| |
Sungguh gembira bahwa Anda bisa bergabung dengan kami dalam studi Alkitab ini. Selamat datang di satu lagi kelas Sekolah Alkitab Mini, di mana kita mempelajari keseluruhan Alkitab, buku terpenting di seluruh dunia sebab Alkitab adalah Firman Allah. Studi ini telah mengantarkan kita ke para nabi Perjanjian Lama. Sekarang, kita sedang mempelajari nabi Mikha, yang memberi kita khotbah positif yang mengagumkan tentang bagaimana seharusnya pemerintahan itu. Saat Mikha memberi kita khotbah yang positif tentang pemerintahan, Mikha juga meramalkan berdasarkan wahyu yang diterimanya, tentang pembuangan ke Babel serta kepulangan dari pembuangan ke Babel tersebut. Mikha menulis: “Maka sekarang, mengapa engkau berteriak dengan keras? Tidakkah raja di tengah-tengahmu? Atau sudah binasakah penasihatmu, sehingga engkau disergap kesakitan seperti perempuan yang melahirkan? Menggeliatlah dan mengaduhlah, hai putri Sion, seperti perempuan yang melahirkan! Sebab sekarang terpaksa engkau keluar dari kota dan tinggal di padang, terpaksa engkau berjalan sampai Babel; di sanalah engkau akan dilepaskan, disanalah engkau akan ditebus oleh Tuhan dari tangan musuhmu.”
Pada sesi yang terakhir, kita telah belajar dari Kitab Mikha bahwa ketika Mikha memberikan nubuat Natalnya dengan memberitahukan di mana Mesias akan lahir, ia juga menubuatkan kedatangan sang Mesias untuk kedua kalinya. Melalui penyataan yang bersifat nubuat, Mikha meramalkan tentang penyebaran umat Allah dan tentang pembalasan Allah terhadap bangsa-bangsa yang memperbudak dan menganiaya umat-Nya yang tersebar itu.
|
Mikha juga meramalkan penyerbuan oleh bangsa Asyur. Ingatkah Anda bahwa ketika bangsa Asyur menyerbu Yehuda, mereka terhadang di gerbang Yerusalem ketika Yesaya sedang berjaya sebagai seorang nabi? Mikha juga membicarakan hal itu dan menggambarkan bagaimana nubuat Yeremia menyelamatkan Yehuda dari bangsa Asyur. Akan tetapi, Mikha juga membicarakan tentang pembuangan ke Babel dan menggambarkan pengalaman dibuang tersebut, yang akan mengobati Yehuda dari dosa penyembahan berhala mereka.
“… maka engkau tidak lagi akan sujud menyembah kepada buatan tanganmu. Aku akan menyentakkan tiang-tiang berhalamu dari tengah-tengahmu dan akan memunahkan berhalamu; Aku akan membalas dendam dengan murka dan kehangatan amarah, kepada bangsa-bangsa yang tidak mau mendengarkan.” |
Saat kita mempelajari khotbah Mikha yang ketiga, kita menemukan bahwa Mikha melanjutkan khotbahnya yang positif dalam pasal 6 dan 7. Di sinilah Mikha sangat fasih. Mikha mengemukakan kiasan “kasus pengadilan” antara Allah dengan umat-Nya. Mikha mengatakan: “Baiklah dengar firman yang diucapkan Tuhan: Bangkitlah, lancarkanlah pengaduan di depan gunung-gunung, dan biarlah bukit-bukit mendengar suaramu! Dengarlah, hai gunung-gunung, pengaduan Tuhan, dan pasanglah telinga, hai dasar-dasar bumi! Sebab Tuhan mempunyai pengaduan terhadap umat-Nya, dan Ia berperkara dengan Israel. “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah Kulelahkan? Jawablah Aku! Sebab Aku telah menuntun engkau keluar dari tanah Mesir dan telah membebaskan engkau dari rumah perbudakan dan telah mengutus Musa dan Harun dan Miryam sebagai penganjurmu. Umat-Ku, baiklah ingat apa yang dirancangkan oleh Balak, raja Moab, dan apa yang dijawab kepadanya oleh Bileam bin Beor dan apa yang telah terjadi dari Sitim sampai ke Gilgal, supaya engkau mengakui perbuatan-perbuatan keadilan dari Tuhan.”
