ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Solusi Final Allah (I)

Saya senang sekali Anda bergabung dengan kami hari ini. Selamat datang di satu lagi program Sekolah Alkitab Mini. Sekarang kita sedang mempelajari nabi Mikha. Kita telah melihat bahwa Mikha adalah salah seorang nabi besar di antara para nabi. Anda benar-benar perlu memahami pentingnya nabi Mikha. Mikha setara dengan Yesaya atau nabi mana pun. Mikha adalah nabi yang sangat penting. Mikha dikutip oleh orang-orang bijaksana, antara lain dalam Matius 2:5-6. Mikha dikutip oleh Yesus dalam Matius 10, dan para tua-tua di zaman Yeremia yang menyelamatkan nyawa Yeremia ketika mereka mengutip nubuat Mikha. Ketika itu Yeremia mengkhotbahkan tentang hancurnya Yerusalem dan orang-orang mau menjatuhkan hukuman mati terhadapnya, namun sebagian para tua-tua yang bijaksana berkumpul dan mengatakan, “Jangan menjatuhkan hukuman mati kepada orang ini sebab di zaman Hizkia, nabi Mikha telah bernubuat hal yang sama dan Hizkia tidak menjatuhkan hukuman mati kepadanya. Hizkia bertobat dan rakyat berbalik kepada Allah sehingga Allah tidak jadi menghancurkan mereka seperti yang dinubuatkan oleh nabi Mikha.” Demikianlah, para tua-tua yang bijaksana di zaman Yeremia mengutip perkataan nabi Mikha sehingga menyelamatkan nyawa Yeremia.

Dalam sesi pertama kita belajar bahwa Kitab Mikha, yang terdiri dari tujuh pasal, dibagi menjadi tiga khotbah. Yang disebut Kitab Mikha sesungguhnya adalah tiga khotbah yang luar biasa dari nabi Mikha. Khotbah yang pertama, yang terdapat dalam dua pasal pertama Kitab Mikha, adalah khotbah Mikha kepada segala bangsa di muka bumi. Khotbah Mikha yang kedua, dari Mikha 3:1 sampai Mikha 5:15, adalah khotbah Mikha kepada para pemimpin umat Allah. Mikha berkhotbah di ibukota Kerajaan Israel di Utara maupun ibukota Kerajaan Yehuda di Selatan. Khotbah Mikha kepada para pemimpin umat Allah ada hubungannya dengan pemerintahan. Mikha sangat mempedulikan fakta bahwa pemerintahan berasal dari Allah. Allah menghendaki umat-Nya hidup damai. Agar umat Allah mengalami kesejahteraan yang Allah mau mereka alami, pemerintahannya haruslah seperti yang Allah kehendaki.

Mikha meyakini bahwa pemerintahan yang ditetapkan oleh Allah seharusnya nyata pada tiga tingkatan. Pertama adalah tingkatan rohani, yang merupakan tanggung jawab para imam yang mengajarkan kebenaran-kebenaran rohani dan hidup sebagai teladan dari kebenaran-kebenaran rohani yang mereka ajarkan tersebut. Lalu, ada tingkatan moral, yang merupakan tanggung jawab para nabi untuk menasihati rakyat agar mematuhi ajaran Firman Allah yang mereka dengar melalui para imam. Lalu, juga ada tingkatan sipil yang merupakan tanggung jawab para pemimpin sipil untuk menegakkan hukum Allah menurut Firman Allah. Mikha menuduh bahwa para pemimpin umat Allah korup pada ketiga tingkatan tersebut. Beban khotbah Mikha ditujukan kepada para pemimpin umat Allah pada ketiga tingkatan pemerintahan tersebut.

Pesan Mikha kepada para pemimpin pemerintahan tersebut mempersiapkan kita untuk nubuat besarnya tentang Mesias. Khotbah Mikha yang ketiga dapatlah disebut sebagai khotbah yang positif. Seperti yang telah sering saya katakan, seluruh nabi yang menubuatkan tentang pembuangan ke Asyur, pembuangan ke Babel, dan kehancuran yang berhubungan dengan pembuangan tersebut, mengakhiri nubuat mereka secara positif. Mereka tidak mengakhiri nubuat mereka dengan pesan tentang pembuangan. Seluruh nabi besar ini mengakhiri nubuat mereka dengan pesan yang positif tentang pengharapan.

