| |
Kasih Karunia Memberi (II)
Salam jumpa di Sekolah Alkitab Mini. Program studi ini merupakan program studi keseluruhan Alkitab, di mana kita membahas kitab demi kitab. Dalam sesi terakhir kita membahas pasal 8 dan 9 dari 2 Korintus. Dalam kedua pasal tersebut, Paulus memuji prinsip-prinsip kepengurusan dalam jemaatnya yang terbaik, yaitu jemaat di Filipi, untuk dicontoh oleh jemaatnya yang terburuk, yaitu jemaat di Korintus, dan oleh kita sekarang ini.
|
Pertama-tama, kita memperhatikan kualitas pemberian orang percaya di Filipi selagi Paulus memuji pola memberi mereka untuk dicontoh oleh jemaat di Korintus. Paulus berkata, “Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami.
Seperti yang telah saya jelaskan, Paulus tidak akan mau menerima persembahan dari siapa pun kecuali mereka memenuhi prasyarat tersebut.
Mereka harus memberikan diri mereka pertama-tama kepada Allah, baru kepadanya oleh karena kehendak Allah atau demi memajukan karya Allah. Mereka memberi atas kerelaan mereka sendiri, meminta supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan Paulus.
|
Tampaknya hal itu sangat penting bagi Paulus. Paulus takkan pernah memaksa orang melakukan apa pun. Dalam suratnya kepada Filemon nanti, kita akan melihat bahwa Paulus mendesaknya untuk membebaskan atau setidaknya menerima kembali seorang budak yang melarikan diri: “Tanpa persetujuanmu, aku tidak mau berbuat sesuatu, supaya yang baik itu jangan engkau lakukan seolah-olah dengan paksa, melainkan dengan sukarela.” Menurut saya, kerelaan itu sangat penting bagi Paulus. Ia mengatakan bahwa memberi itu hendaknya dilakukan secara sukarela.
Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita, bukan dengan bersungut-sungut. Jemaat di Filipi telah memberi dengan begitu murah hati dan hal itu membantu kita memahami sesuatu tentang prinsip kepengurusan. Ketika seseorang memberi dengan murah hati, hal pertama yang muncul di benak kita adalah, apakah ia kaya? Kalau ya, tentu hal itu tidak berat baginya. Akan tetapi, Paulus mengatakan: “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” Jemaat di Filipi memberi bukan karena mereka kaya. Mereka justru memberi dari kemiskinan mereka, selagi mereka dicobai dengan berat.
Hal itu menimbulkan pertanyaan tentang kemampuan mereka dalam memberi. Paulus menyinggung hal ini ketika ia mengatakan, “Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka.” Pernahkah Anda bertanya-tanya, bagaimana mungkin Anda memberi melampaui kemampuan Anda? Paulus mengatakan bahwa jemaat di Filipi memberi atas dasar apa yang mereka miliki, bukan atas dasar apa yang tidak mereka miliki. Sering kali, ketika kita merenungkan tentang hal memberi, kita berpikir tidak realistis. Misalnya, seandainya saja saya mempunyai satu miliar rupiah, saya akan banyak memberi kepada Tuhan. Padahal, kepengurusan bukanlah didasarkan pada apa yang tidak Anda miliki, melainkan pada apa yang Anda miliki.
