| |
Kecaplah dan Lihatlah (2)
|
Selamat datang di satu lagi studi tentang Kitab Mazmur. Dalam studi sebelumnya tentang Kitab Mazmur, kita telah membahas mazmur-mazmur Orang yang Diberkati, Mazmur Pujian dan Ibadah, serta Mazmur Doa. Ada satu lagi jenis mazmur yang perlu kita pelajari selagi kita mengakhiri studi tentang Kitab Mazmur, yaitu Mazmur Nubuat. Dalam sesi ini, saya ingin membahas sebuah Mazmur Nubuat yang definitif. Daud digambarkan sebagai seorang nabi dalam Alkitab karena pada hari Pentakosta, khotbah Petrus diambil dari Mazmur 16. Dalam Mazmur 16 Daud menulis, “Tali pengukur jatuh bagiku di tempat-tempat yang permai; ya, milik pusakaku menyenangkan hatiku. Aku memuji Tuhan, yang telah memberi nasihat kepadaku … Aku senantiasa memandang kepada Tuhan; karena Ia berdiri di sebelah kananku, aku tidak goyah. Sebab itu hatiku bersukacita dan jiwaku bersorak-sorak.” Sejauh ini, ini hanyalah suatu mazmur yang indah, namun sekarang mazmur ini menjadi mazmur nubuat ketika Daud melanjutkan, “… bahkan tubuhku akan diam dengan tenteram; sebab Engkau tidak menyerahkan aku ke dunia orang mati, dan tidak membiarkan Orang Kudus-Mu melihat kebinasaan.”
|
Disini Daud bukan membicarakan tentang dirinya sendiri. Petrus menyatakan hal itu pada hari Pentakosta. Ketika Petrus berkhotbah dari Mazmur 16 pada hari Pentakosta, ia mengatakan, “Dengarlah, Daud sudah wafat dan makamnya masih ada bersama kita hingga sekarang.” Kalau Anda pergi ke negeri Israel sekarang, Anda masih bisa mengunjungi makam Daud. Makam Daud masih ada bersama kita. Kenyataannya Daud sudah mati, dan tubuhnya sudah melihat kebinasaan. Jadi, Petrus mengatakan, “Daud bukan membicarakan tentang dirinya sendiri. Daud membicarakan tentang Yesus Kristus. Ketika Yesus Kristus dibangkitkan dari antara orang mati, Yesus menggenapi nubuat dalam Mazmur 16. Nubuat yang tergenapi itu menjadikan Mazmur 16 sebagai Mazmur Nubuat.
Mazmur 2 juga merupakan Mazmur Nubuat. Dalam Mazmur 2 kita membaca, “Mengapa rusuh bangsa-bangsa, mengapa suku-suku bangsa mereka-reka perkara yang sia-sia? Raja-raja dunia bersiap-siap dan para pembesar bermufakat bersama-sama melawan Tuhan dan yang diurapi-Nya (yaitu Mesias): ‘Marilah kita memutuskan belenggu-belenggu mereka dan membuang tali-tali mereka daripada kita!’ Dia yang bersemayam di sorga, tertawa: Tuhan mengolok-olok mereka.” Lalu pemazmur berkata bahwa suatu hari kelak Tuhan akan datang kepada para penyembah berhala yang sedang rusuh di hadapan-Nya itu. Kedatangan Tuhan digambarkannya begini: “Engkau akan meremukkan mereka dengan gada besi, memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.”
Kalau Anda mengenal lagu “Messiah” gubahan Handel, Anda tentu mengenal lirik ini, “Engkau akan memecahkan mereka seperti tembikar tukang periuk.” Apa maksudnya? Jawabannya adalah nubuat tentang Mesias. Ketika Yesus datang untuk pertama kalinya, mereka menarik janggut-Nya, mereka memukuli Dia, mereka meletakkan mahkota duri pada kepala-Nya, mereka meludahi Dia dan mereka menyalibkan Dia. Alkitab mengatakan kepada kita bahwa pada kesempatan berikutnya, tidak akan terjadi demikian lagi. Coba Anda membayangkan semua bangsa penyembah berhala di muka bumi ini. Lalu bayangkan sebuah vas cantik dari keramik. Bayangkan sebuah gada besi datang menghantam vas cantik tersebut dan meremukkannya. Menurut Mazmur 2, itulah yang akan dilakukan oleh Yesus terhadap bangsa penyembah berhala di muka bumi pada kesempatan berikutnya. Yesus tidak melakukan hal itu pada saat kedatangan-Nya yang pertama.
