| |
Amsal-amsal Salomo bin Daud, raja Israel, untuk mengetahui hikmat dan didikan, untuk mengerti kata-kata yang bermakna, untuk menerima didikan yang menjadikan pandai, serta kebenaran, keadilan dan kejujuran, untuk memberikan kecerdasan kepada orang yang tak berpengalaman, dan pengetahuan serta kebijaksanaan kepada orang muda – baiklah orang bijak mendengar dan menambah ilmu dan baiklah orang yang berpengertian memperoleh bahan pertimbangan – untuk mengerti amsal dan ibarat, perkataan dan teka-teki orang bijak. Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan.”
|
Demikianlah Kitab Amsal dimulai. Selamat datang di Sekolah Alkitab Mini, studi terpenting di dunia sebab program ini merupakan studi tentang buku terpenting di dunia, yaitu Alkitab. Studi ini telah mengantarkan kita ke permulaan bagian kitab-kitab Puisi yang ditulis oleh Raja Salomo. Ada lima Kitab Puisi yaitu Ayub, Mazmur, Amsal, Pengkhotbah dan Kidung Agung. Seperti yang telah kita lihat, Kitab Ayub adalah pesan dari Allah kepada umat Allah yang menderita. Kitab Mazmur adalah pesan dari Allah yang diperuntukan kepada manusia batiniah umat-Nya ketika mereka sedang beribadah. Ketika kita sampai ke kitab yang ditulis oleh Salomo ini, kita melihat bahwa Allah masih mengajari manusia batiniah atau hati umat-Nya. Kitab Amsal merupakan pesan dari Allah kepada hati manusia ketika mereka sedang menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari. Pernyataan misi Kitab Amsal adalah agar umat Allah mempunyai hikmat yang berguna dalam segala bentuk hubungan yang ada di kehidupan ini.
Secara teknis, bukan Salomo yang menulis keseluruhan amsal ini. Salomo menyusun beberapa amsal yang ditulis oleh orang-orang bijak lainnya, dan orang-orang bijak lainnya menyusun beberapa amsal yang ditulis oleh Salomo. Kitab Amsal disusun seperti demikian: Pertama, Anda akan membaca tentang maksud adanya kitab ini dalam 9 pasal pertamanya, yang secara keseluruhannya berbunyi seperti suatu esei mengenai hikmat. Lalu Anda akan membaca amsal mengenai hal-hal yang pantas menurut Salomo, yang dimulai dari pasal 10 hingga pasal 22:17. Dari pasal 22:17 hingga pasal 24:34, Anda akan membaca amsal-amsal orang bijak, yang bisa jadi ditulis oleh orang lain. |
Amsal-amsal Salomo yang disusun oleh orang-orang bijak Hizkia mencakup pasal 25 hingga pasal 29 dari Amsal Salomo. Pasal 30 memuat amsal Agur dan pasal 31 adalah amsal Raja Lemuel, yang dipelajari dari ibunya. Jadi, secara teknis, tidak seluruh amsal ditulis oleh Salomo, akan tetapi keseluruhannya disebut sebagai Amsal Salomo. Menurut 1 Raja-raja 4:31-32, Salomo menulis 3.000 amsal dan 1.005 kidung. Dalam Kitab Amsal, terdapat kurang dari 1.000 amsal Salomo dan dalam Kitab Puisi kita hanya mempunyai satu Kidung Agung. Kitab Amsal bisa dirangkum sebagai berikut: Dalam pasal 1 hingga 10, merupakan Amsal bagi para Pemuda; dalam pasal 11 hingga 20, Amsal bagi Semua Orang dan dalam pasal 21 hingga 31, Amsal bagi para Penguasa.
Selagi kita membahas pernyataan hikmat dan aplikasinya ini, Anda mau tidak mau bertanya, bagaimana Salomo bisa menjadi penulis kitab ini kalau ia sendiri adalah seorang pecundang? Ada kesan dimana Salomo adalah orang paling bijaksana yang pernah hidup. Hikmat Salomo didemonstrasikan dalam Kitab Amsal. Demikian banyak hikmat praktis yang dinyatakan dalam mutiara kebenaran ini. Bagaimana seorang pecundang bisa menjadi penulis dari kata-kata bijaksana ini yang menunjukkan cara untuk hidup kepada umat Allah? Ada beberapa jawaban atas pertanyaan itu. Hikmat dari amsal ini tidak tergantung pada apakah sang penulis sendiri menerapkannya atau tidak dalam kehidupannya sendiri. Amsal ini merupakan hikmat yang terinspirasi. Amsal ini datang kepada kita berkat inspirasi dari Allah. Pemikiran lain untuk menjawab pertanyaan itu adalah bahwa amsal-amsal ini, Mazmur 127 serta Kitab Pengkhotbah dikhotbahkan oleh Salomo kepada para pemuda Israel dengan semangat begini, “Jangan melakukan apa yang telah kulakukan; petiklah pelajaran dari pengalamanku. Pengalaman bukanlah satu-satunya guru namun pengalaman merupakan guru yang sangat meyakinkan. Kalian tidak harus belajar dari pengalamanmu sendiri. Kalian bisa belajar dari kesalahan-kesalahanku.”
