ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Ho-hum atau Nahum? (I)

”Beginilah penglihatan yang Allah berikan kepada Nahum tentang malapetaka yang akan menimpa Niniwe: TUHAN itu Allah yang cemburu dan pembalas, TUHAN itu pembalas dan penuh kehangatan amarah. TUHAN itu pembalas kepada para lawan-Nya dan pendendam kepada para musuh-Nya. TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya. TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya dan menyeberangkan mereka pada waktu banjir. Ia menghabisi sama sekali orang-orang yang bangkit melawan Dia, dan musuh-Nya dihalau-Nya ke dalam gelap. Apakah maksudmu menentang TUHAN? Ia akan menghabisi sama sekali; kesengsaraan tidak akan timbul dua kali! Beginilah firman TUHAN: "Sekalipun mereka utuh dan begitu banyak jumlahnya, tetapi mereka akan hilang terbabat dan mati binasa; sekalipun Aku telah merendahkan engkau, tetapi Aku tidak akan merendahkan engkau lagi. Sekarang, Aku akan mematahkan gandarnya yang memberati engkau, dan akan memutuskan belenggu-belenggu yang mengikat engkau."Terhadap engkau, inilah perintah TUHAN: "Tidak akan ada lagi keturunan dengan namamu. Dari rumah allahmu Aku akan melenyapkan patung pahatan dan patung tuangan; kuburmu akan Kusediakan, sebab engkau hina." Lihatlah! Di atas gunung-gunung berjalan orang yang membawa berita, yang mengabarkan berita damai sejahtera. Rayakanlah hari rayamu, hai Yehuda, bayarlah nazarmu! Sebab tidak akan datang lagi orang dursila menyerang engkau; ia telah dilenyapkan sama sekali!”

Selamat datang di satu lagi kelas Sekolah Alkitab Mini. Kelas ini adalah studi tentang keseluruhan Alkitab. Studi ini telah mengantarkan kita kepada seorang nabi besar Perjanjian Lama, yaitu nabi Nahum.  kita  baru saja mendengar bagaimana nubuat Nahum dimulai. Selagi kita melanjutkan studi tentang para nabi, kita sampai kepada nubuat Nahum. Sebagian orang menganggap bahwa judul yang lebih baik bagi Kitab Nahum adalah “Ho-hum,” (bunyi suara ketika seseorang tidak berminat) sebab kitab Nahum membosankan untuk dibaca. Agar Kitab Nahum tidak membosankan bagi Anda, saya ingin Anda mendapatkan perspektif sejarah tentang nabi Nahum yang saya yakini akan membantu Anda memahami pesan Kitab Nahum dan meraih penerapan devosional pribadi bagi kehidupan Anda sekarang ini.

Kitab Nahum membawa kita kembali ke kota yang menjadi objek prasangka dan khotbah Yunus. Pada tahun 785 Sebelum Masehi, Yunus berkhotbah kepada kota Niniwe. Seperti yang telah kita lihat dalam studi tentang nabi Yunus, pemberitaan Injil yang paling berhasil memicu kebangkitan rohani yang pernah dicatat terjadi ketika nabi Yunus pergi ke kota Niniwe dan berkhotbah di sana. Saat Anda mulai membaca Kitab Nahum, hendaknya Anda menyadari bahwa itu terjadi kira-kira 150 tahun sejak Yunus berkhotbah di kota Niniwe. Hanya satu generasi lebih sedikit sejak Yunus memicu kebangkitan rohani besar-besaran di Niniwe dengan khotbahnya, tampaknya orang Niniwe menyesali pertobatan mereka, sebab 60 tahun sejak Yunus berkhotbah di sana, bangsa Asyur ini menaklukkan Kerajaan Israel di Utara.

Dengan kekejaman dan kebrutalan yang tidak terlukiskan, bangsa Asyur ini menaklukkan dan memperbudak seluruh bangsa di dunia pada zaman itu. Bangsa Asyur hampir-hampir tidak pernah sebegitu kejamnya dan biadabnya ketika mereka menaklukkan dan memperbudak bangsa-bangsa dan menjadi kekaisaran yang besar di dunia.

