| |
Nabi yang Politis (II)
Selamat datang di satu lagi kelas Sekolah Alkitab Mini. Studi Alkitab kita sekarang ini adalah tentang para nabi Perjanjian Lama. Dalam sesi terakhir, kita telah memulai studi tentang nabi Mikha. Kita belajar bahwa Kitab Mikha sesungguhnya merupakan tiga khotbah yang disampaikan Mikha. Kita telah mempelajari khotbahnya yang pertama, yang dicatat dalam dua pasal pertama Kitab Mikha. Khotbah Mikha yang kedua adalah dari Mikha 3:1 sampai Mikha 5:15. Khotbah Mikha yang kedua ini juga khotbah yang luar biasa. Untuk mengerti isi khotbah ini, akan sangat membantu seandainya Anda mempunyai gelar dalam ilmu politik, sebab khotbah Mikha yang kedua ini adalah hubungannya dengan pemerintahan. Mikha sangat peduli terhadap pemerintah.
|
Mikha menujukan khotbahnya tentang pemerintahan kepada para pemimpin politik umat Allah, seperti gubernur atau walikota. Mikha juga menujukan khotbahnya kepada para pemimpin rohani, seperti para imam dan para nabi. Menurut pandangan Mikha, ada tiga tipe pemimpin dalam pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah. Yang pertama, ada pemimpin rohani, yaitu imam. Fungsi utama imam adalah mewakili dan menyampaikan kepada rakyat, kebenaran rohani yang Allah kehendaki untuk diketahui oleh umat-Nya. Para imam adalah guru yang seharusnya mengajari rakyat tentang hal-hal rohani, menjawab pertanyaan mereka dan tentunya menjadi teladan dari segala yang mereka ajarkan. |
Peran nabi adalah menjadi pemimpin moral rakyat. Peran nabi adalah untuk menasihati para imam agar mengajarkan Firman Allah dan menasihati rakyat untuk mentaati Firman Allah. Hal ini memang benar, khususnya ketika para imamnya tidak berlaku benar dan rakyatnya tidak bermoral. Oleh karenanya, Mikha menganggap para nabi juga bertanggung jawab atas kemerosotan moral bangsa.
Pemimpin tipe ketiga dalam pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah, menurut Mikha, adalah pemimpin sipil yang tanggung jawabnya adalah menegakkan hukum Allah yang diajarkan oleh para imam dan dikhotbahkan oleh para nabi. Kita masih mempunyai pemimpin sipil penegak hukum ini dalam kebudayaan kita sekarang ini. Para pendeta mengkhotbahkan Hukum Allah, sedangkan para penegak hukum, yang kita sebut petugas berlencana ini, merupakan orang yang ditunjuk oleh Allah untuk memastikan agar hukum-hukum Allah yang dikhotbahkan oleh para pendeta, dapat ditegakkan.
Dalam Roma 13, Rasul Paulus mengajarkan bahwa para penegak hukum ini merupakan pelayan Allah juga, seperti halnya pendeta di mimbar. Tiga kali Paulus mengajarkan bahwa penegak hukum ini juga pelayan Allah. Kita diajarkan untuk mematuhi para penegak hukum sebab ia menyandang pedang bukan tanpa maksud, dan kalau Anda melanggar hukum dan ia menggunakan pedangnya terhadap Anda, yang sekarang berwujud pistol otomatis berkaliber sembilan millimeter, maka ia sedang melayani Allah ketika ia menarik pelatuk pistolnya.
Alkitab sangat mementingkan pemerintahan, mengajarkan bahwa pemerintahan berasal dari Allah dan ditunjuk oleh Allah. Mikha mengemukakan tiga tingkatan pemerintahan. Ada pemimpin rohani, yaitu sang imam, yang mengajar dan yang seharusnya hidup sebagai teladan dari hal-hal rohani yang Allah kehendaki untuk diketahui rakyat-Nya, dan yang menjadi perantara kepada Allah bagi rakyat-Nya. Lalu ada nabi, yang berkhotbah dan menasihati rakyat untuk mematuhi hal-hal yang diajarkan imam kepada mereka. Lalu ada pemimpin sipil yang seharusnya menegakkan hukum Allah yang disampaikan, baik melalui imam maupun nabi.