Jawaban lain bagi pertanyaan itu adalah bahwa Salomo adalah seorang filsuf, yang berarti ia mencintai pengetahuan. Orang yang mencintai pengetahuan tidak selalu menerapkan pengetahuan yang mereka cintai itu. Dalam kalimat pembuka Kitab Amsal, Salomo menjelaskan mengapa ia menulis amsal-amsal ini. Saya menyukainya ketika seorang penulis Alkitab menjelaskan mengapa ia suatu kitab dalam Alkitab. Salomo mengatakan, “Aku ingin agar orang lain mengetahui cara untuk hidup.” Ingatlah bahwa Alkitab diberikan kepada kita agar manusia mengetahui cara untuk hidup. “Manusia hidup bukan dari roti saja melainkan dari setiap perkataan yang datang dari takhta Allah,” demikianlah Musa mengatakan dalam Ulangan 8:3. Demikianlah caranya manusia hidup. Musa mengatakan bahwa segala pengalaman bangsa Israel di padang gurun ditujukan untuk satu hal: yaitu agar mereka mengetahui cara untuk hidup, sebab manusia hidup dengan mematuhi Firman Allah. Hal itu berarti bahwa Firman Allah adalah mengenai kehidupan dan kehidupan adalah tentang Firman Allah. Semakin Anda mengenal Alkitab, seharusnya Anda semakin memahami kehidupan. Semakin besar pengalaman hidup Anda, seharusnya Anda semakin mempunyai pemahaman tentang Alkitab. Hal ini secara khusus berlaku dalam Kitab Amsal.
Maksud yang dinyatakan oleh Salomo untuk menulis kitab ini adalah agar umat Allah mengetahui cara untuk hidup, agar yang bijaksana bisa menjadi lebih bijaksana sehingga mereka bisa menjadi pemimpin. Salomo juga mengatakan bahwa ia mengarahkan amsal-amsal ini dengan cara yang sangat khusus kepada para pemuda. Salomo ingin memperingatkan para pemuda akan berbagai macam godaan yang akan mereka hadapi. Karena alasan ini, para pemuda hendaknya membaca Kitab Amsal setiap hari. Karena terdapat 31 pasal dalam Kitab Amsal, maka seorang pemuda bisa menggunakan Kitab Amsal sebagai kalendernya. Pada hari pertama suatu bulan, ia bisa membaca pasal 1, pada hari kedua membaca pasal 2, pada hari ke-17 membaca pasal 17. Ia akan selalu mengetahui hari apa ini dengan bersaat teduh membaca Kitab Amsal.
Demikian banyak amsal di sini. Kita tidak mungkin membahas semuanya, namun saya ingin mengomentari beberapa amsal yang saya yakini sebagai amsal yang definitif. Saya telah mengomentari beberapa mazmur yang saya yakini sebagai mazmur yang definitif untuk memberi Anda ide tentang bagaimana Anda bisa memahami mazmur-mazmur lainnya, serta menimbulkan keinginan Anda untuk mempelajarinya sendiri. Sekarang, dengan menggunakan strategi yang sama, saya ingin mengomentari beberapa amsal yang sangat definitif. Dengan membahas beberapa amsal yang umum dan definitif ini, semoga Anda akan diperlengkapi dan terinspirasi untuk mempelajari seluruh amsal dalam Kitab Amsal ini.