Bentuk yang Mikha gunakan di sini sangatlah fasih. Ringkasnya, Mikha mengajak kita ke pengadilan bersama Allah. Mikha sangat peduli tentang pemerintahan dan fungsi pemerintahan. Oleh karenanya Mikha berkhotbah, “Bayangkanlah ruang pengadilan besar di mana Allah membawa gunung-gunung dan bukit-bukit sebagai saksi. Engkau akan hadir di pengadilan bersama Allah. Allah akan menantangmu dengan pertanyaan seperti, apakah engkau tidak ingat sama sekali, tentang segala kebaikan yang Kulakukan bagimu? Lalu mengapa engkau berpaling dari-Ku?”
Dengan latar belakang seperti itu, Mikha mengajukan pertanyaan: “Dengan apakah aku akan pergi menghadap Tuhan dan tunduk menyembah kepada Allah yang di tempat tinggi? Akan pergikah aku menghadap Dia dengan korban bakaran, dengan anak lembu berumur setahun? Berkenankah Tuhan kepada ribuan domba jantan, kepada puluhan ribu curahan minyak? Akan kupersembahkankah anak sulungku karena pelanggaranku dan buah kandunganku karena dosaku sendiri? Pertanyaan-pertanyaan ini mempersiapkan mereka yang mendengarkan Mikha akan suatu bagian Firman terbaik dalam kitab Mikha, yaitu Mikha 6:8 yang dianggap oleh banyak orang sebagai ayat terbesar dalam keseluruhan Firman Allah: "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut Tuhan dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?”
Konteks di mana Mikha memberikan pernyataan besar tersebut adalah begini: Bayangkanlah sidang pengadilan antara Allah dengan umat-Nya. Setelah Allah menuduh umat-Nya, diajukanlah pertanyaan, “Sekarang apa yang dapat engkau lakukan untuk menentramkan hati Allah?” Kembali Alkitab menyampaikan pesan yang konsisten. Yaitu pesan tentang kasih karunia. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk menebus dosa-dosa kita. Tidak ada yang bisa kita lakukan untuk mencapai, meraih, mendapatkan atau memberikan jasa demi pengampunan Allah. Seandainya tidak demikian, maka orang-orang seperti Daud, ketika berbuat dosa, sudah akan menggiring kawanan ternaknya ke kemah ibadah, ke Bait Salomo, dan mempersembahkan korban demi dosa-dosanya. Siapa pun yang mempunyai pemahaman rohani yang mendalam seperti Daud, mengetahui apa yang Allah kehendaki ketika Allah membuat sistem persembahan korban darah tersebut. Yang sesungguhnya Allah kehendaki, menurut Daud, yang dilambangkan oleh persembahan korban tersebut, adalah jiwa yang hancur, hati yang patah dan remuk. Ketika perasaan itu dialami orang yang berdosa, maka Allah baru akan berkenan dengan persembahan korban yang merupakan ekspresi yang kelihatan dari pengakuan serta pertobatan orang yang berdosa. Mikha pun mengajarkan hal yang sama. Yang dikatakan Mikha adalah begini: Sungai minyak zaitun pun tidak akan berkenan kepada Allah dan ribuan anak lembu dan domba jantan pun tidak akan memuaskan Allah. Yang sesungguhnya Allah kehendaki adalah hati yang benar. Yang sesungguhnya Allah kehendaki adalah keadilan, kasih, kerendahan hati, dan kesalehan. Seperti Amos dan nabi-nabi lainnya, Mikha sangat menekankan konsep keadilan, yang dengan fasih digambarkannya dalam khotbah besarnya ini.