Kalau para nabi itu berkhotbah kepada Kerajaan Yehuda di Selatan, maka pesan mereka yang positif berhubungan dengan kembalinya bangsa ini dari pembuangan ke Babel setelah 70 tahun. Kalau para nabi itu berkhotbah kepada Kerajaan Israel di Utara, maka khotbah mereka yang positif berhubungan dengan akhir zaman. Seluruh nabi ini menubuatkan penyebaran umat Allah ke seluruh dunia, dan kembalinya mereka dari penyebaran tersebut secara geografis ke tanah Israel, yang telah kita saksikan di zaman kita. Lalu, mereka menubuatkan tentang kembalinya Israel secara rohani kepada Allah. Hal itu belum kita saksikan, namun bahwasanya kita telah menyaksikan penggenapan kembalinya bangsa ini secara geografis, maka hal itu menginspirasi kita untuk meyakini bahwa kembalinya mereka secara rohani juga akan terjadi.

Dalam khotbah Mikha yang ketiga, Mikha berkhotbah tentang pemulihan dari penyebaran tersebut. Dalam konteks tersebut, Mikha memberikan nubuat besarnya tentang Mesias. Dalam nubuatnya tentang Mesias, Mikha masih memikirkan ketiga tingkatan pemerintahan yang ditegurnya dalam khotbahnya yang kedua: para raja yang mewakili pemimpin sipil, para imam yang mewakili pemimpin rohani, dan para nabi yang mewakili pemimpin moral umat Allah.

Mikha berpendapat bahwa pemimpin mereka telah gagal memerintah bangsa ini dalam ketiga tingkatan pemerintahan tersebut. Khotbah Mikha yang kedua tentang gagalnya pemerintahan ini menjadi konteks di mana kita membaca tentang khotbah besarnya tentang Mesias. Mikha membayangkan datangnya sang Mesias dalam Mikha 5:2. Menurut Mikha, Mesias akan menjadi Gubernur yang sempurna. Mesias akan memerintah dalam kekuatan Tuhan. Mesias akan menggembalakan umat-Nya. Dalam keagungan nama Tuhan Allah-Nya, Mesias akan memerintah sebagai Gembala Agung. Yang Mikha maksudkan adalah bahwa sesungguhnya Allah telah mendelegasikan pemerintahan kepada manusia. Sayangnya manusia gagal untuk memerintah sebagaimana mestinya. Maka Allah mengatakan, “Aku tidak lagi mungkin mempercayakan tanggung jawab pemerintahan kepada manusia. Aku akan memberikan pemerintahan kepada Anak-Ku. Ketika Anak-Ku datang, Anak-Ku akan memerintah menurut kehendak-Ku. Dia akan memerintah dalam nama keagungan Tuhan Allah-Nya. Ketika Anak-Ku memerintah, engkau akan menemukan apa yang ada dalam hati-Ku saat Aku melembagakan pemerintahan. Ketika Anak-Ku memerintah, pemerintahan-Nya tidak akan korup, melainkan akan sangat indah.”

Semuanya itu menimbulkan pertanyaan, kapan Yesus memerintah dengan pemerintahan yang sempurna? Hal ini membantu kita memahami mengapa para rasul terus saja kembali kepada Tuhan dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan seperti, “Apakah Engkau akan memulihkan kerajaan Israel sekarang?” Para rasul memandang Yesus sebagai calon pemimpin politik potensial yang akan menggulingkan penakluk mereka, yaitu bangsa Romawi. Beberapa ahli teologia meyakini bahwa Yudas mengikut Yesus karena Yudas meyakini, bahwa Yesus akan menjadi pemimpin politik yang akan menggulingkan Roma, dan Yudas ingin menjadi pemimpin dalam rezim politik baru itu nanti. Salah seorang rasul Yesus yang disebut “Simon, orang Zelot,” mengartikan bahwa ia merupakan bagian dari gerakan gerilyawan yang meyakini berlanjutnya perlawanan terhadap Roma meskipun mereka hidup di bawah pasukan pendudukan Romawi. Profesor William Barclay dari Skotlandia meyakini bahwa empat dari kedua belas rasul Yesus mempunyai motivasi politik yang sama sebagai murid-murid Yesus.