150 tahun setelah khotbah Yunus, 60 tahun setelah jatuhnya Kerajaan Israel di Utara beserta ibukotanya, Samaria, Allah memberikan penglihatan kepada nabi Nahum. Penglihatan ini berhubungan dengan kota Niniwe. Niniwe adalah kota yang sangat besar. Niniwe disebut Ratunya kota seluruh dunia. Dalam penglihatan kepada Nahum, Allah berfirman, “Kota Niniwe akan jatuh.” Nahum mengkhotbahkan penglihatan yang Allah berikan kepadanya. Penglihatan nubuat Nahum menyangkut jatuhnya Niniwe itu digambarkan dalam tiga pasal yang singkat. Dalam pasal 1, Kehancuran Niniwe dinyatakan. Dalam pasal 2, kehancuran Niniwe digambarkan. Dalam pasal 3, alasan kehancuran Niniwe dijelaskan.

Kita membaca penglihatan Nahum tentang jatuhnya Niniwe dalam Alkitab kita sekarang. 23 tahun setelah Nahum mengkhotbahkan penglihatannya, kota Niniwe yang besar itu jatuh. Ketika Nahum mengkhotbahkan penglihatannya, mungkin orang mencemoohnya dan menganggapnya menggelikan, mengkhotbahkan bahwa kota sebesar Niniwe bisa jatuh. Kota Niniwe dibangun di atas dua sungai. Ada pepatah yang mengatakan bahwa satu-satunya cara Niniwe bisa jatuh, hanya seandainya salah satu sungainya berbalik menentangnya. Dalam nubuat Nahum, Nahum bernubuat sangat spesifik. Nahum mengatakan bahwa kota Niniwe akan jatuh karena sungainya akan meluap dan menghancurkan dindingnya. Musuh akan masuk melalui dinding yang hancur tersebut dan sepenuhnya menaklukkan kota ini. 23 tahun setelah Nahum mengkhotbahkan nubuatnya, hal itu benar-benar terjadi dan nubuat Nahum tergenapi hingga detil terkecilnya.

Sementara kita berusaha mendapatkan perspektif tentang nabi Nahum ini, kita menemukan bahwa sangat sedikit yang diketahui tentang dia. Kita cukup mengetahui kapan ia hidup, sebab ia menyinggung jatuhnya kota Tebes yang terjadi pada tahun 663 Sebelum Masehi. Kita mengetahui bahwa Niniwe jatuh pada tahun 607 Sebelum Masehi, dan oleh karenanya para ahli teologia memperkirakan masa hidup Nahum di antara dua kejadian tersebut, atau kira-kira pada tahun 630 Sebelum Masehi. Hal itu berarti bahwa Nahum sezaman dengan nabi seperti Yesaya, yang mendahului pembuangan ke Babel, dan juga berarti bahwa Nahum hidup di zaman Raja Hizkia yang baik. Ada dua kemungkinan tentang di mana ia tinggal. Kitab Nahum menyinggung Elkosh, yaitu sebuah tempat di dekat Niniwe. Sebagian orang meyakini bahwa Nahum berasal dari Elkosh dan bahwa makamnya juga terdapat di Elkosh. Akan tetapi, di sebelah utara Galilea terdapat sebuah kota yang bernama Kapernaum. Kapernaum adalah kota yang dianggap kota kediaman Yesus. Tentu, Yesus berasal dari Nazaret, namun karena ketidak-percayaan orang Nazaret sendiri ketika Yesus melayani di sana, maka Yesus pindah ke Kapernaum di Laut Galilea. Menurut Markus, Yesus bahkan mempunyai tempat tinggal di Kapernaum. Dalam Injil Markus kita membaca “tersiarlah kabar bahwa Yesus berada di rumah-Nya.” Diyakini bahwa rumah Yesus di Kapernaum adalah rumah di mana seorang pria lumpuh diturunkan melalui atapnya. Kapernaum adalah kantor pusatnya Yesus selama bagian pertama pelayanan-Nya yang terjadi di Galilea. Di Galilea lah, di bagian utara Israel, Yesus merekrut, mengangkat murid, banyak mengajar, dan banyak menyembuhkan sebelum Ia pergi ke Yerusalem untuk menderita dan mati di kayu salib.