Dalam khotbah Mikha yang ketiga, kita membaca pernyataan Mikha yang dikutip oleh Yesus. Dalam Matius 10, Yesus mengutip pernyataan Mikha ketika mengatakan, “Janganlah percaya kepada teman, janganlah mengandalkan diri kepada kawan! Jagalah pintu mulutmu terhadap perempuan yang berbaring di pangkuanmu! Sebab anak laki-laki menghina ayahnya, anak perempuan bangkit melawan ibunya, menantu perempuan melawan ibu mertuanya; musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya.” Dalam konteks demikian, Mikha melanjutkan, “Tetapi aku ini akan menunggu-nunggu Tuhan, akan mengharapkan Allah yang menyelamatkan aku; Allahku akan mendengarkan aku! Janganlah bersukacita atas aku, hai musuhku! Sekalipun aku jatuh, aku akan bangun pula, sekalipun aku duduk dalam gelap, Tuhan akan menjadi terangku. Aku akan memikul kemarahan Tuhan, sebab aku telah berdosa kepada-Nya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilan-Nya. Musuhku akan melihatnya dan dengan malu ia akan menutupi mukanya …”
Apakah Anda melihat bagaimana seluruh nabi ini mengakhiri nubuat mereka dengan pesan pengharapan? Ketika Yunus berada di dalam perut ikan, ia mengatakan, “Keselamatan adalah dari Tuhan.” Saat Yunus mengatakan demikian, Allah menyelamatkannya dari perut ikan tersebut. Seluruh nabi ini memberikan pesan pengharapan yang sama. Ketika Yehuda sedang mengalami pembuangan ke Babel, persis seperti Yeremia yang sedang menulis Ratapan, mereka mendapatkan penyataan atau wahyu ini: “Allah tidak pernah berhenti mengasihi kita.” Oleh karenanya, kita percaya bahwa kelepasan akan datang dari Allah. Mikha bergabung dengan Yunus dan Yeremia ketika ia mengatakan: “Sekalipun aku duduk dalam gelap, Tuhan akan menjadi terangku. Aku akan memikul kemarahan Tuhan, sebab aku telah berdosa kepada-Nya, sampai Ia memperjuangkan perkaraku dan memberi keadilan kepadaku, membawa aku ke dalam terang, sehingga aku mengalami keadilan-Nya.”
Di zaman Perjanjian Lama, ungkapan ini sering digunakan: “mengalami keadilan.” Pengharapan yang kita semua miliki dalam hati, adalah keyakinan bahwa kita akan mengalami keadilan suatu hari kelak. Dalam Mazmur 34, Daud juga mengkhotbahkan tentang pengharapan ketika ia menanyakan, “Sudahkah engkau menemukan bahwa keadilan yang engkau harapkan itu dari Tuhan?” Ungkapan “mengalami keadilan” muncul dari khotbah seperti itu. Untuk mengalami keadilan itulah manusia hidup. Itulah yang Mikha khotbahkan dalam Mikha 6:9 sampai Mikha 7:10 dalam khotbahnya yang ketiga, yaitu khotbah positif tentang pengharapan. Mikha mengkhotbahkan: “Engkau akan mengalami keadilan-Nya.”
Khotbah Mikha yang ketiga ini juga diakhiri dengan penyataan yang bersifat nubuat. Di akhir zaman, demikian Mikha menubuatkan, “Akan datang suatu hari bahwa pagar tembokmu akan dibangun kembali; pada hari itulah perbatasanmu akan diperluas. Pada hari itu orang akan menghadap engkau dari Asyur sampai Mesir, dari Mesir sampai sungai Efrat, dari laut ke laut, dari gunung ke gunung. Tetapi bumi akan menjadi tandus oleh karena penduduknya, sebagai akibat perbuatan mereka. Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri, yang terpencil mendiami rimba di tengah-tengah kebun buah-buahan. Biarlah mereka makan rumput di Basan dan di Gilead seperti pada zaman dahulu kala. Biarlah bangsa-bangsa melihatnya dan merasa malu …” Kembali, di sini kita membaca tentang penyataan yang bersifat nubuat yang belum tergenapi. Hal ini kembali mengatakan bahwa Yerusalem akan menjadi tempat dari mana seluruh dunia akan diperintah oleh sang Mesias. Setelah menunjukkan segala ketidakmampuan pemerintahan, undangan kepada sang Mesias yang diramalkan kedatangannya oleh Mikha adalah, “Gembalakanlah umat-Mu dengan tongkat-Mu, kambing domba milik-Mu sendiri. Biarlah mereka hidup damai dan makmur.” Mikha meramalkan bahwa seluruh dunia akan berziarah ke Yerusalem dan melihat bahwa Yerusalem benar-benar merupakan Kota Suci.
Di Israel sekarang ini, sumber penghasilan nomor satu adalah buah jeruk. Sumber penghasilan nomor dua adalah pariwisata. Nubuat Mikha bahwa seluruh dunia akan berziarah ke Yerusalem sedang digenapi. Kalau Anda berkunjung ke Israel sekarang ini, Anda akan melihat bangsa-bangsa lain juga mengunjungi Kota Suci ini. Pariwisata di Israel sekarang ini menggenapi nubuat Mikha. Akan tetapi, akan ada penggenapan yang lebih bermakna di hari-hari mendatang.