“Baiklah dengar, hai para kepala di Yakub, dan hai para pemimpin kaum Israel! Bukankah selayaknya kamu mengetahui keadilan, hai kamu yang membenci kebaikan dan yang mencintai kejahatan? Mereka merobek kulit dari tubuh bangsaku dan daging dari tulang-tulangnya; mereka memakan daging bangsaku dan mengupas kulit dari tubuhnya; mereka meremukkan tulang-tulangnya, dan mencincangnya seperti daging dalam kuali, seperti potongan-potongan daging di dalam belanga. Mereka sendirilah nanti akan berseru-seru kepada Tuhan, tetapi Ia tidak akan menjawab mereka; Ia akan menyembunyikan wajah-Nya terhadap mereka pada waktu itu, sebab jahat perbuatan-perbuatan mereka. Beginilah firman Tuhan terhadap para nabi, yang menyesatkan bangsaku, yang apabila mereka mendapat sesuatu untuk dikunyah, maka mereka menyerukan damai, tetapi terhadap orang yang tidak memberi sesuatu ke dalam mulut mereka, maka mereka menyatakan perang. Sebab itu hari akan menjadi malam bagimu tanpa penglihatan, dan menjadi gelap bagimu tanpa tenungan. Matahari akan terbenam bagi para nabi itu, dan hari menjadi hitam suram bagi mereka. Para pelihat akan mendapat malu dan tukang-tukang tenung akan tersipu-sipu; mereka sekalian akan menutupi mukanya, sebab tidak ada jawab daripada Allah. Tetapi aku ini penuh dengan kekuatan, dengan Roh Tuhan, dengan keadilan dan keperkasaan, untuk memberitakan kepada Yakub pelanggarannya dan kepada Israel dosanya. Baiklah dengarkan ini, hai para kepala kaum Yakub, dan para pemimpin kaum Israel! Hai kamu yang muak terhadap keadilan dan yang membengkokkan segala yang lurus, hai kamu yang mendirikan Sion dengan darah dan Yerusalem dengan kelaliman! Para kepalanya memutuskan hukum karena suap, dan para imamnya memberi pengajaran karena bayaran, para nabinya menenung karena uang, padahal mereka bersandar kepada Tuhan dengan berkata: “Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” Sebab itu oleh karena kamu maka Sion akan dibajak seperti ladang, dan Yerusalem akan menjadi timbunan puing, dan gunung Bait Suci akan menjadi bukit yang berhutan.”
Saat Anda mempelajari khotbah Mikha yang kedua ini, jelas bahwa Mikha menegur para pemimpin sipil, raja atau penguasa, karena mereka memutuskan hukum karena disuap. Terjadi suap, seperti yang sangat umum di banyak pemerintahan.
Ketika saya berkunjung ke Filipina, saya kehilangan tas saya. Paspor saya ada dalam tas tersebut. Kalau Anda kehilangan paspor ketika sedang menempuh perjalanan, Anda akan repot setengah mati. Misionari yang saya kunjungi mengatakan bahwa satu-satunya hal yang bisa saya harapkan untuk dikembalikan adalah paspor saya. Mereka mengatakan bahwa saya akan sangat beruntung seandainya mendapatkan kembali paspor saya, sebab bukan rahasia lagi bahwa seandainya polisi menemukan sebuah tas, maka Anda tidak akan mendapatkan kembali uang yang ada di dalamnya, Anda tidak akan mendapatkan kembali alat perekam kaset atau benda-benda lain di dalamnya. Apa yang ada di dalam tas Anda menjadi komisi bagi mereka karena telah menemukannya. Demikanlah cara hidup di sana. Jadi, jangan berharap mendapatkan kembali apa pun milik Anda selain paspor. Anda sudah beruntung seandainya Anda mendapatkan kembali paspor Anda.
Di banyak tempat di dunia, banyak para pemimpin sipil yang korup dan menerima suap. Mikha menuduh para pemimpin sipilnya korup seperti itu. Menurut Mikha, mereka memutuskan hukum karena disuap. Mereka menerima uang di bawah meja.
Selanjutnya, Mikha menegur para pemimpin rohani, yaitu para imam, sebab mereka memberi pengajaran karena bayaran. Dengan kata lain, mereka bukan terpanggil oleh Allah untuk menjadi imam. Mereka hanyalah imam profesional. Mikha mengingatkan mereka bahwa keimaman seharusnya bukan menjadi profesi; keimaman adalah suatu panggilan. Para imam dilahirkan menjadi imam karena mereka adalah keturunan Lewi dan Harun. Akan tetapi, dalam Ibrani 5, kita membaca bahwa setiap imam juga harus terpanggil oleh Allah.