Karena ayat-ayat Alkitab seperti ini terdapat dalam Kitab Mikha, maka para rasul, yang mengenal Perjanjian Lama, merasa bahwa Yesus sang Mesias akan menjadi seorang pemimpin politik yang akan memerintah dalam sebuah kerajaan yang sempurna. Yang tidak mereka lihat, dan yang mungkin tidak Anda lihat, ketika baru pertama kalinya membaca Kitab Mikha, adalah apa yang oleh sebagian orang disebut sebagai “tanda kurung besar.”

Yesus menjelaskan kepada para rasul bahwa kedatangan-Nya akan terdiri dari dua masa adven. Kita berbicara tentang Kedatangan Yesus yang Pertama dan Kedatangan Yesus yang Kedua. Dalam Lukas 4:18, Yesus mengutip dari Yesaya 61 dan memberi kita apa yang oleh para ahli teologia disebut sebagai “Pernyataan Nazaret.” Mengutip perkataan Yesaya, Yesus mengatakan, “Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Dalam Pernyataan-Nya, Yesus menyebutkan apa saja yang akan dilakukan-Nya. Ia akan memberikan penglihatan kepada yang buta, Ia akan memberikan kebebasan kepada yang terikat, dan kesembuhan kepada orang-orang yang terluka di dunia ini.

Ketika Anda membandingkan Lukas 4:18 dengan Yesaya 61, coba Anda perhatikan bahwa Yesus berhenti di tengah-tengah sebuah ayat lalu mengembalikan gulungan kitab tersebut kepada sang rabi, sebab lanjutan ayatnya berbunyi, “untuk memberitakan hari pembalasan Allah kita.” Yesus tidak membacakan bagian ayat tersebut karena dalam Kedatangan-Nya yang Pertama, Yesus datang bukan untuk menyatakan hari pembalasan Allah. Ada beberapa ayat seperti Yesaya 61 dan Mazmur 2 dalam nubuat Perjanjian Lama, yang menggambarkan kedua masa kedatangan Yesus Kristus dalam satu ayat. Anda harus berhenti di tengah-tengah ayat yang menggambarkan kedua Kedatangan ini. Pertama kalinya Yesus datang, Ia datang sebagai hamba yang menderita. Misi kedatangan-Nya yang pertama adalah untuk mati di kayu salib demi dosa-dosa dunia, dibangkitkan dari antara orang mati, dan mengutus Roh Kudus sehingga jemaat dapat lahir dan berfungsi di dunia ini.

Seperti yang telah saya kemukakan, beberapa ahli teologia menyebut Zaman Gereja sebagai “tanda kurung besar.” Sekarang ini, Yesus Kristus sedang membangun Jemaat-Nya. Setelah Yesus selesai membangun Jemaat-Nya, Ia akan datang kembali. Seluruh nabi menubuatkan hal ini. Yesus Kristus akan datang dalam kekuasaan dan kemuliaan yang besar. Lain kali Yesus datang, mereka tidak akan mencabut janggut-Nya. Ketika Yesus datang untuk kedua kalinya kelak, Ia bukan datang sebagai hamba yang menderita, Ia tidak akan membiarkan pipi-Nya ditampar. Menurut Mazmur 2, ketika Yesus datang untuk kedua kalinya kelak, bangsa-bangsa di bumi ini seolah-olah hanyalah sebuah tembikar yang indah dan Kristus datang membawa gada besi di tangan-Nya. Kristus akan menghancurkan bangsa-bangsa di muka bumi menjadi berkeping-keping.