Para rasul terus menanyakan kepada Yesus: “Kapan Engkau akan meruntuhkan kekaisaran Romawi? Kapan Engkau akan menghentikan segala kekonyolan ini?” Para rasul tidak dapat memahami mengapa Yesus tidak menghancurkan kekaisaran Romawi, sedangkan mereka mengetahui isi Kitab Suci seperti Mazmur 2. Yang tidak mereka pahami adalah bahwa akan ada dua kedatangan Yesus. Dalam kedatangan-Nya yang pertama, Yesus menjadi Juruselamat yang menderita. Dalam kedatangan-Nya yang kedua kelak, Ia akan menjadi Raja segala raja, Tuhan segala tuan, dan kebenaran itu didasarkan pada nubuat-nubuat seperti yang ditemukan dalam Mazmur 2.
Mazmur Nubuat kesukaan saya adalah Mazmur 46, dimana dinubuatkan apa yang oleh Petrus disebut sebagai “hari Tuhan.” Banyak nabi menyebutnya Hari Tuhan. Kalau Anda mempelajari dalam Alkitab mengenai hal-hal yang akan datang, Anda tahu bahwa apa yang kita sebut sebagai “Kedatangan Yesus Kristus yang Kedua” adalah serangkaian kejadian yang dapat mencakup waktu yang sangat lama. Ada banyak ketidaksepahaman di antara para ahli teologia tentang kronologi kejadian-kejadian ini, namun Kedatangan Yesus Kristus yang Kedua adalah serangkaian kejadian yang akan terjadi pada waktunya kelak. Salah satu kejadian itu disebut “Hari Tuhan”. Petrus mengajarkan bahwa ketika Hari Tuhan datang, segala hal yang berwujud akan lenyap. Petrus menubuatkan bahwa, “Pada hari itu langit akan binasa dalam api dan unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya”.
Saya pernah bertanya kepada seorang ahli fisika nuklir, apakah ia sanggup menggambarkan tentang ledakan termonuklir dengan istilah yang awam yang bisa saya pahami. Setelah merenungkannya dengan cukup lama bagaimana ia bisa menjelaskannya kepada orang-orang awam seperti saya, ia mengatakan, “Itu akan menjadi seperti panas yang sangat tinggi, yang melumerkan segalanya. Seandainya Anda mempunyai sebuah dinding beton sepanjang 1 km dengan tinggi 30 m dan tebal 30 m, lalu seandainya Anda meledakkan termonuklir dekat dinding tersebut, maka beton tersebut akan menguap seperti asap.” Lalu saya bertanya, “Percayakah Anda bahwa lebih dari 2.000 tahun yang lalu, seorang nelayan yang buta huruf memberikan suatu gambaran tentang ledakan termonuklir?” Lalu saya menunjukkan 2 Petrus 3 dimana Petrus menubuatkan bahwa unsur-unsur dunia akan hancur karena nyalanya. Lalu saya menjelaskan kepadanya bahwa Petrus bukanlah satu-satunya penulis Alkitab yang menubuatkan hal seperti itu, melainkan, nabi-nabi yang hidup seribu tahun sebelum Petrus pun sudah menubuatkan hal yang sama. Salah satunya adalah penulis Mazmur 46.
Jika kita mempelajari Kitab Para Nabi, kita akan melihat bahwa ketika para nabi Ibrani Perjanjian Lama itu mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi, mereka menyatakannya dalam bentuk lampau, sebab bagi mereka hal itu sudah terjadi. Saat Allah mengatakan bahwa suatu peristiwa akan terjadi, maka para nabi mengemukakannya seolah-olah hal itu sudah terjadi.
