ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Yesus Mengasihi Saya

Selamat datang di satu lagi program Sekolah Alkitab Mini. Sekarang ini kita sedang mempelajari kitab-kitab Puisi dalam Alkitab dan saya mengundang Anda untuk bergabung sebab saya akan mengulang studi ini suatu hari kelak. Oleh karenanya, kalau Anda baru menemukan program kami, Anda bisa memulainya dari sini dengan kitab-kitab Puisi, barulah nanti memulai dari awal Alkitab hingga Kitab Puisi ini.

Puisi adalah bahasa hati dan hal itu berarti bahwa kitab-kitab yang kami sebut Kitab Puisi merupakan pesan Allah kepada hati umat-Nya. Kitab Ayub adalah pesan Allah kepada hati umat-Nya yang diliputi kepedihan, pesan kepada umat-Nya ketika mereka sedang menderita. Kitab Mazmur adalah pesan Allah kepada umat-Nya ketika mereka sedang beribadah. Kitab Mazmur menunjukkan kepada kita kebahagiaan yang seharusnya dialami umat Allah dalam hati mereka ketika mereka sedang beribadah/menyembah. Itulah inti Kitab Mazmur. Kita telah melihat bahwa Kitab Amsal merupakan pesan Allah kepada umat-Nya ketika mereka menghadapi berbagai tekanan dalam kehidupan sehari-hari.

Hikmat yang bermanfaat dalam segala bentuk hubungan dan pengalaman hidup menjadi pesan Allah kepada umat-Nya dalam Kitab Amsal. Konsep manusia batiniah, yang oleh Alkitab diacu sebagai hati, roh, atau jiwa, disinggung sebanyak 70 kali dalam Kitab Amsal. Itulah sebabnya Kitab Amsal diklasifikasikan sebagai Kitab Puisi, yang ditujukan kepada hati umat Allah.

Kitab Pengkhotbah adalah pesan Allah kepada umat-Nya ketika mereka sedang merasa ragu, sebab memang ada saatnya ketika umat Allah mengalami keraguan. Saya percaya bahwa ada iman yang lebih besar dalam keraguan yang jujur daripada di dalam pengakuan yang setengah percaya.Terkadang, apa yang kita sebut keraguan, pikiran yang mempertanyakan, yang selalu ingin menyelidiki, dan yang selalu ingin tahu, bukanlah ketidakpercayaan. Pikiran yang ingin tahu bisa jadi merupakan iman yang terekspresikan melalui apa yang kita sebut keraguan. Pesan Kitab Pengkhotbah merupakan pesan yang indah dari Allah kepada hati umat-Nya ketika mereka sedang mengekspresikan iman mereka lewat keraguan dan pikiran ingin tahu seperti itu.

Kitab Kidung Agung, yang menjadi kitab terakhir dari Kitab-kitab Puisi, adalah pesan Allah kepada umat-Nya ketika mereka sedang berkasih-kasihan. Mungkin Anda tidak menyangka saat Anda menemukan bahwa dalam bagian Kitab Puisi ini Allah menyampaikan pesan kepada hati umat-Nya ketika mereka sedang berkasih-kasihan. Salomo menulis 1.005 kidung. Kidung Agung inilah satu-satunya yang kita miliki, namun kidung agung ini menjadi suatu permata yang indah karena ditempatkan pada akhir bagian dari apa yang kita sebut sebagai Kitab Puisi ini. Kalau Anda memasukkan kitab seperti ini dalam Alkitab, jelas kitab akan termasuk klasifikasi Kitab Puisi sebab cinta merupakan topik yang seharusnya diklasifikasikan sebagai “puisi.”

Ketika Anda membaca Kidung Agung, Anda akan membayangkan sebuah kamar bulan madu yang telah disadap, sebab Anda akan membaca ungkapan cinta dari dua orang yang sedang berkasih-kasihan. Karena ungkapan cinta yang intim ini, para pemuda Israel dilarang membaca Kidung Agung sampai mereka berusia 30 tahun. Saya memahami bahwa para pengkhotbah seharusnya tidak mengkhotbahkan Kidung Agung hingga rambut mereka beruban. Karena sekarang rambut saya sudah mulai berubah, jadi saya bisa membicarakannya.