Saya pernah mendengar sebuah cerita yang terjadi 30 tahun yang lalu. Ada seorang tua-tua di gereja yang adalah seorang milyarder. Pendeta gereja tersebut cenderung bersikap apriori terhadap orang kaya; ia menganggap bahwa tidak mungkin orang yang kaya bisa menjadi orang Kristen yang saleh. Akan tetapi ia tidak mengetahui bahwa tua-tua tersebut adalah seorang milyarder. Sedangkan tua-tua ini, yang sudah cukup tua untuk menjadi ayah sang pendeta, tahu bahwa sang pendeta apriori terhadap orang kaya. Maka pada suatu hari sang tua-tua mengajak sang pendeta jalan-jalan, untuk menasihatinya sebagaimana layaknya seorang ayah menasihati putranya. Dalam perjalanan sang tua-tua mengatakan bahwa ia memiliki sebuah perusahaan dan memiliki banyak rumah. Sang pendeta menanggapi: “Saya tidak tahu apa yang akan saya lakukan seandainya saya memiliki uang sebanyak itu.” Lalu sang tua-tua ini berkata dengan santainya, “Mungkin Tuhan tahu; itulah sebabnya Ia tidak memberimu uang sebanyak itu.” Lalu sang tua-tua mengatakan, bahwa menurut pendapatnya, ia menjadi milyarder karena Allah tahu bahwa ia bisa dipercaya. Ia adalah anak sulung dari sembilan bersaudara. Ayahnya meninggal ketika ia baru mau kuliah, maka ia tidak jadi kuliah. Ayahnya menantangnya untuk menunjang adik-adiknya sampai mereka selesai kuliah agar mereka bisa menjadi misionari lapangan. Akhirnya ia membuat komitmen terhadap ayahnya bahwa ia akan menunjang adik-adiknya kuliah dan sekolah seminari sampai mereka menjadi misionari lapangan, sebab itulah kerinduan ayah dan ibunya. Selama masa krisis ekonomi yang hebat, ketika adik bungsunya berangkat menjadi misionari lapangan, seorang akuntannya menjabat tangannya. Ia heran mengapa si akuntan melakukannya. Lalu sang akuntan itu mengatakan, “Saya hanya ingin tahu seperti apa rasanya menjabat tangan seorang milyarder.” Padahal nilai satu miliar pada waktu itu jauh lebih besar daripada sekarang.
Pada waktu itu, ia turut menopang 120 orang misionari. Ia sendiri sudah pensiun, namun menunjang semua misionari itu sama seperti pekerjaan penuh waktu baginya. Ia berkata kepada sang pendeta, “Allah bisa mempercayakan uang-Nya kepada saya.” Sang pendeta mengatakan, “Seandainya saya mempunyai banyak uang, saya pun akan memberikan banyak kepada Tuhan.” Sang tua-tua bertanya, “Berapa banyak yang kamu berikan sekarang ini?” Ada kesan bahwa orang ini tidak berperasaan! Ia berkata: “Kalau kamu tidak memberikan setidaknya 10 persen sekarang, kamu tidak akan memberi banyak uang kepada Allah seandainya pun kamu mempunyai satu miliar.” Disini kita melihat bahwa kepengurusan bukanlah didasarkan pada apa yang tidak Anda miliki, melainkan pada apa yang Anda miliki.
Mari kita renungkan pola memberi dari jemaat di Filipi saat mereka dipuji sebagai teladan bagi jemaat di Korintus dan bagi kita sekarang. Jemaat di Filipi memberi melampaui kemampuan mereka untuk memberi. Bagaimana bisa? Saya mengenal orang-orang yang mempraktikkan pola kepengurusan ini: Sepasang suami istri akan membuat anggaran dan menentukan berapa yang dapat mereka berikan kepada Allah tahun berikutnya. Katakanlah mereka memutuskan bahwa mereka bisa memberi 5 juta rupiah, namun mereka berkomitmen untuk memberikan 10 juta rupiah. Lalu mereka berdoa dan menyaksikan Allah berkarya selama tahun itu, sehingga lima juta yang kurang akan datang dari sumber-sumber yang tidak terduga. Itulah yang dimaksud dengan memberi melampaui kemampuan Anda. Itulah sebabnya pada awal kedua pasal ini, Paulus mengatakan kepada jemaat di Korintus dan kepada kita, “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia.” Kata kasih karunia dalam bahasa Yunaninya adalah “charis” atau “charisma” yang berarti kuasa Allah dan berkat Allah atas kehidupan Anda. Kasih karunia bukanlah apa yang Anda capai, melainkan apa yang mungkin terjadi oleh karena kasih karunia Allah tercurah dalam kehidupan Anda. Anda bisa membuktikan kasih karunia Allah dalam hal memberi. Itulah yang Paulus maksudkan dengan “kasih karunia memberi”.
Ada juga keseimbangan dalam pemberian jemaat di Filipi. Ketika Paulus menulis, “supaya ada keseimbangan”, ia mengacu kepada sesuatu dalam hal memberi yang sangat subjektif sifatnya. Saya tidak tahu bagaimana Allah melakukannya, namun Allah memang melakukan ini: Allah bisa menerima pemberian dari seseorang yang memberi seperti jemaat di Filipi itu, yang sedang mengalami pencobaan berat, mungkin juga sangat miskin, namun tetap memberi, dan Allah sanggup menerima pemberian sang janda yang tidak seberapa karena kemiskinannya dan mendapatkan lebih banyak dari pemberian tersebut daripada puluhan juta yang diberikan oleh sang milyarder, yang tidak akan pernah membuat sang milyarder merasa kehilangan. Paulus mengatakan bahwa ada keseimbangan yang dimungkinkan oleh kasih karunia Allah dalam hal memberi. Memberi itu proporsional sifatnya. Masing-masing orang hendaknya memberi menurut apa yang ia miliki.
