ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 

Injil yang Mutlak (I)

Salam jumpa di Sekolah Alkitab Mini. Program ini merupakan program studi di mana kita mempelajari setiap kitab dalam Alkitab, mulai dari Kitab Kejadian dan sekarang sudah sampai di surat-surat Paulus, orang yang menulis setengah dari isi Perjanjian Baru. Kita sudah membahas 3 surat dari Rasul Paulus.

Pertama-tama, kita telah membahas mahakarya teologi Paulus, suratnya kepada jemaat di Roma. Kemudian kita membahas mahakaryanya yang sekarang kita sebut “teologi penggembalaan”. Teologi penggembalaan berhubungan dengan segala masalah yang harus ditangani para pendeta. Itulah 1 Korintus. Kemudian, dalam sesi terakhir, kita telah membahas 2 Korintus. Ternyata 2 Korintus merupakan mahakarya tentang topik pelayanan. Dalam surat yang mengagumkan itulah Rasul Paulus menjawab tuduhan-tuduhan jemaat di Korintus kepadanya setelah mereka membaca suratnya yang pertama.

Dalam suratnya yang pertama kepada jemaat di Korintus, Paulus menegur mereka tentang begitu banyak masalah. Paulus mencoba mengoreksi masalah-masalah mereka.

Jemaat di Korintus tidak dapat menyerang pemikiran dari nasihat-nasihat Paulus yang bersifat korektif dan konstruktif, yang mendalam dan diilhami Allah. Saya sungguh takjub bahwa mereka tidak mencoba menyerang logika Paulus dalam suratnya yang pertama. Jemaat di Korintus menyerang satu-satunya hal yang dapat mereka serang. Mereka menyerang pribadi Paulus sendiri dan keotentikannya sebagai rasul. Akibat serangan terhadap keotentikan Paulus sebagai rasul, yang menantang kewenangannya sebagai rasul dan pelayan, Paulus memberikan sebuah mahakarya tentang topik pelayanan dan bukti-bukti keotentikan seorang pelayan. Saat Anda menyelesaikan 2 Korintus ini, pastikan bahwa Anda telah menemukan setidaknya apa yang telah Paulus jelaskan tentang tugas dan pelatihan seorang pelayan, kepercayaan dan kemenangan seorang pelayan, transformasi dan transparansi seorang pelayan, hal-hal yang berharga dan ujian-ujian dari seorang pelayan, ketangguhan dan kelembutan hati seorang pelayan, dan pada akhirnya, pengalaman sebagai seorang pelayan yang melampaui pemikiran manusia. Di bawah judul-judul seperti itu Paulus memberikan kebenaran yang luar biasa, mendalam, dan diilhami Allah tentang pelayanan.

Saya telah meminta Anda untuk khususnya mempelajari pasal 8 dan 9, yang merupakan dua pasal terbaik dalam keseluruhan Alkitab tentang topik kepengurusan. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus dari Filipi. Jemaat di Filipi adalah jemaat kesayangan Paulus, jemaat yang mendukungnya, jemaat yang memungkinkannya melayani orang-orang seperti jemaat di Korintus, tanpa harus membuat tenda untuk menunjang dirinya. Dalam 2 Korintus 8 dan 9, Paulus memuji pola pemberian jemaat di Filipi demi kepentingan jemaat di Korintus. Dalam prosesnya, Paulus mendesak jemaat di Korintus untuk turut mengambil bagian dalam persembahan kasih yang ia kumpulkan demi orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem. Dalam kedua pasal tersebut, sementara Paulus memuji pola pemberian jemaatnya yang paling rela memberi, perhatikan apa yang dikatakan oleh Paulus tentang kemampuan dan keterbukaan jemaat di Filipi tentang hal memberi. Perhatikan juga apa yang Paulus katakan tentang kualitas pemberian jemaat di Filipi, kerelaan mereka dalam memberi, dan terutama kejujuran mereka dalam memberi. Perhatikan integritas Paulus dalam hal kepengurusan dan keuangan. Ada pesan besar yang sangat relevan dalam semuanya itu bagi jemaat kita sekarang ini.