Mazmur 46 mengatakan: “Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti. Sebab itu kita tidak akan takut, sekalipun bumi berubah, sekalipun gunung-gunung goncang di dalam laut; sekalipun ribut dan berbuih airnya, sekalipun gunung-gunung goyang oleh geloranya.” Sela. (Sela artinya “berhentilah dan renungkanlah hal itu baik-baik.”) “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi. Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumi pun hancur. Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Sela. “Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, yang mengadakan pemusnahan di bumi, yang menghentikan peperangan sampai ke ujung bumi, yang mematahkan busur panah, menumpulkan tombak, membakar kereta-kereta perang dengan api! ‘Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!’ Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Sela.
Alkitab tidak mengajarkan bahwa bumi akan tetap ada untuk selamanya. Alkitab mengajarkan yang sebaliknya. D.L. Moody pernah mengatakan, berdasarkan ayat-aya Firman Tuhan seperti Mazmur 46 ini, bahwa “Dunia itu ibarat kapal yang sedang tenggelam, dan tugas kita bukanlah menyelamatkan kapal ini atau mencat kapal ini. Tugas kita adalah menyelamatkan sebanyak mungkin orang dari kapal ini sebelum kapal ini tenggelam, sebab saudaraku, kapal ini benar-benar sedang tenggelam!” Demikianlah seharusnya kita menafsirkan dan menerapkan Mazmur Nubuat seperti Mazmur 46 ini.
Alkitab secara konsisten mengajarkan bahwa akan datang “Hari Tuhan.” Hari Tuhan menggambarkan suatu bencana dimana segalanya akan musnah terbakar.
20 tahun yang lalu, saya mempunyai seorang teman pengkhotbah, yang sering mengatakan, “Semuanya akan musnah terbakar.” Kalau Anda membeli sepeda baru atau mobil baru atau harta benda lainnya, dan ketika ia melihat barang baru Anda, ia akan mengatakan, “Semuanya akan musnah terbakar.” Ia akan datang dan melihat sebuah gereja baru dan mengatakan, “Semuanya akan musnah terbakar.” Terkadang saya suka menanggapinya demikian, “Saya tahu itu, namun sekarang ini saya tidak mau mendengarnya.” Hanya itulah yang tampaknya dipikirkan olehnya. Apakah Alkitab mengajarkan bahwa semuanya akan musnah terbakar? Dari 2 Petrus 3, Petrus memang mengatakan bahwa semuanya akan musnah terbakar.
Lalu Petrus menantang kita: “Mengingat bahwa semuanya akan musnah terbakar, bagaimana seharusnya kita hidup? Apakah sebaiknya kita berfokus pada hal-hal yang material, atau apakah sebaiknya kita mengembangkan manusia rohaniah kita, yang kekal, yang tidak akan binasa selamanya, serta hal-hal rohani yang takkan dapat diguncangkan atau dihancurkan?”
Penulis Mazmur 46 mulai membagikan pemikiran-pemikiran nubuat seperti halnya pemikiran-pemikiran nubuat Petrus, yang menggambarkan bencana-bencana alam yang menghancurkan bumi. Menurut Mazmur 46, itulah kabar buruknya,. Akan tetapi kabar baiknya adalah: Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti.
Sang pemazmur menggunakan kiasan yang indah untuk menyampaikan kabar baik lebih lanjut: “Kota Allah, kediaman Yang Mahatinggi, disukakan oleh aliran-aliran sebuah sungai. Allah ada di dalamnya, kota itu tidak akan goncang; Allah akan menolongnya menjelang pagi.” Apa maksudnya sungai di sini? Banyak yang meyakini bahwa sungai ini adalah umat Allah dalam Perjanjian Lama serta Jemaat Kristus. Sungai ini adalah umat Allah yang mengalir ke seluruh dunia, langsung ke dalam kota Allah, yang adalah sorga yang kekal. Oleh karenanya, umat Allah itu tetap ada dan menjadi bagian dari apa yang kekal. Itulah sebabnya kita seharusnya menghargai umat Allah dan berkorban demi pembangunan Jemaat Kristus yang sejati. Yesus sendiri mengatakan, “Aku akan membangun Jemaat-Ku, dan alam maut tidak akan menguasainya.” Jemaat apa yang sedang dibangun Yesus Kristus ini? Dalam Mazmur 46, Jemaat itulah sungai yang mengalir melalui dunia ini ke dalam hadirat Allah yang kekal.
