ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Kasih Karunia Memberi (I)

Salam jumpa di Sekolah Alkitab Mini. Program ini merupakan program studi keseluruhan Alkitab. Kita telah membahas seluruh Perjanjian Lama dan sekarang sampai di surat-surat Paulus dalam Perjanjian Baru. Kalau Anda baru bergabung, jangan menganggapnya terlambat. Sebab tidak pernah ada kata terlambat untuk mulai mempelajari Firman Allah. Dalam sesi ini, kita melanjutkan studi tentang surat Paulus yang kedua kepada jemaat di Korintus. Silakan Anda membuka 2 Korintus 8 dan 9.

Izinkan saya mengulangi bahwa saya hanya memberikan gambaran umum, pendahuluan, dan studi umum tentang surat ini. Demikian banyak kebenaran mendalam yang mengagumkan dalam 2 Korintus ini, yang belum kita bahas. Terkadang orang berkata kepada saya, “Anda melewatkan ayat kesukaan saya dalam kitab ini.” Ada banyak sekali ayat dan bacaan yang mendalam dalam kitab ini yang saya lewatkan karena saya secara khusus mencoba menempatkan kitab ini ke dalam perspektifnya, memberikan gambaran umum serta menjelaskan bagaimana kitab ini disusun. Tujuan saya adalah menunjukkan apa yang hendaknya Anda cari ketika Anda membaca Alkitab.

Memasuki 2 Korintus 8 dan 9, kita menemukan topik yang praktis dalam surat ini. Sebelum kita mempelajari pasal-pasal ini, izinkan saya menantang Anda untuk mempelajari bacaan-bacaan luar biasa lainnya dalam surat ini.

Misalnya, ada sebuah bacaan indah di mana Paulus memberikan wawasan tentang hubungan-hubungan pribadi. Ia mengatakan: “Jika aku mendukakan hatimu, siapa lagi yang dapat membuat aku menjadi gembira selain dia yang berdukacita karena aku?” Menurut saya terdapat kebenaran mendalam sekaligus praktis dalam pernyataan tersebut. Coba Anda menerapkannya dalam pernikahan Anda, terutama kalau Anda sudah pensiun. Terkadang sungguh merupakan berkat bagi seorang isteri, ketika suaminya berangkat ke tempat kerjanya di waktu pagi. Ketika Anda mencapai titik dalam kehidupan Anda di mana Anda tidak lagi berangkat ke tempat kerja, hal itu sungguh merupakan suatu tantangan. Sungguh suatu tantangan, menjalin hubungan dengan pasangan Anda ketika Anda harus bersama-sama sepanjang hari! Coba Anda renungkan. Orang dengan siapa Anda hidup, yang Anda kasihi, kalau Anda mendukakan hatinya, kalau Anda mengecewakannya, siapa yang akan membangun Anda kecuali dia yang Anda kecewakan itu? Seperti yang dikatakan sebuah lagu populer beberapa tahun yang lalu: “Engkau selalu melukai orang yang kaukasihi, orang yang justru seharusnya tidak engkau lukai”. Itulah orang terakhir di dunia yang boleh Anda lukai. Itulah orang terakhir di dunia yang boleh Anda kecewakan. Sebab, siapa yang akan membangun Anda kecuali orang yang selalu Anda buat depresi dengan sikap Anda?

Dalam 2 Korintus 6, Paulus memberikan kepada kita suatu bacaan di akhir pasal tersebut di mana ia mengajarkan tentang pemisahan, prasangka, dan diskriminasi. Saya selalu mengatakan hal itu untuk menarik perhatian orang. Akan tetapi, kalau Anda mempelajari bacaan tersebut, Paulus memang mengajarkan hal-hal tersebut, namun dasar dari diskriminasi, prasangka dan pemisahan tersebut bukanlah karena ras atau etnis atau status sosial, melainkan iman. Dalam bacaan tersebut, Paulus mengatakan: “Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan?” Lalu Paulus mengutip Perjanjian Lama: “Keluarlah kamu dari antara mereka, dan pisahkanlah dirimu dari mereka, firman Tuhan, dan janganlah menjamah apa yang najis, maka Aku akan menerima kamu. Dan Aku akan menjadi Bapamu, dan kamu akan menjadi anak-anak-Ku laki-laki dan anak-anak-Ku perempuan.” Yang Paulus mau ajarkan adalah bahwa ada kesan di mana Anda seharusnya memisahkan diri dari orang yang tidak percaya. Tentu, Anda tidak bisa keluar dari dunia seperti para biarawan sebab dengan demikian Anda tidak akan dapat menjangkau dunia. Secara harafiah, dalam bahasa aslinya, Paulus mengajarkan: “Jadilah berbeda di antara mereka”. Paulus menggunakan sebuah kata dalam bahasa Yunani yang memberi kesan bahwa seandainya Anda seorang petani dan memandang ke sebuah kebun, Anda tahu di mana letaknya kacang-kacangan, di mana letaknya daun selada, di mana letaknya kentang. Jadilah berbeda di antara mereka. Bukan berarti bahwa kita harus keluar dari dunia ini, melainkan bahwa kita seharusnya berbeda dengan mereka. Jangan pernah lupa bahwa Anda memang berbeda karena Anda sudah diubahkan, sudah mengalami pengalaman yang melampaui pemikiran manusia, menjejakkan sebelah kaki Anda di Sorga. Anda sudah mendapatkan pengalaman pertobatan, pengalaman di padang gurun, dan pengalaman sorgawi. Anda tidak bergerak mengikuti irama yang sama seperti mereka. Seperti yang ditulis oleh Henry David Thoreau, “Kalau seseorang tidak mengimbangi teman-temannya, hal itu mungkin terjadi karena ia mendengar irama yang berbeda. Biarlah ia menari mengikuti irama yang didengarnya, walaupun berbeda daripada yang lain.”