Dalam bahasa orisinil dengan mana Injil Markus ditulis, nama Kapernaum sesungguhnya berarti “Desa Nahum.” Banyak orang meyakini bahwa nabi Nahum adalah pendiri kota kecil di Laut Galilea yang disebut Kapernaum ini.

Saat kita berfokus pada pesan Nahum, hal pertama yang perlu Anda lakukan adalah mendapatkan informasi tentang kota Niniwe itu sendiri. Penggalian para arkeolog mengatakan bahwa nubuat Nahum lebih dari sekadar nubuat yang menakjubkan tentang jatuhnya kota besar itu. Saat kita membaca nubuat Nahum, yang tergenapi 23 tahun setelah Nahum mengkhotbahkannya, para arkeolog mengatakan bahwa kita juga sedang membaca sejarah.

Saya telah mengemukakan bahwa saat kita mempelajari tentang para nabi, kita akan membaca tentang jatuhnya empat kota. Umat Allah mempunyai kerajaan di utara dan kerajaan di selatan, sepuluh suku di utara dan dua suku di selatan. Kerajaan di Utara mempunyai ibukota yang disebut Samaria. Nah, kitab-kitab nubuat ini akan menjelaskan tentang jatuhnya Samaria. Samaria jatuh di tangan bangsa Asyur 60 tahun setelah Yunus berkhotbah kepada Niniwe. Umat Allah mempunyai kerajaan di selatan, yaitu kerajaan Yehuda, dengan ibukota Yerusalem. Sebagian besar literatur nubuat difokuskan pada jatuhnya Yerusalem dan pembuangan ke Babel setelahnya.

Dalam literatur nubuat, dua kota lain yang jatuh adalah kota musuh umat Allah. Babel mempunyai ibukota Babel. Babel jatuh di tangan orang Midian dan Persia. Anda membaca tentang jatuhnya Babel dalam kitab Daniel. Akan tetapi, Asyur adalah musuh utama kerajaan di Utara maupun di Selatan. Ingatlah bahwa Asyur menaklukkan Kerajaan di Utara, dan setelah mereka menaklukkan Kerajaan di Utara, mereka berbalik ke selatan, menuju ke Yehuda, menaklukkan 46 kota berkubu, mengambil 200.000 tawanan, dan terus maju hingga ke gerbang Yerusalem. Ketika itulah Yesaya mengalami masa kejayaannya. Berkat nubuat Yesaya yang ajaib, bangsa Asyur berhasil dihalau dari gerbang Yerusalem. Ketika kita mempelajari kitab Yesaya, saya telah mengatakan bahwa seandainya bukan karena Yesaya, maka baik Kerajaan di Utara maupun di Selatan pasti sudah jatuh di tangan bangsa Asyur. Bangsa Asyur adalah musuh utama mereka. Jatuhnya Niniwe sebagai ibukota Asyur sangat besar artinya ketika Anda menyadari bahwa Niniwe adalah ibukota musuh utama mereka.

Kata “Nahum” sesungguhnya berarti “penuh penghiburan.” Nama nabi ini memberi kesan penghiburan. Pesan Nahum adalah pesan penghiburan. Sekarang Anda mungkin bertanya, bagaimana mungkin, pesan suram dan kiamat, api dan belerang seperti itu menjadi pesan pengharapan? Coba Anda merenungkannya sejenak. Coba Anda bayangkan diri Anda sebagai seorang Yahudi yang hidup pada tahun 1940-an, dan Anda tahu bahwa Hitler sedang menaklukkan Eropa secara sistematis. Coba Anda bayangkan diri Anda sebagai orang Yahudi yang mengetahui bahwa setiap kali Hitler menaklukkan sebuah kota, Anda akan dikirimkan ke Auschwitz atau kamp maut lainnya di mana Anda akan dihukum mati dengan gas atau dibakar. Umpamakan Anda sudah mengetahui bahwa hanya soal waktu saja sebelum pasukan Jerman itu sampai ke kota atau desa Anda. Seandainya Anda mendengar bahwa, berkat pertolongan pasukan Sekutu pada tahun 1940-an itu, Berlin telah jatuh dan sang Kaisar Ketiga sudah menjadi abu, bukankah hal itu merupakan kabar baik? Bukankah hal itu akan menjadi pesan penghiburan bagi Anda, sebagai orang Yahudi, bahwa sistem yang berusaha membunuh Anda telah ditaklukkan? Bukankah itu sebuah kabar baik? Itulah yang dimaksud dengan pesan Nahum sebagai pesan penghiburan bagi Yehuda, kerajaan kecil di selatan itu. Kabar baik Nahum adalah bahwa Niniwe akan jatuh.