Saat Paulus mengumpulkan persembahan kasih demi orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem itu, ia mengatakan, “Aku hendak menghindarkan kritik apa pun tentang caraku menangani atau melayani atau mengurus pemberian rela ini. Aku ingin melakukan apa yang benar di mata Tuhan dan di mata manusia.” Perhatikan bagaimana Paulus menyuruh mereka agar menunjuk orang-orang dari antara jemaat untuk menyertai pemberian mereka dan mengawasi pengelolaannya. Ada pertanggung-jawaban. Pemberian mereka begitu besar dan ada integritas sehubungan dengan pertanggung-jawabannya.

Saya ingin sekali lagi melihat kepada jemaat di Korintus yang berperilaku buruk ini sebelum kita meninggalkan mereka. Di akhir 2 Korintus, Paulus mengatakan, “Aku kuatir, bahwa apabila aku datang aku mendapati kamu tidak seperti yang kuinginkan. Aku khawatir akan adanya perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, fitnah, bisik-bisikan, keangkuhan, dan kerusuhan. Aku kuatir, bahwa aku akan berdukacita terhadap banyak orang yang di masa yang lampau berbuat dosa dan belum lagi bertobat dari kecemaran, percabulan dan ketidaksopanan yang mereka lakukan.” Seperti itulah jemaat pertama di Korintus. Pantas saja Apolos tidak percaya bahwa Allah menghendaki dia pergi ke sana. Paulus mengatakan bahwa ia mau Apolos pergi ke sana, namun Apolos menganggap bahwa bukan kehendak Allah untuk mendatangi jemaat di sana. Mungkin tidak seorang pun yang mau pergi ke jemaat di Korintus. Paulus mengakhiri suratnya dengan tantangan begini: “Selidikilah dirimu sendiri untuk memastikan bahwa kamu memang milik Kristus. Ujilah dirimu sendiri dan bukan aku. Seharusnya sekarang kamu sudah tahu bahwa Kristus hidup di dalam kamu kecuali kamu memang bukan orang Kristen sama sekali.” Salah satu versi terjemahan Alkitab mengatakannya begini: “Periksalah dirimu sendiri. Jangan-jangan kamu orang Kristen palsu.” Sungguh bahasa yang keras, namun Paulus tidak mungkin menggunakan bahasa lain terhadap jemaat di Korintus ini, mengingat seperti apa jemaat pertama di Korintus itu. Kita mendapatkan dua surat yang mendalam dari Paulus kepada jemaat di Korintus, sehingga kita bisa bersyukur kepada Allah bahwa jemaat di Korintus itu demikian berperilaku buruk. Seandainya mereka tidak berperilaku buruk dan tidak mempunyai berbagai masalah, kita tidak akan mendapatkan literatur indah yang terinspirasikan ini.

Berikutnya, kita sampai kepada surat Paulus kepada jemaat di Galatia. Surat Paulus kepada jemaat di Galatia adalah suratnya yang lain lagi. Saya akan menyingkapkan sedikit rahasia: dari ke-66 kitab dalam Alkitab, kitab-kitab kesukaan saya adalah surat-surat dari Paulus. Surat-surat dari Paulus ini begitu mendalam! Ke-66 kitab dalam Alkitab memang terinspirasikan, namun inspirasi dalam pemikiran Paulus ini menjadikan surat-suratnya begitu mendalam sekaligus praktis. Saya menyukai setiap surat Paulus. Setiap surat Paulus itu berbeda. Paulus menulis berbagai macam surat. Kita telah mempelajari mahakarya penggembalaan, kita telah mempelajari mahakarya tentang topik pelayanan dan kepengurusan, dan kita telah mempelajari mahakarya teologi. Sekarang kita akan mempelajari suratnya yang lain, yang dapat kita sebut sebagai surat yang emosional dari Rasul Paulus.

Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Galatia, ia marah! Kita dapat menyebutnya “amarah yang dapat dibenarkan”, namun Paulus sangat kecewa dan emosional ketika ia menulis surat ini. Bandingkan ayat-ayat pembuka dalam suratnya kepada jemaat di Galatia ini dengan ayat-ayat pembuka dalam suratnya kepada jemaat lain seperti di Filipi, yang demikian ia kasihi, dan bahkan di Korintus, yang demikian berdosa. Bahkan dalam suratnya kepada jemaat di Korintus pun kita menemukan bahasa kasih dan persekutuan serta kemitraan dalam pelayanan Injil. Paulus menyebut jemaat di Korintus “orang-orang kudus”. Banyak hal mengagumkan dalam kata-kata pembukanya. Akan tetapi tidak demikian halnya dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Dalam kata-kata pembukanya kepada jemaat di Galatia, tidak ada bahasa kasih. Tidak disinggung tentang kemitraan dalam pelayanan Injil, atau persekutuan, atau sesama pekerja, atau hal yang semacam itu. Paulus sering membahas banyak masalah ketika ia menulis kepada berbagai jemaat. Ketika ia menulis kepada jemaat di Galatia, yang bukan saja merupakan sebuah kota melainkan sebuah daerah di mana Paulus memberitakan Injil, Paulus meyakini bahwa masalah mereka jauh lebih serius daripada masalah yang dialami jemaat di Korintus. Masalah yang dialami jemaat di Korintus hanyalah masalah yang biasa dihadapi sebagian besar misionari ketika mereka merintis jemaat generasi pertama dalam suatu kebudayaan baru. Seorang misionari bahkan menggambarkannya begini: “Bayi-bayi selalu membuat masalah”.

Ketika Anda membaca surat Paulus kepada jemaat di Galatia, Anda bisa membayangkan apa yang terjadi di sana. Paulus berkeliling di daerah Galatia memberitakan Injil. Injilnya adalah bahwa Yesus Kristus, lewat kematian-Nya di kayu salib, telah memungkinkan Allah untuk menawarkan keselamatan kepada Anda. Meyakini Injil Yesus Kristus dengan karunia iman yang telah Allah berikan kepada Anda bisa menyelamatkan Anda. Semuanya itu adalah berkat kasih karunia Allah, yang merupakan sumber dari pengutusan Kristus ke dunia agar dunia dapat diselamatkan melalui Dia. Menurut Paulus, keselamatan adalah oleh iman dan oleh kasih karunia, tanpa tambahan apa-apa lagi.

Saya pernah mendengar tentang kasih karunia yang digambarkan begini: Yesus Kristus ditambah apa pun sama dengan nol, sedangkan Yesus Kristus ditambah nol sama dengan segalanya.

Paulus akan menekankan fakta bahwa kita diselamatkan untuk pekerjaan baik dan bahwa pekerjaan baik yang kita lakukan bisa membuktikan iman kita. Akan tetapi menurut Paulus, iman kitalah yang menyelamatkan kita, bukan pekerjaan kita. Setelah Paulus mengkhotbahkan Injil keselamatan oleh kasih karunia lewat iman, para pemimpin Yahudi mengikuti Paulus ke daerah Galatia dan memberitahu orang-orang yang bukan Yahudi di sana, yang telah menjadi percaya lewat khotbah Paulus, bahwa “Apa yang telah diberitahukan oleh Paulus kepadamu itu benar, namun kamu tidak mungkin diselamatkan tanpa disunat, dan tanpa melakukan Hukum Musa.” Mereka mencoba membuat orang bukan Yahudi yang menjadi percaya itu, menjadi orang Yahudi.

Ketika Paulus mendengar kejadian itu, dan banyak orang percaya di Galatia disunat, maka dengan tulisan tangannya sendiri dan dengan amarah, Paulus menulis suratnya. Dengarkan apa yang Paulus tulis, dan perhatikan emosinya yang dingin dan marah: “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, dan dari semua saudara yang ada bersama-sama dengan aku, kepada jemaat-jemaat di Galatia: kasih karunia menyertai kamu dan damai sejahtera dari Allah, Bapa kita, dan dari Tuhan Yesus Kristus, yang telah menyerahkan diri-Nya karena dosa-dosa kita, untuk melepaskan kita dari dunia jahat yang sekarang ini, menurut kehendak Allah dan Bapa kita. Bagi-Nyalah kemuliaan selama-lamanya! Amin.” Itulah salam yang mereka baca dalam surat Paulus. Untuk seorang  Paulus, itu adalah salam yang dingin.