Ketika sampai ke pertengahan Mazmur 46, kita membaca penggambaran tentang Hari Tuhan dalam bentuk nubuat yang telah tergenapi, seolah-olah hal itu sudah terjadi. Seolah-olah Hari Tuhan yang dahsyat dan mengerikan telah terjadi dan kita diangkut menggunakan helikopter seperti seorang gubernur yang sedang meninjau bekas bencana. Kita membaca penggambaran tentang Hari Tuhan dalam bentuk nubuat yang telah tergenapi: “Bangsa-bangsa ribut, kerajaan-kerajaan goncang, Ia memperdengarkan suara-Nya, dan bumi pun hancur.” Laporan kerusakan ini ditulis tentang suatu kejadian di masa depan yang seolah-olah sudah terjadi. Di tengah-tengah kabar buruk ini kita membaca, “Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Ingatlah bahwa bahkan ketika segalanya musnah terbakar pun, Allah adalah tempat perlindungan kita. Kembali, kita sedang meninjau kerusakan akibat bencana di masa depan ini, yang seolah-olah sudah terjadi. Kita mendengar: “Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan, yang mengadakan pemusnahan di bumi.” Di tengah-tengah Mazmur Nubuat yang menakjubkan ini Anda menemukan salah satu ayat terbesar dalam Kitab Mazmur: “‘Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!’ Tuhan semesta alam menyertai kita, kota benteng kita ialah Allah Yakub.” Berhentilah dan renungkanlah itu baik-baik.
Di tengah-tengah mazmur ini, dimana kita diberitahu tentang Hari Tuhan yang dahsyat dan mengerikan, dimana kita diberitahu bahwa segalanya akan musnah terbakar, kita diberikan nasihat yang berarti: “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah!” Pernahkah Anda berdiam diri cukup lama untuk mengalami hadirat Allah yang ilahi? Sebagian besar orang demikian sibuk dan demikian cepat hidupnya sehingga tidak pernah berdiam diri cukup lama untuk mengalami hadirat Allah yang ilahi. Akan tetapi beginilah nasihat Mazmur 46: “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah.” Dalam Kitab Ibrani, Allah mengatakan: “Kalau engkau ingin datang kepada-Ku, engkau harus percaya bahwa Akulah Tuhan dan bahwa Aku memberikan upah kepada mereka yang giat mencari Aku.” Apakah Anda benar-benar percaya bahwa Allah adalah Allah? Apakah Anda sudah mengetahui dari pengalaman, bahwa Allah adalah Allah? Pernahkah Anda mengalami hadirat Allah yang ilahi? Sang pemazmur pada intinya menantang kita begini: “Suatu hari kelak, semuanya akan musnah terbakar; suatu hari kelak, gunung-gunung akan dibuang ke dalam laut, seluruh laut akan bergelora dan berbuih akibat gempa bumi, dan goncangnya pegunungan serta gelora lautan akan memekakkan telingamu. Ketika hal itu terjadi, satu-satunya hal yang penting adalah: Apakah engkau mengenal Allah? Apakah engkau akan dapat mengatakan, ‘Allah adalah tempat perlindunganku dan kekuatanku? Sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti’?”
Cara seorang yang bijaksana mempersiapkan dirinya menghadapi Hari Tuhan adalah dengan berdiam diri sekarang juga dan mengetahui bahwa Allah adalah Allah, sehari demi sehari, sepanjang hari. Hal ini membawa pada suatu ungkapan alternatif yang menarik yaitu: “Rileks saja, relakan saja, dan ketahuilah dari pengalaman, bahwa Allah adalah Allah dan bahwa kehendak Allahlah yang akan terjadi.”