Karena kitab ini merupakan ungkapan cinta yang intim di antara sepasang kekasih, mungkin Anda bertanya-tanya, mengapa kitab seperti Kidung Agung ini termasuk di dalam Alkitab yang diilhami Allah ini? Bagaimana kitab seperti ini bisa masuk dalam Alkitab? Seandainya Kitab Salomo dijadikan drama televisi, pastilah ditayangkan pada larut malam setelah anak-anak kita tidur.

Ada beberapa jawaban terhadap pertanyaan mengapa kitab ini ada dalam Alkitab. Pertama, yang menurut saya sudah jelas adalah bahwa karena kitab ini mengajarkan tentang kekudusan seks. Dalam Kitab Kejadian dimana Allah menciptakan segalanya, setelah Ia menciptakan, disana tertulis, “Dan Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Demikian hal itu dikatakan beberapa kali. Akan tetapi, setelah menciptakan manusia, kita justru membaca, “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja.” Maka Allah pun menciptakan seorang wanita. Ketika Allah menciptakan pria dan wanita, lelaki dan perempuan, dan mempersatukan keduanya dalam kesatuan seksual, barulah dikatakan, “Dan Allah melihat segala yang dijadikan-Nya itu, sungguh amat baik.” Mengingat apa yang kita baca dalam Kitab Kejadian itu, bagaimana seharusnya sikap orang yang hidup dalam Tuhan terhadap seks?

25 tahun yang lalu, saya mendengar Dr. Henry Brandt, seorang psikolog Kristen yang terkemuka, berbicara kepada kira-kira 600 orang wanita di gereja. Setelah ceramah Dr. Brandt, diadakanlah sesi tanya jawab. Setelah beberapa pertanyaan diajukan dan dijawab, seorang wanita yang tampak elit bangkit berdiri dan bertanya, “Dokter, bagaimana pandangan Anda tentang seks?” Dr. Brandt menjawab, “Sejujurnya, saya menyukainya.” Maka semua orang pun tertawa! Lalu Dr. Brandt balas bertanya, “Mengapa Anda tertawa mendengar jawaban saya? Apakah saya seharusnya tidak menyukai seks?” Lalu Dr. Brandt melanjutkan komentarnya itu dengan suatu disertasi yang indah tentang kekudusan seks. Katanya, “Ketika Allah menciptakan seks, Allah mengatakannya sangat baik. Pikiran orang-orang yang terlalu memegang peraturan kesusilaan mengatakan bahwa seharusnya Anda tidak menyukai seks. Seandainya pun Anda menyukainya, Anda seharusnya tidak mengatakan demikian. Apakah demikian seharusnya sikap kita terhadap seks?”

Menurut banyak ahli teologia, alasan utama Allah memberikan Kidung Agung adalah untuk menunjukkan bahwa seks itu sungguh amat baik. Sungguh suatu tantangan, mendidik anak-anak Anda dengan cara yang sedemikian rupa, sehingga mereka meyakini bahwa seks itu sungguh amat baik dan bahwa seharusnya mereka tetap suci sampai mereka menikah. Pernahkah Anda merenungkan hal itu? Itulah tantangan jaman sekarang. Katakanlah saya mempunyai 3 orang putri dan 2 orang putra dan saya menginginkan mereka tetap suci sampai pada hari pernikahan mereka. Bagaimana saya bisa mencapai sasaran tersebut tanpa memberikan pemikiran bahwa ada yang tidak beres dengan seks? Saya tidak boleh memberikan kesan bahwa seks itu kotor, namun saya tidak mau mereka melakukan hubungan seks sebelum mereka menikah. Menurut saya, salah satu kebohongan besar dari neraka adalah bahwa seks itu kotor. Pernahkah Anda mengamati bahwa kebohongan terbesar dari neraka secara konsisten dilontarkan bersamaan dengan kebenaran terbesar dari Allah? Alkitab mengajarkan, “Tuhan itu baik.” Akan tetapi apa yang diyakini sebagian besar orang? Sebagian besar orang meyakini bahwa Tuhan itu tidak baik dan jika Anda melakukan kehendak-Nya, maka Anda akan barada di tempat yang paling parah dan paling sengsara sebab Tuhan itu tidak baik. Itulah kebohongan besar dari neraka. Allah sendiri berkata bahwa seks itu sungguh amat baik. Dunia yang mengatakan bahwa seks itu kotor. Segala bentuk pornografi dan sebagian besar coretan dinding di tempat-tempat umum berusaha mengatakan kepada anak-anak Anda bahwa seks itu kotor.