Paulus memulai pesannya begini: “Aku heran, bahwa kamu begitu lekas berbalik dari pada Dia, yang oleh kasih karunia Kristus telah memanggil kamu, dan mengikuti suatu injil lain, yang sebenarnya bukan Injil. Hanya ada orang yang mengacaukan kamu dan yang bermaksud untuk memutarbalikkan Injil Kristus.” Berikut adalah pernyataan yang sangat keras, paling keras dalam segala surat Paulus: “Tetapi sekalipun kami atau seorang malaikat dari sorga yang memberitakan kepada kamu suatu injil yang berbeda dengan Injil yang telah kami beritakan kepadamu, terkutuklah dia.” Kalau-kalau mereka menyangka Paulus keseleo lidah atau bagaimana, Paulus mengulang: “Seperti yang telah kami katakan dahulu, sekarang kukatakan sekali lagi: jikalau ada orang yang memberitakan kepadamu suatu injil, yang berbeda dengan apa yang telah kamu terima, terkutuklah dia.” Paulus mau mengatakan: “Hanya ada satu Injil, yaitu Injil yang telah kukhotbahkan kepadamu ketika aku berada di Galatia. Sekarang orang menindak-lanjuti pelayananku dan mengkhotbahkan injil lain, suatu Injil yang diputarbalikan.”

Ketika Paulus menulis kepada jemaat di Filipi, ia sedang di penjara, dan menulis dari penjara, Paulus menulis: “Ada orang yang berkhotbah di luar sana oleh sebab aku sedang berada di dalam penjara.” Mungkin Paulus mempunyai perbedaan doktrin yang sepele dengan mereka. Mungkin Paulus mempunyai strategi, atau metodologi, yang tidak mereka setujui, dan ketika mereka mendengar bahwa Paulus dipenjara, mereka langsung keluar berkhotbah menurut cara mereka. Ketika Paulus mendengarnya, Paulus mengatakan: “Aku bersukacita! Kristus diberitakan dan karena itulah aku bersukacita!” Sebab yang mereka khotbahkan tetap Injil Kristus. Motivasi mereka mungkin tidak baik, namun yang jelas apa yang mereka khotbahkan tetap Injil Kristus, dan Paulus mengatakan: “Aku bersukacita karena Kristus diberitakan.”

Akan tetapi lain lagi halnya di Galatia. Di sini, mereka mengkhotbahkan injil yang lain. Mereka memutarbalikkan Injil Kristus. Menurut Paulus, mereka bukan mengkhotbahkan Injil Kristus. Dua kali Paulus mau mengatakan: “Aku tidak peduli kalau aku kembali lagi dan mengkhotbahkan injil lain, atau kalau ada orang yang datang dan mengkhotbahkan injil lain. Aku tidak peduli kalau seorang malaikat dari sorga datang dan mengkhotbahkan injil yang lain dari Injil yang kukhotbahkan kepadamu ketika aku berada di Galatia. Kalau sampai hal itu terjadi, terkutuklah dia!” Sungguh kata-kata yang keras. Yang Paulus bicarakan di sini adalah kemurtadan. Tentu, Paulus mengetahui sejarah bangsa Ibrani. Khotbah pertama yang disampaikan Paulus dalam Kisah Para Rasul 13 penuh dengan sejarah bangsa Ibrani. Paulus menguasai sejarah bangsa Ibrani. Seandainya Anda mengikuti pembahasan kami tentang Perjanjian Lama, Anda tahu bahwa siapa pun yang mengetahui sejarah bangsa Ibrani akan menganggap kemurtadan sebagai dosa yang mengerikan. Kemurtadan berarti “menjauhkan diri dari”. Di akhir Kitab Yosua, bangsa Israel mengambil sikap. Mereka mengatakan bahwa mereka akan mendahulukan Allah dan melayani Dia. Lalu dalam Kitab Hakim-Hakim mereka mengambil sikap yang berbeda dari sikap semula. Mereka menjauhkan diri dari komitmen yang mereka berikan kepada Allah di akhir Kitab Yosua. Dalam Kitab Hakim-Hakim, kita membaca bahwa mereka 7 kali murtad. Kita juga membaca penggambaran tentang segala konsekuensi negatif yang mengerikan akibat kemurtadan mereka itu.