Dalam Perjanjian Lama ada disiplin persepuluhan. Itulah 10 persen pertama dari apa yang dimiliki seseorang. Kata “persepuluhan” artinya “10 persen”. Akan tetapi, hal itu bukan saja 10 persen dari apa yang dimiliki seseorang, melainkan 10 persen pertama dari apa yang dimiliki seseorang. Itulah yang penting tentang persepuluhan. Menurut Maleakhi, mereka merampok Allah kalau mereka tidak memberikan persepuluhan. Selain persepuluhan, yang memang milik Allah, mereka memberikan persembahan. Lalu selain persembahan, mereka memberikan korban bakaran.
Daud menggambarkan tentang korban persembahan di akhir 2 Samuel begini: “Aku tidak mau mempersembahkan kepada TUHAN, Allahku, korban bakaran dengan tidak membayar apa-apa.” Korban persembahan sangatlah proporsional sifatnya. Seandainya kita hanya memberikan persepuluhan, seandainya seseorang mendapatkan 1 miliar sedangkan yang lain hanya mendapatkan 50 juta sebagai penghasilan tahunan, dan mereka sama-sama memberikan persepuluhan, maka orang yang memiliki 1 miliar akan memberikan 100 juta, namun ia masih memiliki 900 juta. Anda bisa hidup senang dengan 900 juta! Mungkin Anda tidak akan merasa berkorban kalau masih mempunyai 900 juta bagi diri Anda sendiri. Orang yang berpenghasilan hanya 50 juta mungkin merasa jauh lebih berkorban ketika memberikan persepuluhan dibandingkan dengan orang yang berpenghasilan 1 miliar. Akan tetapi, seandainya mereka mau mempersembahkan korban, maka sang milyarder pun harus memberikan sesuatu yang membuatnya merasa kehilangan. Ia harus memberikan jauh lebih besar daripada 100 juta. Demikianlah konsep memberi menurut Perjanjian Lama.
Konsep memberi menurut Perjanjian Baru adalah bahwa segala sesuatu itu kepunyaan Allah dan kita hanyalah pengurusnya atau pengelolanya. Persoalan besar dalam kepengurusan adalah bahwa suatu hari kelak Anda mungkin bukan pengurus lagi. Suatu hari kelak Anda akan mendengar suatu panggilan dan yang kemudian Anda dengar adalah: “Berikanlah pertanggungan jawab atas kepengurusanmu”. Kepengurusan tidaklah mengajarkan Anda untuk menyerahkan 10 persen kehidupan Anda kepada Allah. Kepengurusan mengajarkan bahwa seluruhnya adalah kepunyaan Allah dan Anda bertanggung jawab untuk mengurus semua yang telah Allah percayakan kepada Anda. Ketika Anda memberikan pertanggungan jawab atas kepengurusan Anda, persoalannya bukan lagi seberapa banyak yang telah Anda beri, melainkan, mengapa Anda menahan demikian banyak? Mengapa Anda menghabiskan demikian banyak bagi diri Anda sendiri? Persoalannya adalah bagaimana kita mengaturnya. Bagaimana Anda mengelola apa yang Allah percayakan kepada Anda demi kemuliaan Dia?
Keseimbangan adalah suatu prinsip kepengurusan yang indah, yang diteladani oleh jemaat di Filipi bagi jemaat di Korintus. Keseimbangan di sini maksudnya begini: Kalau kita memberi atas dasar apa yang kita miliki, bukan atas dasar yang tidak kita miliki, maka Allah akan memastikan keseimbangan ini. Saya pernah menyaksikan Allah mengambil pemberian sang janda yang tidak seberapa dan lebih memakainya daripada pemberian sang milyarder yang tidak merasa kehilangan sama sekali.