Hanya sedikit sekali hal yang kekal dan abadi di dunia ini. Itulah sebabnya maka kita diberikan Kitab Puisi. Ingatlah bahwa Kitab Puisi ditujukan kepada manusia batiniah. Ada manusia lahiriah dan ada manusia batiniah. Manusia lahiriah menderita kemerosotan terus menerus dan manusia lahiriah ini akan hancur sepenuhnya suatu hari kelak. Ketika kita mempelajari 1 Korintus 15 dalam Perjanjian Baru, yaitu suatu pasal mengenai kebangkitan, maka kita akan menemukan suatu perikop mendalam dimana Rasul Paulus mengajarkan tentang takdir yang hakiki bagi manusia lahiriah. Paulus mengajarkan bahwa ketika manusia lahiriah mati, Anda bukan menguburkannya, melainkan menaburkannya seperti benih. Anda menaburkan manusia lahiriah dengan keyakinan dan pengharapan akan kebangkitan kembali. Menurut Paulus, suatu hari kelak Allah akan membangkitkan manusia lahiriah itu, tubuh itu, dari antara orang mati. Paulus memberikan gambaran yang luar biasa mengenai manusia lahiriah dan manusia batiniah. Dalam pasal yang luar biasa ini, Paulus mengatakan bahwa manusia lahiriah hanyalah kemah di mana Anda tinggal, ibarat wadah yang bisa dibuang, benih yang akan ditanam suatu hari kelak. Manusia batiniah merupakan bagian dari Anda yang kekal. Manusia batiniah adalah bagian dari Anda yang akan hidup selamanya bersama dengan Allah suatu hari kelak. Menurut Kitab Puisi dan menurut Rasul Paulus, dua realita besar dalam kehidupan ini ialah Allah dan manusia batiniah Anda.
Mazmur 46 juga memberi kita gambaran ibadah yang baik. Menurut mazmur ini, ibadah adalah penyelarasan antara manusia batiniah Anda dengan hadirat Allah yang ilahi. Diamlah dan ketahuilah. Kata “mengetahui” dalam bahasa Yunani dan Ibrani adalah sebuah kata yang menggambarkan keintiman. Misalnya, dalam Kitab Kejadian, kita membaca bahwa Adam mengetahui istrinya dan istrinya mengandung. Kata “mengetahui” dalam konteks itu berarti mengenal secara intim melalui suatu pengalaman. Mazmur 46 mendorong kita untuk berdiam diri dan mengenal Allah melalui suatu hubungan dan melalui pengalaman kita. Kita harus mengetahui bahwa Allah adalah Allah dan mengetahui apa kehendak-Nya. Berdasarkan Mazmur 46, apa sebenarnya kehendak Allah? Allah menghendaki setiap generasi, di seluruh bumi, mengenal Dia dan mengetahui kehendak-Nya. Apa yang Allah kehendaki? Dalam kedua mazmur ini, Allah menghendaki untuk ditinggikan di antara bangsa-bangsa dan ditinggikan di atas bumi.
Pernahkah Anda berdiam diri cukup lama untuk mengenal Allah? Pernahkah Anda berdiam diri cukup lama untuk mengetahui kehendak Allah? Karya Allah dalam masa kita sekarang adalah bahwa Allah sedang membangun Jemaat-Nya. Menurut Perkataan Yesus di Bukit Zaitun dalam Matius 24 dan 25, Injil harus diberitakan ke seluruh dunia sebagai kesaksian bagi segala bangsa, baru setelah itu segalanya berakhir. Suatu hari kelak, entah di mana, seorang misionari akan memberitakan Injil di tempat yang jauh lalu Tuhan akan berkata, “Sekarang Aku bisa menurunkan tirainya sebab Injil telah dikhotbahkan di seluruh dunia sebagai kesaksian bagi segala bangsa.” Itulah yang Yesus ajarkan dalam perkataan nubuat-Nya yang besar. Di tengah-tengah realita bahwa segalanya akan musnah terbakar, sang pemazmur mengatakan, “Diamlah dan ketahuilah, bahwa Allah adalah Allah. Diamlah dan ketahuilah apa kehendak Allah, lalu beribadahlah dalam hadirat-Nya dan berilah dirimu kepada karya-Nya, yang menjadi penggenapan kehendak-Nya. Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah, dan bahwa Aku akan ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!”
|
|