggilingan menjadi lemah, dan suara menjadi seperti kicauan burung (maksudnya kurang tidur dan kurang suara untuk bernyanyi) … pohon badam berbunga (maksudnya rambut beruban).”
Lalu Salomo secara lugas mengingatkan tentang kematian, “sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan.” Salomo sendiri saat itu sudah menjelang ajal karena ia sudah sangat tua ketika menyampaikan khotbah besarnya ini.
Pastilah yang berikut ini merupakan penutup khotbah yang sangat emosional: “… sebelum rantai perak diputuskan dan pelita emas dipecahkan, sebelum tempayan dihancurkan dekat mata air dan roda timba dirusakkan di atas sumur, dan debu kembali menjadi tanah seperti semula dan roh kembali kepada Allah yang mengaruniakannya.” Sungguh khotbah yang mengagumkan dari seorang raja tua kepada para pemuda Israel! Coba Anda membayangkan Salomo, raja tua ini, orang terkaya yang pernah hidup, orang paling bijaksana yang pernah hidup, orang yang paling bergembira di dunia, yang mempunyai 700 istri dan 300 selir. Coba Anda membayangkannya duduk di sana, sang Tuan Pengalaman, berkhotbah kepada para pemuda Israel, “Dengarkan! Pengalaman bukanlah satu-satunya guru, hanya saja, pengalaman adalah guru yang paling meyakinkan. Pengalaman telah meyakinkan aku, biarlah pengalamanku meyakinkanmu. Ingatlah Penciptamu pada masa mudamu. Aku mencari makna dan maksud kehidupan dalam kekayaan, ternyata tidak ada. Aku mencari makna dan maksud kehidupan dalam hikmat, ternyata tidak ada. Aku mencari makna dan maksud kehidupan dalam kesenangan, ternyata tidak ada. Izinkan aku menjelaskan di mana makna dan maksud kehidupan bisa ditemukan: Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini akan membuatmu utuh. Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya ketika engkau masih muda! Persembahkanlah kepada Allah tubuh yang hidup dan bukan suatu korban yang sudah mati.”
|
|