Di akhir Kitab Mikha, Mikha memberikan satu lagi intisari khotbahnya yang besar. Mikha menunjukkan pengenalannya akan karakter Allah ketika mengatakan, “Siapakah Allah seperti Engkau yang mengampuni dosa, dan yang memaafkan pelanggaran dari sisa-sisa milik-Nya sendiri, yang tidak bertahan dalam murka-Nya untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia? Biarlah Ia kembali menyayangi kita, menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut. Kiranya Engkau menunjukkan setia-Mu kepada Yakub, dan kasih-Mu kepada Abraham seperti yang telah Kaujanjikan dengan bersumpah kepada nenek moyang kami sejak zaman purbakala!”
Walaupun para nabi ini menyampaikan khotbah-khotbah tentang malapetaka dan kesuraman, yang menyembur-nyemburkan api dan belerang serta penghakiman, namun mereka juga selalu mengkhotbahkan tentang Allah yang maha pengasih dan maha penyayang. “Engkau tidak bertahan dalam murka-Mu untuk seterusnya, melainkan berkenan kepada kasih setia.” Allah yang dikhotbahkan oleh Mikha adalah Allah yang penuh belas kasih. Bersamaan dengan nabi-nabi lain, Mikha memberitakan Allah yang maha pengampun, maha setia, penuh kasih karunia, dengan kasih yang teguh, tidak bersyarat, dan tidak berubah. Mikha menekankan bahwa kita tidak bisa mendapatkan atau meraih kasih Allah melalui perbuatan yang baik, dan kita pun tidak akan kehilangan kasih Allah hanya karena perbuatan yang tidak baik.
Allah yang dikhotbahkan oleh Mikha menegaskan inti kata “kasih karunia.” “Kasih karunia” artinya “anugerah dan berkat Allah yang tidak kita dapatkan karena perbuatan kita yang baik.” Itulah sebabnya kasih karunia Allah merupakan kabar baik, namun hal itu baru setengah dari makna kata “kasih karunia.” Sisa makna kata ini adalah, kalau Anda tidak meraih kasih karunia Allah melalui perbuatan yang baik, Anda juga tidak akan kehilangan kasih karunia Allah karena perbuatan yang tidak baik. Demikianlah yang dikatakan Mikha dalam intisari khotbahnya pada akhir Mikha 7. Penutup khotbah Mikha serupa dengan khotbah nabi-nabi lainnya, dan konsisten dengan khotbah-khotbahnya sendiri dalam Kitab Mikha. Jika dipahami dengan benar, maka pesan seluruh nabi yang telah kita pelajari, mulai dari Yesaya hingga Mikha, adalah pesan pengharapan yang didasarkan pada kasih karunia Allah.
Bukan saja kita diberitahu dalam khotbah Mikha yang kedua di mana Kristus, sang Mesias berasal, melainkan juga umat Allah, yaitu Israel, diberitahu bahwa Allah akan menuntut balas terhadap bangsa-bangsa yang telah menindas Israel. Menurut nubuat Mikha, suatu hari kelak Allah akan mengambil alih pemerintahan dari umat manusia dan memerintah sendiri dengan benar dari Yerusalem.
Apa penerapan devosional dari Kitab Mikha yang menakjubkan ini? Saya ingin berfokus pada kasih dan kasih karunia Allah, namun kasih dan kasih karunia ini diseimbangkan dengan keadilan Allah. Kalau Anda tidak pernah menerima karunia-Nya berupa kasih karunia – dimana Anda tidak bisa meraihnya dengan berlaku benar atau membelinya dengan cara apa pun, dan juga berarti bahwa Anda tidak akan kehilangannya begitu Anda menerimanya - maka terimalah karunia Allah ini hari ini juga. Bicaralah kepada Allah yang Mahatinggi; itulah yang kita sebut doa. Mintalah kasih karunia-Nya dan belas kasihan-Nya hari ini juga dan mintalah agar Ia menolong Anda hidup dalam jalan kebenaran-Nya. Lalu tulislah surat kepada saya dan ceritakanlah sehingga kami dapat mengirimkan literatur yang membantu.
|
|