Paulus memandang kemurtadan sebagai kanker rohani yang jauh lebih parah daripada masalah apa pun yang dialami jemaat di Korintus. Oleh karenanya, Paulus mau membahas tentang kemurtadan dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Demikianlah Paulus mengkonfrontasikan tentang kemurtadan di Galatia: Ia mengkonfrontasikannya dengan Injil yang sesungguhnya, yang bersifat mutlak. Di sinilah Paulus memberikan informasi tentang dirinya sendiri. Dalam Galatia 1:11-12 Paulus menulis: “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.” Di sini Paulus menjelaskan: “Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku sejak kandungan ibuku dan memanggil aku oleh kasih karunia-Nya, berkenan menyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku memberitakan Dia di antara bangsa-bangsa bukan Yahudi, maka sesaat pun aku tidak minta pertimbangan kepada manusia.” Dengan kata lain, Paulus tidak menanyakannya dulu kepada siapa pun. “Juga aku tidak pergi ke Yerusalem mendapatkan mereka yang telah menjadi rasul sebelum aku, tetapi aku berangkat ke tanah Arab dan dari situ kembali lagi ke Damsyik.” Kita tidak tahu berapa lama Paulus di Arab sebelum ia kembali lagi ke Damsyik. Akan tetapi, setelah pengalamannya di jalan menuju Damsyik, Paulus meninggalkan Damsyik, pergi ke Arab selama entah berapa lama, lalu kembali lagi ke Damsyik.

Berikutnya Paulus mengatakan, “Lalu, tiga tahun kemudian, aku pergi ke Yerusalem.” Beberapa ahli teologia meyakini bahwa hal itu berarti Paulus berada di Arab selama 3 tahun. Kalau demikian halnya, berarti Paulus melewatkan waktu di Padang Gurun Arab bersama Kristus yang telah bangkit sama lamanya seperti para murid Yesus mengikut Dia selama 3 tahun. Akan tetapi, dalam ayat 18 Paulus mengatakan bahwa setelah 3 tahun itu pada akhirnya ia “pergi ke Yerusalem untuk mengunjungi Kefas, dan aku menumpang lima belas hari di rumahnya. Tetapi aku tidak melihat seorang pun dari rasul-rasul yang lain, kecuali Yakobus, saudara Tuhan Yesus.”

Paulus mengklaim telah melihat Kristus yang telah bangkit, bahwa ia berjumpa dengan Kristus yang telah bangkit di jalan menuju ke Damsyik, dan bahwa ia pergi ke Arab bersama Kristus yang telah bangkit, mungkin selama 3 tahun. Sungguh menarik bahwa ketika Paulus pada akhirnya pergi juga ke Yerusalem, dua orang yang ingin dijumpainya adalah orang-orang kepada siapa Tuhan telah menampakkan diri secara pribadi setelah bangkit dari antara orang mati. Dalam 1 Korintus 15, Paulus mengatakan bahwa setelah bangkit dari antara orang mati, Yesus menampakkan diri kepada Petrus lalu kepada Yakobus, saudara-Nya di bumi. Yakobus, saudara Yesus di bumi, belum percaya ketika para rasul mengikut Yesus, namun setelah Yesus bangkit dari antara orang mati, Yakobus, saudara-Nya itu, menjadi percaya, mungkin karena Yesus menampakkan diri kepadanya setelah Ia bangkit dari antara orang mati. Kedua orang yang ingin dijumpai Paulus setelah 3 tahun di Damsyik dan di Arab adalah kedua orang yang berjumpa dengan Kristus setelah bangkit dari antara orang mati. Paulus memverifikasikan segalanya dengan Petrus dan Yakobus. Lalu Paulus menulis bahwa setelah itu, ia pergi ke wilayah Siria dan Kilikia. Paulus menulis bahwa ia tidak dikenal oleh siapa pun di Yerusalem hingga 14 tahun kemudian. Hal itu dikatakannya dalam Galatia 2:1.

Sebagai penutup, coba Anda merenungkannya. Sama seperti halnya Anda harus memutuskan, apakah Yesus itu seorang pendusta, orang gila, atau Tuhan, Anda juga harus memutuskan, apakah Paulus itu seorang pendusta dan penipu terbesar di dunia atau ia adalah rasul terbesar. Sebagai tugas, bacalah surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini sampai habis, dan lihatlah apakah Anda dapat menemukan jawaban mengapa Paulus begitu marah. Itulah bahan perenungan kita hingga kita berjumpa lagi dalam sesi Sekolah Alkitab Mini berikutnya.