Jika Anda membaca pasal 8 dan 9 dari 2 Korintus ini, Anda membaca 2 pasal paling luar biasa dalam Alkitab tentang topik kepengurusan. Kepengurusan tidak pernah menjadi topik yang populer. Saya berusia 25 tahun ketika saya mulai melayani sebagai pendeta. Pada waktu itu saya mengatakan bahwa saya tidak akan pernah berkhotbah tentang uang. Hal itu dikarenakan saya mendengar banyak cerita tentang bagaimana sebuah keluarga mencoba meyakinkan sang suami, sang ayah, sang pencari nafkah, agar ia mau ke gereja. Ketika pada akhirnya mereka berhasil meyakinkannya agar ia mau ke gereja, ternyata sang pendeta mengkhotbahkan tentang uang. Begitu pulang, sang ayah berkata, “Ia hanya menginginkan uang kita, itu saja.” Dan ia tidak pernah mau ke gereja lagi. Oleh karenanya, saya mengatakan bahwa saya tidak akan berkhotbah tentang uang. Akan tetapi, sebagai seorang pendeta saya menyadari bahwa ternyata saya bertanggung jawab atas kesejahteraan rohani jemaat saya. Sebagai seorang pendeta, saya menyadari bahwa ternyata saya adalah gembala jemaat saya. Sebagai seorang pendeta, saya menyadari bahwa ternyata saya tidak mungkin tidak pernah berkhotbah tentang uang. Alkitab mengajarkan bahwa kesejahteraan rohani seseorang bisa tergantung pada kesetiaan atau ketidak-setiaannya dalam hal kepengurusan.

Dalam Alkitab seperti Lukas 16, Tuhan mengajarkan dalam Perumpamaan Bendahara yang Tidak Jujur, bahwa kalau Anda tidak setia dalam mengelola mammon yang tidak benar, Allah tidak akan memberkati Anda dengan kekayaan yang sesungguhnya. Allah akan menahan berkat-berkat rohani dari Anda. Kalau Allah menahan berkat-berkat rohani dari jemaat di gereja Anda karena mereka tidak setia dalam bidang ini, maka sebagai pendeta yang setia, Anda harus mengkhotbahkan tentang kepengurusan.

Saya selalu memastikan diri untuk tidak mengetahui siapa yang memberikan berapa di gereja-gereja di mana saya menjadi pendetanya. Akan tetapi, seorang bendahara pernah berkata kepada saya, “Pak Pendeta, seharusnya Anda memeriksa pembukuan kita dan melihat mengapa orang tertentu selalu datang meminta nasihat kepada Anda. Alasan mereka demikian kacau adalah karena mereka tidak memberi sepeser pun kepada Tuhan. Anda bisa membantu mereka memecahkan banyak masalah mereka seandainya Anda tahu apa yang terjadi dengan kerelaan mereka dalam memberi, dan mengkhotbahkan tentang kepengurusan.” Akhirnya sejak saat itu, saya sudah berulang kali mengkhotbahkan tentang kepengurusan.