Saya akan menggunakan kata-kata sendiri sebab saya percaya bahwa hal itu akan membantu kita memahaminya dengan lebih baik dan menerapkannya dalam kehidupan kita sekarang ini. Setelah kata-kata pengantarnya, Salomo berkata, “Aku mau supaya engkau mengetahui hal penting ini, bahwa hidup yang melakukan kebenaran adalah kehidupan yang paling bijaksana. Itulah sebabnya engkau harus memakan buah pahit sebagai akibat menjalani hidup menurut kehendakmu sendiri dan mengalami kengerian dari jalan yang telah engkau pilih.” Pernyataan itu bisa menjadi rangkuman penjelasan tentang kehidupan Salomo sendiri. Salomo mengetahui bahwa dirinya gagal. Akan tetapi di awal Kitab Amsal, ia mengatakan bahwa salah satu cara Anda memperoleh hikmat adalah lewat kegagalan. Saya sering mengutip Robert Louis Stevenson yang mengatakan, “Cepat atau lambat, setiap orang harus menanggung konsekuensi hidupnya sendiri.” Cara lain agar kita memperoleh hikmat adalah dengan menanggung konsekuensi dari kegagalan-kegagalan kita.
Ketika kita mengalami kengerian dari jalan yang telah kita pilih, kita mendapatkan hikmat yang paling berharga. Terkadang, sebagai orangtua, kita merusak pengalaman belajar bagi anak-anak kita. Ketika mereka baru akan menanggung konsekuensi dan mengalami kengerian dari jalan yang mereka pilih sendiri, kita segera mengeluarkan mereka dari kesukaran. Kita membayar tagihan mereka. Kita telah merampas hikmat yang seharusnya mereka peroleh dengan menanggung konsekuensi yang seharusnya mereka tanggung sendiri. Salomo menubuatkan bahwa ketika kita mengalami kengerian dari jalan yang kita pilih sendiri, kita akan belajar fakta yang sebenarnya bahwa “hidup yang melakukan kebenaran adalah kehidupan yang paling bijaksana.”
Ketika Allah mengajarkan dalam Firman-Nya bahwa sesuatu itu benar, Allah mengajarkan hal itu kepada kita karena Ia mengasihi kita. Allah menghendaki kita melakukan kebenaran sebab Allah mengetahui bahwa konsekuensi melakukan kebenaran pada akhirnya akan baik. Ketika Allah melarang sesuatu, ketika Allah mengajarkan bahwa sesuatu itu keliru, Allah mengajarkannya bukan karena Ia sadis dan berusaha membuat kita sengsara. Allah mengajarkan dan memperingatkan bahwa sesuatu itu keliru karena Ia mengasihi kita. Allah mengetahui konsekuensi dari melakukan kekeliruan yang pada akhirnya menuntun kepada konsekuensi pahit. Allah mau menjauhkan dari kita segala kengerian pahit dari konsekuensi itu. Oleh karenanya, sedari awal Salomo sudah mengatakan bahwa salah satu maksud dirinya menulis Kitab Amsal adalah karena ia mau kita belajar suatu kebenaran pasti bahwa hidup yang melakukan kebenaran adalah kehidupan yang paling bijaksana.
Amsal 5:15-19 adalah amsal yang indah yang ditujukan kepada para pemuda, yang memperingatkan mereka tentang berbagai macam godaan yang akan mereka hadapi, terutama godaan para wanita perayu. Tentu, ini berlaku dua arah. Ada juga pria perayu, dan wanita pun perlu berhati-hati terhadap mereka. Akan tetapi, karena Kitab Amsal ditujukan kepada para pemuda, peringatannya adalah tentang wanita perayu. Jelas bahwa Kitab Amsal ditujukan kepada para pemuda yang sudah menikah sebab yang Salomo tuliskan dalam kelima ayat ini bisa dirangkum begini: pertahanan terbaik terhadap wanita perayu adalah serangan yang baik. Perlindungan terbaik terhadap godaan perzinahan adalah dengan memiliki pernikahan yang baik. Dalam pasal 5:15-19, Salomo mengatakan bahwa hendaknya Anda selalu berahi karena cinta dari istri Anda sendiri. Maka ketika Anda terjun ke masyarakat, dan saat Anda diperhadapkan dengan godaan para wanita perayu, Anda tidak akan mudah digoda sebab kebutuhan seksual Anda sudah terpenuhi. Sungguh suatu nasihat yang baik. Salomo memperingatkan para pemuda tentang para pelacur maupun para pezinah. Salomo berkata, “Barangsiapa berzinah, ia adalah seorang benar-benar bodoh sebab ia sedang menghancurkan jiwanya sendiri. Kalau engkau ingin menemukan jalan menuju neraka, carilah rumah pelacuran.”