Ketika saya sedang membangun sebuah gereja kecil, seorang pemuda datang ke rumah saya pada suatu Sabtu malam dan memberikan sebuah senapan berburu yang indah. Pemuda ini begitu pemalu dan tegang saat itu. Ia menyodorkan senapan berburunya kepada saya begitu saja, lalu pergi. Hari Senin berikutnya saya membawa senapan berburu itu ke toko senapan. Saya sadar bahwa saya tidak berhak menerima pemberian tersebut, sebab pemuda itu bukan memberikannya kepada saya, melainkan kepada Allah. Sang pemilik toko senapan heran mengapa pemuda itu memberikan senapannya. Ia bertanya: “Apa sih yang Anda khotbahkan, sampai-sampai Anda bisa mendapatkan senapan ini?” Kemudian, saya diundang berbicara di sebuah retret yang diadakan oleh beberapa tua-tua suatu gereja. Mereka tidak menjelaskan, mereka mau saya berbicara tentang apa. Akhirnya saya pun bertanya, “Apa yang bapak-bapak mau saya bicarakan akhir pekan ini?” Setelah cukup lama, terdengarlah suara yang tidak asing, “Ceritakan saja bagaimana Anda mendapatkan senapan itu!” Rupanya sang pemilik toko senapan. Rupanya ia adalah tua-tua di gereja itu. Gereja ini sedang mempertimbangkan untuk pindah dari komunitas yang sekarat ke komunitas baru yang masih berkembang. Mereka sedang memperdebatkan keputusannya. Sebagian orang tidak mau pindah dari komunitas itu karena khawatir kalau-kalau nilai tanahnya akan semakin turun lagi. Sebagai hasil dari retret akhir pekan tersebut, kelompok kecil yang adalah murid-murid Yesus yang sejati di gereja tersebut, yaitu kelompok minoritas yang berkomitmen, mengambil keputusan untuk pindah.
Saya percaya bahwa Allah sanggup menerima sebuah senapan berburu dari seorang pemuda, yang diberikannya dengan berkorban, dan memakai senapan berburu tersebut untuk membantu membangun dua gereja. Saya percaya bahwa Allah sanggup memakai sesuatu yang seperti itu dan berkarya lebih dengannya daripada dengan pemberian yang tidak membuat seorang milyarder merasa kehilangan. Itulah yang Paulus maksudkan ketika ia mengatakan, “Berikanlah menurut apa yang kamu miliki, bukan menurut apa yang tidak kamu miliki, maka Allah akan memelihara keseimbangannya.” Pasti akan terjadi keseimbangan.
Kalau Anda berminat terhadap kepengurusan, kalau Anda harus berkhotbah tentang kepengurusan, atau mengajar di sekolah Minggu tentang kepengurusan, renungkanlah kedua pasal ini: 2 Korintus 8 dan 9. Anda akan menemukan banyak hal sebab kedua pasal ini adalah dua pasal yang paling luar biasa dalam Alkitab tentang topik kepengurusan. Motivasi Paulus menulis kedua pasal ini adalah untuk membantu orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem. Paulus berupaya memotivasi jemaat di Korintus untuk terlibat dalam hal memberi untuk meringankan penderitaan orang-orang percaya Yahudi di Yerusalem dan Yudea. Untuk menantang mereka agar memberi, Paulus memuji pola pemberian dari jemaat terbaiknya, yaitu jemaat di Filipi. Paulus mengatakan, “Kalau kalian ingin berpartisipasi dalam karya Allah, beginilah prinsip-prinsip kepengurusan yang akan menunjukkan kepada kamu bagaimana caranya menjadi pengurus yang setia”.
Bagaimana dengan Anda? Sadarkah Anda bahwa segala yang Anda miliki itu kepunyaan Allah, dan bahwa Ia telah meminta Anda untuk menjadi pengurusnya yang baik? Apakah Anda memberi dengan sukacita untuk pekerjaan Tuhan? Apakah Anda memberi dengan pengorbanan? Kalau Anda tidak memiliki banyak, mungkin hal itu adalah karena Allah tidak bisa mempercayakan banyak kepada Anda. Setialah dengan apa yang Anda miliki, maka Allah akan memberkati Anda, itulah janji-Nya. Pelajarilah Firman Allah, maka Anda akan mengetahui bagaimana caranya menjadi setia dengan segala yang telah Allah percayakan kepada Anda. Sampai jumpa.
|
|