Kalau Anda ingin mengkhotbahkan tentang kepengurusan, Anda tidak akan menemukan pasal yang lebih baik daripada 2 Korintus 8 dan 9 untuk mendasari khotbah Anda. Saat itu, Paulus sedang mengumpulkan kolekte untuk orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem. Orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem dan Yudea adalah umat Kristen Yahudi. Mereka itulah orang kudus yang paling dianiaya oleh Paulus sendiri ketika ia masih membenci Kristus. Mungkin Paulus banyak didakwa dan merasa bersalah oleh karenanya, sebab ia seringkali menyinggungnya. Paulus merasakan beban yang begitu berat, belas kasihan yang sangat besar terhadap orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem, dan ia ingin menolong mereka.

Pelayanan Paulus secara khusus adalah kepada orang-orang bukan Yahudi. Orang percaya di Korintus, Efesus dan Kolose adalah orang bukan Yahudi. Paulus adalah seorang misionari besar bagi dunia non Yahudi, namun Paulus berkeliling di dunia non Yahudi di mana ia memberikan pelayanan misi yang luar biasa, dan mengumpulkan persembahan kasih yang luar biasa bagi orang kudus Yahudi yang menderita di Yerusalem. Paulus mau melibatkan jemaat Korintus dalam persembahan tersebut. Oleh karenanya, dalam 2 Korintus 8 dan 9, Paulus memberikan instruksinya kepada jemaat di Korintus menyangkut kolekte. Sebelum saya merangkum kedua pasal ini, saya akan membacakannya bagi Anda sebab bacaan-bacaan mendalam ini mendemonstrasikan karunia Paulus dalam hal diplomasi dan sikap taktis. Dapatlah dikatakan bahwa Paulus adalah seorang pramuniaga yang hebat. Paulus hebat dalam banyak hal. Ia menggunakan diplomasi dan sikap taktis yang luar biasa ketika ia mendekati jemaat Korintus ini untuk berpartisipasi dalam pengumpulan kolekte bagi orang-orang kudus yang menderita di Yerusalem. Strategi Paulus tampak dalam kedua pasal ini saat ia menulis surat ini dari Filipi.

Ingatlah, saya telah mengatakan bahwa ketika Paulus meninggalkan Efesus setelah terjadinya kerusuhan, ia pergi ke Filipi karena ia sedang mengalami krisis dan jemaat Filipi adalah jemaat kesayangannya. Jemaat Filipi ini terus mendukungnya. Paulus menulis kepada jemaat di Korintus, “Jemaat-jemaat lain telah kurampok dengan menerima tunjangan dari mereka, supaya aku dapat melayani kamu!” Ketika Paulus menulisnya, yang ia maksudkan adalah bahwa ia merampok jemaat di Filipi agar ia bisa melayani jemaat di Korintus. Paulus tidak mau membiarkan sembarang orang mendukung pelayanannya. Paulus harus yakin dulu bahwa Anda memang orang yang rohani, bahwa Anda sudah diubahkan, bahwa Anda menjejakkan sebelah kaki Anda di Sorga, dan bahwa Anda mendukungnya karena kasih Anda kepada Allah. Anda harus meyakinkan Paulus bahwa pemberian Anda kepadanya adalah sebagai suatu ungkapan ibadah, kalau tidak, Paulus tidak akan membiarkan Anda berpartisipasi dalam pelayanannya dengan memberi kepadanya dan mendukungnya. Paulus tidak mau mengambil uang dari jemaat di Korintus, Efesus, atau Tesalonika ketika ia melayani di kota-kota mereka. Jika jemaat di Filipi tidak mengirimkan uang kepadanya, Paulus membuat tenda untuk mencari nafkah bagi dirinya maupun kelompok misinya, daripada mengambil uang dari jemaat-jemaat yang belum menjadi orang yang rohani. Akan tetapi Paulus membiarkan jemaat di Filipi untuk mendukungnya.

Ketika Paulus menulis surat kepada jemaat di Korintus dari Filipi, ia melakukan sesuatu yang indah. Paulus menjelaskan pola pemberian jemaat di Filipi sebagai teladan bagi jemaat di Korintus. Pulus berkata, “Ketahuilah bagaimana jemaat di Filipi memberi. Ketahuilah bagaimana jemaat di Filipi bersikap dalam memberi. Ketahuilah bagaimana pola pemberian jemaat di Filipi dan apa motivasi mereka.” Oleh karenanya, Paulus menjelaskan pola pemberian jemaat di Filipi atau jemaat di Makedonia itu sebagai teladan bagi jemaat di Korintus. Paulus menulis: “Saudara-saudara, kami hendak memberitahukan kepada kamu tentang kasih karunia yang dianugerahkan kepada jemaat-jemaat di Makedonia. Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan. Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak daripada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami. Sebab itu kami mendesak kepada Titus, supaya ia mengunjungi kamu dan menyelesaikan pelayanan kasih itu sebagaimana ia telah memulainya.” Sekarang Paulus melibatkan jemaat di Korintus. “Maka sekarang, sama seperti kamu kaya dalam segala sesuatu, - dalam iman, dalam perkataan, dalam pengetahuan, dalam kesungguhan untuk membantu, dan dalam kasihmu terhadap kami – demikianlah juga hendaknya kamu kaya dalam pelayanan kasih ini. Aku mengatakan hal itu bukan sebagai perintah, melainkan, dengan menunjukkan usaha orang-orang lain untuk membantu, aku mau menguji keikhlasan kasih kamu.”