Kalau Anda memberi kesan kepada anak-anak Anda bahwa seks itu kotor, jangan-jangan Anda malah merusak penyesuaian seksual mereka terhadap pernikahan. Sebagai seorang pendeta, saya telah banyak memberikan konseling pernikahan. Saya pernah mengatakan bahwa dimensi fisik pernikahan seharusnya hanyalah sekitar 10 persen dari hubungan itu sendiri, namun ketika hubungan seksual ini tidak berjalan sebagaimana mestinya, hal itu bisa menjadi 90 persen dari masalahnya. Jika Anda menjalani konseling yang mendalam, seringkali Anda menemukan bahwa si wanita telah bersikap dingin atau si prianya impoten. Saat Anda mencoba menemukan sumber masalahnya, seringkali Anda mendapati bahwa orang yang bersangkutan pernah diberitahu, bahwa seks itu kotor. Oleh karenanya, mereka tidak mampu menghargai dan menikmati kekudusan seks atau meyakini bahwa seks itu sungguh amat baik. Oleh karenanya mereka tidak mampu berfungsi sebagaimana mestinya dalam dimensi seksual dari sebuah pernikahan yang kudus. Dalam konteks pernikahan yang kudus, dimana hubungan fisik seharusnya sakral, indah dan baik, mereka yang meyakini bahwa seks itu kotor tidak akan dapat berfungsi sebagaimana mestinya.

 

Akan tetapi, dalam konteks sebuah skandal seksual, mereka bisa sangat panas di tempat tidur. Alasannya begini: skandal seksual itu kotor, seks itu kotor, dan oleh karenanya, mereka mampu berfungsi seksual dalam konteks skandal seksual. Tragisnya adalah bahwa mereka telah mempercayai kebohongan Iblis dan mereka tidak mampu berfungsi secara seksual pada tempatnya, di mana mereka seharusnya berfungsi, di mana seharusnya seks itu menjadi hal yang sakral dan baik.

Dapatkah Anda melihat bagaimana Anda justru akan merugikan anak-anak Anda bila Anda memberi kesan kepada mereka bahwa seks itu kotor? Kalau kekudusan seks disampaikan kepada Anda dan anak-anak Anda, dan kalau itu satu-satunya alasan Allah memberi kita Kidung Agung, maka Kidung Agung pantas dimasukkan dalam Alkitab. Kalau kekudusan seks adalah satu-satunya pesan yang Anda tangkap dari kidung cinta ini, maka hati Allah yang pengasih akan bersukacita. Menyampaikan kebenaran bahwa seks itu sakral, bahwa seks itu baik, dan bahwa seks itu indah dalam suatu konteks pernikahan, sudah cukup untuk membenarkan keberadaan Kidung Agung dalam Alkitab. Kidung Agung menghadirkan tentang seks di dalam konteks pernikahan, di mana seks itu sakral dan indah.

Ketika saya menjadi pendeta sebuah gereja di kota pantai, saya diminta berbicara kepada sebuah kelompok besar hippi mengenai seks. Jelas bagi saya bahwa anak-anak muda ini telah aktif secara seksual sedangkan tidak seorang pun di antara mereka yang sudah menikah. Sebagian besar dari mereka datang dengan papan selancar tersedia di mobil mereka. Mengetahui bahwa anak-anak muda ini benar-benar hobi berselancar, maka ketika saya mengungkit topik seks, saya bertanya: “Apakah menurut kalian, kalian bisa membawa papan selancar kalian ke rumah saya dan mengajari saya berselancar di halaman belakang?” Mereka menjawab, “Tentu tidak, Anda tidak bisa belajar berselancar kecuali Anda meletakkan papan selancarnya di atas air.” Lalu saya berpindah ke topik seks dengan mengatakan, “Kalian pun tidak dapat belajar tentang seks sampai kalian menempatkan seks dalam konteks pernikahan, sebab dalam pernikahanlah seks itu baru baik dan indah.” Dngan cara yang sama, Kidung Salomo pun mengajarkan kekudusan seks dalam konteks pernikahan.