Saya pernah mendengar seorang pendeta gereja besar mengatakan, “Anda tidak akan sanggup membayar saya $500.000 setahun untuk menjadi pendeta gereja ini, namun karena Allah yang memanggil saya, saya bersedia menjadi pendeta gereja ini tanpa bayaran.” Itulah seharusnya yang kita harapkan dari perasaan seseorang yang terpanggil tentang misinya dalam hidup. Bagaimana mungkin Anda memberikan kompensasi bagi seorang pendeta atas segala tekanan dan tuntutan sebuah gereja besar? Hal itu tidak mungkin bisa. Jika sang pendeta adalah seorang yang hidup dalam Tuhan, ia tidak memikirkan soal pemberian kompensasi atas segala yang dilakukannya, sebab ia terpanggil untuk melakukan segalanya itu. Jemaat gereja tersebut akan memenuhi kebutuhannya sehingga ia dapat dengan bebas memenuhi panggilannya. Pendeta yang terpanggil tidaklah berpikir mencari keuntungan. Ia tidak membandingkan diri dengan orang dalam profesi lainnya dan berapa penghasilan mereka dibandingkan dengan penghasilannya. Ketika para imam murtad, mereka mengajar demi bayaran dan menjadi profesional, sama seperti para profesional lainnya. Mikha sangat kecewa tentang sekulerisasi keimaman itu.
Lalu Mikha menegur para pemimpin moral, yaitu para nabi, karena mereka melakukan tenung demi uang. Dengan perkataan tersebut, Mikha sangat keras menuduh para nabi itu. Ketika Mikha menuduh para pemimpin sipil memutuskan hukum karena suap, yang ia maksudkan adalah bahwa mereka menerima uang di bawah meja dan bahwa mereka memutuskan hukum demi maksud tersebut. Mikha menuduh mereka menggunakan posisi mereka demi tujuan tersebut. Ketika Mikha menuduh para pemimpin rohani mengajar demi bayaran, yang ia maksudkan adalah bahwa mereka mengubah keimaman menjadi suatu profesi sekuler atau bahwa mereka melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan namun mereka melakukannya karena alasan yang keliru. Akan tetapi, ketika Mikha menegur para nabi, ia benar-benar menegur mereka dengan keras. Mikha bukan menuduh para nabi itu berkhotbah demi uang, atau bahwa mereka bernubuat demi uang. Mikha menuduh mereka melakukan tenung demi uang, yang sama saja dengan menuduh para nabi itu sebagai tukang tenung. Mikha menuduh para nabi itu sebagai tukang sihir dan orang yang mempraktikkan ilmu hitam. Yeremia juga menuduh para nabi demikian. Yeremia berkhotbah, “Biarlah nabi yang bermimpi menyampaikan mimpinya. Dan biarlah nabi yang ingin menyampaikan Firman Allah, mengkhotbahkan Firman Allah.” Mikha dan Yeremia sangat kecewa karena sebagian nabi itu mengkhotbahkan impian dan visi pribadi mereka sendiri.
Coba Anda membayangkan umat Allah di tempat ibadah mereka. Seperti layaknya domba, mereka menanti diberi makan Firman Allah, namun ternyata mereka tidak diberi makan Firman Allah, padahal mereka duduk di meja Bapa, mereka duduk di dalam rumah Allah, di mana mereka berhak mengharapkan untuk mendengar Firman Allah. Itulah yang menjadi beban Mikha.
Karena para imam mengajar demi bayaran dan para nabi melakukan tenung demi uang, maka umat Allah tidak mendengar Firman Allah. Pada akhirnya, pemerintahannya hancur karena kegagalan para pemimpin rohani. Yesaya dan Mikha ada di zaman yang sama dan ada banyak kesamaan dalam khotbah mereka. Nabi-nabi besar ini sama-sama sangat prihatin terhadap pemerintahan. Yesaya menekankan takhta Allah dan fakta bahwa Allah memerintah dunia dari takhta-Nya. Penekanan Yesaya dapat ditemukan di seluruh Alkitab. Coba Anda merenungkan pengalaman Nebukadnezar. Nebukadnezar diberitahu bahwa ia akan menjadi gila selama tujuh tahun sampai ia tahu bahwa Yang Mahatinggi-lah yang berkuasa dan memberikan pemerintahan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya. Itulah kebenaran yang hendak Allah sampaikan kepada Nebukadnezar. Yesaya memahami kebenaran tersebut. Yesaya tahu bahwa Allah memberikan pemerintahan kepada siapa pun yang dikehendaki-Nya.