Pengkhotbah Dick Woodward berkuliah dekat sebuah tempat yang disebut “Pershing Square,” yang sangat dekat dengan pusat kota Los Angeles. Banyak orang menghabiskan hampir seluruh waktu mereka di taman yang bersebelahan dengan kampusnya ini. Ketika ada waktu luang, ia sering pergi ke taman ini untuk mengobrol dengan orang-orang dan mencoba untuk menentukan dalam waktu kira-kira 45 menit, bagaimana mereka bisa tersingkirkan dari masyarakat. Ia mengobrol dengan cukup banyak pria selama 2 tahun. Salah satu kesimpulan yang didapatnya ialah bahwa pada dasarnya masalah mereka adalah karena wanita. Skandal mereka dengan wanita menuntun kepada hancurnya keluarga mereka lalu mereka beralih kepada alkohol hingga kecanduan dan kehilangan tempat tinggal. Berulang kali, seperti itulah tampaknya urutan kejadiannya. Masalahnya dimulai dengan wanita perayu dan melalui perbuatannya itu, mereka kehilangan keluarga mereka. Lalu mereka mulai minum dan pada akhirnya kehilangan pekerjaan mereka, lalu kehilangan segalanya. Dari hasil wawancara dengan para pria tersebut, ia menemukan bahwa Salomo memberikan nasihat yang baik dan realistis saat ia memperingatkan, “Kalau engkau mau menemukan jalan menuju neraka, carilah rumah wanita perayu.”
Amsal-amsal ini adalah mutiara-mutiara hikmat, seperti yang Salomo katakan, dalam kalimat pembukanya. Mutiara-mutiara hikmat ini tidak selalu berhubungan satu sama lain. Cara yang baik untuk mempelajari Kitab Amsal adalah dengan membuat kolom vertikal pada selembar kertas. Tuliskan judul topiknya pada bagian atas kolomnya, misalnya: rumah tangga, pernikahan, hubungan dengan anak, hubungan dengan orangtua, uang, wanita, atau entah apa lagi. Ketika Anda menemukan suatu amsal tentang topik tertentu, tuliskan amsal tersebut dalam kolom yang relevan. Maka Anda akan mempelajari Kitab Amsal menurut topiknya. Suatu hal yang baik jika Anda mempelajari kitab ini menurut topiknya sebab ketika Anda mengelompokkan seluruh amsalnya menurut topiknya, Anda akan menemukan bahwa Kitab Amsal membahas masing-masing topik dengan cara yang mendalam dan menyeluruh. Misalnya, kalau Anda mempelajari seluruh amsal tentang topik seperti “mendisiplinkan anak-anak” atau “pendisiplinan diri”, maka Anda bisa mengajar Sekolah Minggu dengan efektif atau menyampaikan khotbah yang baik tentang topik tersebut.
Berikut adalah amsal yang luar biasa tentang pendisiplinan diri. “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanananya pada waktu panen.” Pendisiplinan diri, menjadi individu yang berinisiatif, adalah pesan amsal ini. Anda bisa belajar mendisiplinkan diri dari seekor semut, demikian Salomo mengatakan. Ketika Anda kuliah, Anda diharapkan menjadi individu yang berinisiatif, menjadi individu yang berdisiplin. Di sekolah dasar atau taman kanak-kanak, para guru menitipkan catatan bagi orangtua Anda dan mengadakan pertemuan dengan orangtua Anda. Mereka mengawasi Anda. Akan tetapi, ketika Anda sudah dewasa, seharusnya Anda mengawasi diri Anda sendiri dan berdisiplin. Itulah pesannya; Itulah pelajaran yang menurut Salomo dapat kita petik dari seekor semut.
Ada penekanan yang cukup besar terhadap lidah dalam Kitab Amsal. “Jangan terlalu banyak berbicara. Bersikaplah masuk akal dan tutuplah mulutmu. Semakin banyak engkau berbicara, semakin banyak engkau berbuat dosa.” Para tua-tua gereja tampaknya sependapat dengan Kitab Amsal tentang topik ini. Di banyak biara tua, para biarawan hanya diizinkan bercakap selama 30 menit setelah makan malam sebab para pengawas mereka sependapat dengan Kitab Amsal bahwa “dalam banyak berbicara ada banyak dosa.”
Saya harus mengakhiri sesi studi tentang Kitab Salomo serta orang-orang bijaksana lainnya di Israel. Silakan membaca Kitab Amsal ini dan menemukan hikmat apa yang diajarkan kepada Anda setiap harinya. Ada 31 pasal, bacalah satu pasal setiap harinya maka Anda akan mendapatkan banyak hikmat menurut Alkitab. Bergabunglah dalam studi berikutnya saat saya akan membahas lebih banyak mutiara hikmat yang kita sebut amsal ini.
|
|