Banyak ahli teologia yang saleh meyakini bahwa ada alasan lain Allah memasukkan Kidung Agung ke dalam Alkitab. Alasan keduanya adalah bahwa Kidung Agung merupakan kiasan yang menggambarkan kasih Allah Yahwe kepada Israel. Hubungan antara Allah Yahwe dengan Israel, umat pilihan-Nya, diibaratkan seperti hubungan kasih dalam Alkitab, terutama dalam Kitab Para Nabi. Hubungan antara Allah dengan Israel diibaratkan seperti hubungan kasih antara suami istri, antara sepasang kekasih atau antara sepasang tunangan. Dalam keseluruhan Alkitab, ajaran tentang apa yang kita sebut “Perintah Agung” itu diberlakukan. Perintah Agung mengatakan: “Kasihilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu, dengan segenap akal budimu, dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap jiwamu.” Apakah menjalin hubungan kasih dengan Allah itu benar-benar mungkin? Alkitab mengajarkan demikian. Hubungan Anda dengan Allah seharusnya adalah hubungan kasih. Hubungan paling intim dalam kehidupan Anda bukanlah pernikahan Anda. Hubungan paling intim dalam kehidupan Anda adalah hubungan Anda dengan Allah.

Carl Jung, seorang psikiater terkenal, mengajarkan bahwa kaum pria berbicara tentang kehidupan seksual mereka secara lebih bebas daripada tentang kehidupan agama mereka, sebab kehidupan agama itu bersifat lebih intim dan pribadi dibandingkan dengan kehidupan seksual. Hubungan Anda dengan Allah seharusnya merupakan suatu hubungan kasih yang intim. Seharusnya Anda menyadari fakta bahwa Allah mengasihi Anda dan seharusnya Anda mengalami kasih-Nya. Anda seharusnya menjalin hubungan kasih dengan Allah secara harafiah, praktis, dan dalam pengalaman nyata. Demikianlah hubungan kita dengan Allah digambarkan dalam Perjanjian Lama. Banyak ahli teologia meyakini bahwa selain ungkapan cinta di antara sepasang kekasih, Kidung Agung juga secara kiasan menggambarkan hubungan kasih yang seharusnya ada di antara Yahwe dengan Israel.

Ketika Anda membaca Perjanjian Baru, Anda menemukan bahwa hubungan kasih menurut Kidung Agung juga berlaku bagi hubungan antara Kristus dengan Jemaat-Nya. Dalam Perjanjian Baru, hubungan antara Kristus dengan Jemaat-Nya digambarkan sebagai hubungan antara mempelai pria dengan mempelai wanita. Jemaat adalah mempelai wanita, sedangkan Kristus adalah mempelai pria.

Ingatkah Anda, ketika Yohanes Pembaptis menasihatkan orang untuk mengikut Yesus, mereka datang kembali kepada Yohanes Pembaptis dan berkata, “Rabi, engkau menasihatkan semua orang untuk mengikut Orang itu, sekarang semua orang mengikut Dia dan tidak ada lagi yang datang mendengarmu berkhotbah.” Ingatkah Anda bagaimana jawaban Yohanes Pembaptis? Yohanes Pembaptis menjawab, “Dialah Mempelai Pria dan mereka itu adalah mempelai wanitanya. Sedangkan aku hanyalah pendamping Mempelai Pria. Itulah sebabnya aku menasihatkan semua orang untuk mengikut Dia.” Demikianlah, bahasa Kidung Agung juga menjadi bahasa Perjanjian Baru. Hubungan antara Kristus dengan Jemaat-Nya seharusnya merupakan hubungan kasih seperti antara mempelai pria dengan mempelai wanita. Dalam Kidung Agung, Anda membaca hubungan itu digambarkan secara kiasan. Terlalu banyak kesamaan dan terlalu banyak penerapan di sini sehingga tidak mungkin tidak disengaja. Kidung Agung adalah kiasan indah tentang bagaimana seharusnya hubungan antara Kristus dengan Jemaat-Nya.

Sampai di sini dulu, bergabunglah dalam studi berikutnya dimana saya akan mengakhiri studi kita tentang Kitab Puisi dengan membahas penerapan devosional terpenting dari Kidung Agung dalam kehidupan pribadi kita.