Berikut adalah ayat yang luar biasa dalam konteks ini: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya. Inilah pendapatku tentang hal itu, yang mungkin berfaedah bagimu. Memang sudah sejak tahun yang lalu kamu mulai melaksanakannya dan mengambil keputusan untuk menyelesaikannya juga. Maka sekarang, selesaikan jugalah pelaksanaannya itu! Hendaklah pelaksanaannya sepadan dengan kerelaanmu, dan lakukanlah itu dengan apa yang ada padamu. Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu. Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan. Seperti ada tertulis: ‘Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.’ Syukur kepada Allah, yang oleh karena kamu mengaruniakan kesungguhan yang demikian juga dalam hati Titus untuk membantu kamu. Memang ia menyambut anjuran kami, tetapi dalam kesungguhannya yang besar itu ia dengan sukarela pergi kepada kamu. Bersama-sama dengan dia kami mengutus saudara kita, yang terpuji di semua jemaat karena pekerjaannya dalam pemberitaan Injil. Dan bukan itu saja! Ia juga telah ditunjuk oleh jemaat-jemaat untuk menemani kami dalam pelayanan kasih ini, yang kami lakukan untuk kemuliaan Tuhan dan sebagai bukti kerelaan kami. Sebab kami hendak menghindarkan hal ini: bahwa ada orang yang dapat mencela kami dalam hal pelayanan kasih yang kami lakukan dan yang hasilnya sebesar ini. Karena kami memikirkan yang baik, bukan hanya di hadapan Tuhan, tetapi juga di hadapan manusia. Tentang pelayanan kepada orang-orang kudus tidak perlu lagi aku menuliskannya kepada kamu. Aku telah tahu kerelaan hatimu tentang mana aku megahkan kamu kepada orang-orang Makedonia (maksudnya jemaat di Filipi). Kataku: ‘Akhaya sudah siap sedia sejak tahun yang lampau.’ Dan kegiatanmu telah menjadi perangsang bagi banyak orang. (Paulus tahu cara untuk meminta persembahan). Aku mengutus saudara-saudara itu, agar kemegahan kami dalam hal ini atas kamu jangan ternyata menjadi sia-sia, tetapi supaya kamu benar-benar siap sedia seperti yang telah kukatakan, supaya, apabila orang-orang Makedonia datang bersama-sama dengan aku, jangan mereka mendapati kamu belum siap sedia, sehingga kami – untuk tidak mengatakan kamu – merasa malu atas keyakinan kami itu. Sebab itu aku merasa perlu mendorong saudara-saudara itu untuk berangkat mendahului aku, supaya mereka lebih dahulu mengurus pemberian yang telah kamu janjikan sebelumnya, agar nanti tersedia sebagai bukti kemurahan hati kamu dan bukan sebagai pemberian yang dipaksakan. Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan. Ia yang menyediakan benih bagi penabur, dan roti untuk dimakan, Ia juga yang akan menyediakan benih bagi kamu dan melipatgandakannya dan menumbuhkan buah-buah kebenaranmu; kamu akan diperkaya dalam segala macam kemurahan hati, yang membangkitkan syukur kepada Allah oleh karena kami. Sebab pelayanan kasih yang berisi pemberian ini bukan hanya mencukupkan keperluan-keperluan orang-orang kudus, tetapi juga melimpahkan ucapan syukur kepada Allah. Dan oleh sebab kamu telah tahan uji dalam pelayanan itu, mereka memuliakan Allah karena ketaatan kamu dalam pengakuan akan Injil Kristus.”

Demikianlah dua bacaan yang luar biasa tentang topik kepengurusan, di mana kita diajarkan tentang prinsip-prinsip yang seharusnya tercakup dalam kepengurusan kita.

Sebagai penutup, coba Anda mempelajari 2 Korintus 8 dan 9 ini dan melihat apa yang dapat Anda pelajari tentang mengapa dan bagaimana seharusnya Anda memberi persembahan kepada Tuhan. Kita akan membahasnya lebih lanjut dalam sesi Sekolah Alkitab Mini berikutnya. Sampai jumpa.