Mikha juga mempunyai beban seperti itu, namun Mikha menekankan fakta bahwa Allah mendelegasikan fungsi pemerintahan kepada manusia. Apabila pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah mau berjalan dengan baik, maka setiap orang, yang kepada siapa tanggung jawab pemerintahan diberikan, harus berdamai dengan Allah. Akan tetapi kalau mereka yang bertanggung jawab atas pemerintahan itu korup, maka keseluruhan rencana Allah untuk pemerintahan tersebut menjadi gagal.
Saat Anda mempelajari khotbah Mikha yang kedua ini, ketahuilah bahwa yang sesungguhnya Mikha sesalkan adalah: ketika para pemimpin sipil itu menerima uang di bawah meja, rakyat menjadi kecewa, ketika para imam mengajar demi bayaran, rakyat menjadi murtad. Rakyat kehilangan perspektif rohani mereka dan kehidupan rohani pribadi mereka sendiri kehilangan vitalitas. Seperti yang dikatakan oleh Hosea, “Ketika imamnya demikian, rakyatnya pun demikian.” Teguran Mikha yang paling keras adalah bahwa kalau sang nabi tidak mengkhotbahkan Firman Allah dan menasihatkan rakyat untuk mengamalkan Firman Allah, maka rakyat menjadi bejat secara moral dan keseluruhan sistem pemerintahannya akan hancur.
Inti dari khotbah Mikha yang kedua ini ditujukan kepada para pemimpin pemerintahan. Mikha berkhotbah tentang pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah. Jika Anda benar-benar mempelajari khotbah Mikha yang kedua ini, Anda mungkin bisa menjadi politikus. Banyak orang percaya mengatakan, “Saya tidak punya urusan dengan dunia politik. Saya menjauhkan diri dari politik,” dimana seolah-olah seorang Kristen seharusnya sama sekali tidak memikirkan tentang politik dan pemerintahan. Seandainya Anda benar-benar memahami khotbah Mikha yang kedua ini, maka Mikha akan menegur Anda karena berpikir demikian. Mikha akan memberitahu Anda bahwa Allah lah yang menetapkan pemerintahan dan Allah berkarya melalui pemerintahan. Menurut Mikha, Allah menajdi sangat prihatin ketika ketiga tingkatan pemerintahan tersebut tidak berfungsi sebagaimana yang Allah kehendaki.
Segala penekanan pada pemerintahan ini mempersiapkan kita untuk nubuat besar Mikha tentang sang Mesias dalam Mikha 5:2. Disaat nabi-nabi seperti Daniel memberitahukan kapan persisnya sang Mesias akan lahir, Mikha adalah satu-satunya nabi yang memberitahukan di mana persisnya sang Mesias akan lahir. Ketika Mikha memberikan nubuat besarnya tentang sang Mesias, coba Anda perhatikan apa yang dikatakannya tentang pemerintahan:
“Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan Tuhan, dalam kemegahan nama Tuhan Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi.”
Ketika Herodes yang jahat menanyakan kepada para pemimpin agama, “Apakah para nabi memberitahukan, di mana Mesias atau Raja bangsa Yahudi ini akan lahir?” maka berkat nabi Mikha, para pemimpin agama dapat menjawab, “Oh ya, di Betlehem.” Mereka mengutip Mikha 5:2.
Mikha berbicara tentang nasib umat Allah karena ketidak-taatan mereka dalam khotbahnya yang pertama. Mikha mengatakan bahwa Allah akan mencambuk mereka di depan orang banyak, untuk menunjukkan kepada dunia bahwa Allah tidak akan mentolerir ketidak-taatan umat-Nya. Mikha berbicara lebih keras lagi tentang para pemimpin bangsa ini karena kejahatan mereka.
Dalam khotbah Mikha yang kedua, Mikha meramalkan bahwa bangsa Babel akan datang dan membuang Israel, namun Mikha juga menghibur dengan mengatakan bahwa setelah Allah selesai mendisiplinkan mereka, mereka akan dipulihkan. Bagian lain dari khotbah Mikha yang kedua adalah nubuat tentang sang Mesias, yang mengatakan bahwa Kristus akan dilahirkan di Betlehem. Demikianlah pengharapan mereka dan juga pengharapan kita, sebab bagian nubuat Mikha ini telah digenapi, namun masih ada bagian dari nubuat Mikha yang baru akan tergenapi di masa yang akan datang.
Pendengar yang terkasih, kami rindu Anda mempunyai pengharapan. Walaupun mungkin segalanya sulit, mungkin Allah sedang mencambuk Anda, Allah tetap mengasihi Anda dan mempunyai maksud bagi kehidupan Anda. Datanglah kepada-Nya maka Ia akan memberi Anda masa depan dan pengharapan sejati.
|
|