Ketika Nahum mengkhotbahkan pesannya, belum ada tanda-tanda bahwa Niniwe akan jatuh, maka pesan Nahum menjadi nubuat yang harus diimani bangsa Yahudi. Akan tetapi, pesan tersebut merupakan kabar baik yang sangat ingin diyakini oleh bangsa Yahudi. Pesan yang Nahum khotbahkan kepada umat Allah adalah, “Engkau tidak perlu lagi mengkhawatirkan Asyur! Bangsa Asyur tidak akan kembali lagi ke gerbang Yerusalem. Bangsa Asyur tidak akan lagi datang dan menyerbu negerimu. Bangsa Asyur akan kiamat! Niniwe akan jatuh!”

Kejatuhan Niniwe digambarkan secara jelas oleh Nahum dalam pasal 2. Ketika Anda membaca Nahum 2, Anda dapat membayangkan jatuhnya Niniwe. Nahum menggambarkan warna seragam pasukan musuh dan sinar matahari memantul pada perisai mereka. Nahum menggambarkan kehancuran Niniwe dengan demikian jelas sehingga Anda hampir dapat mendengar pekik pertempurannya. Nabi Nahum berperilaku sesuai dengan namanya, yaitu “penuh penghiburan,” ketika ia mengkhotbahkan kabar baik tentang jatuhnya Niniwe.

Sekali lagi, saya kehabisan waktu untuk studi ini. Pastikan Anda bergabung dengan saya pada program berikutnya saat kita akan mendengar khotbah yang dinamis dan fasih dari seorang nabi besar. Mengetahui keadaan dan konteks sejarah dari nabi ini serta kota besar Niniwe, sungguh dapat mengubah apa yang oleh beberapa orang dianggap sebagai kitab nubuat yang membosankan menjadi kitab yang begitu menarik, yang menuliskan khotbah salah satu nabi besar Perjanjian Lama.

Sebelum kami undur diri, apa penerapan devosional pribadi dari nubuat ini? Saya ingin menyarankan beberapa penerapannya. Pertama, bahwa Firman Allah sungguh dapat dipercaya. Nubuat ini kembali membuktikan bahwa Firman Allah sungguh dapat dipercaya. Oleh karenanya, ketika Allah memberikan sebuah janji seperti: “Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan,” maka kita sungguh dapat mempercayainya. Bangsa Asyur sempat mengakui dosa mereka saat Yunus berkhotbah sehingga generasi tersebut diselamatkan, namun ketika generasi berikutnya datang dan mengikuti jalan dosa, Nahum menubuatkan penghakiman atas mereka. Yang mengantarkan saya kepada penerapan devosional yang kedua.

Alkitab mengajarkan: “Upah dosa adalah maut.” Kalau Anda hidup dalam dosa, janganlah menipu diri sendiri dengan berpikir bahwa Allah tidak melihatnya atau tidak peduli. Upah dosa adalah maut. Kita melihatnya dalam nubuat Nahum. Akan tetapi, Perjanjian Baru memberikan pengajaran tentang “kasih karunia” Allah dalam Roma 6:23: “Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.” Sudahkah Anda menerima karunia hidup yang kekal melalui Yesus Kristus, Tuhan kita? Yesus lah yang menanggung upah dosa kita sehingga Anda dapat menerima karunia-Nya. Terimalah karunia-Nya hari ini juga.