Ketika Kristus datang lagi kelak, Ia akan datang untuk memerintah. Seperti telah saya katakan, ada perbedaan pendapat tentang kerajaan yang akan Yesus dirikan ketika Ia datang kembali kelak. Apakah akan terjadi kerajaan seribu tahun? Apakah Kristus akan mempunyai kerajaan harafiah di bumi ini selama seribu tahun? Kalau Anda meyakini bahwa Yesus akan datang kembali sebelum mendirikan kerajaan tersebut, maka Anda termasuk “pra-milenium.” Kalau Anda meyakini bahwa Ia akan datang kembali setelah kerajaan ini didirikan, Anda termasuk “paska-milenium.” Kalau Anda meyakini bahwa kerajaan seribu tahun tersebut adalah rohani dan bukan harafiah, maka Anda termasuk “a-milenium.” Banyak teori yang berbeda-beda tentang kerajaan ini. Akan tetapi, seluruh nabi ini menubuatkan bahwa ketika Yesus datang lagi kelak, Ia akan menjadi Penguasa yang sempurna dari Kerajaan-Nya.

Nubuat Mikha tentang kedatangan Yesus kira-kira mencakup Kedatangan yang Kedua, sebab dalam Kedatangan yang Kedua itulah Allah akan mengatakan kepada umat-Nya, “Aku telah berusaha memberimu kesempatan untuk memerintah, namun terjadi kejahatan pada ketiga tingkatan pemerintahan itu. Para pemimpin sipil memutuskan hukum karena suap, para pemimpin rohani mengajar demi bayaran; para nabi melakukan tenung demi uang.” Pemerintahan Allah tidak efektif karena dosa para pemimpin pemerintahannya. Oleh karenanya, akan datang harinya, menurut para nabi ini, ketika Allah akan mengambil kembali tanggung jawab pemerintahan. Allah tidak akan mendelegasikan lagi pemerintahan kepada manusia sebab Allah akan mendelegasikan pemerintahan kepada Anak-Nya. Pemerintahan Anak-Nya tidak akan berakhir. Anak Allah akan memerintah sebagai Raja di atas segala raja dan Tuhan di atas segala tuan. Itulah pesan yang Mikha khotbahkan. Demikianlah konteks di mana Mikha menyampaikan nubuat besar tentang Mesias saat ia menubuatkan di mana Kristus akan lahir.

Mikha bergabung dengan nabi-nabi lainnya dengan pesan yang positif ketika menubuatkan tentang pemulihan dan kepulangan bangsa Israel dari penyebarannya. Bagian dari nubuat Mikha yang berikut jelas-jelas menggambarkan tentang akhir zaman: “Akan terjadi pada hari-hari yang terakhir: gunung rumah Tuhan akan berdiri tegak mengatasi gunung-gunung dan menjulang tinggi di atas bukit-bukit; bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana, dan banyak suku bangsa akan pergi serta berkata: ‘Mari, kita naik ke gunung Tuhan, ke rumah Allah Yakub, supaya Ia mengajar kita tentang jalan-jalan-Nya dan supaya kita berjalan menempuhnya; sebab dari Sion akan keluar pengajaran, dan firman Tuhan dari Yerusalem.’” Jelas bahwa hal itu belum terjadi namun demikianlah yang dijanjikan dalam nubuat Mikha. Hendaknya kita semua memohon agar Roh Kudus menunjukkan kepada kita apa persisnya makna dari nubuat Mikha ini.
16Menurut Mikha akan datang masa kedamaian yang besar. Mikha menulis: “Ia akan menjadi hakim antara banyak bangsa, dan akan menjadi wasit bagi suku-suku bangsa yang besar sampai ke tempat yang jauh; mereka akan menempa pedang-pedangnya menjadi mata bajak, dan tombak-tombaknya menjadi pisau pemangkas; bangsa tidak akan lagi mengangkat pedang terhadap bangsa, dan mereka tidak akan lagi belajar perang. Tetapi mereka masing-masing akan duduk di bawah pohon anggurnya dan di bawah pohon aranya dengan tidak ada yang mengejutkan, sebab mulut Tuhan semesta alam yang mengatakannya.”

Bagian pertama ayat ini adalah kutipan langsung dari Yesaya. Lalu Mikha melanjutkannya. Kembali, Mikha sedang membicarakan tentang akhir zaman. Itulah satu lagi alasan mengapa merupakan hal yang menarik untuk mengamati Timur Tengah dan Israel.

Saya mengenal seorang guru Alkitab yang suka mengolok orang yang membicarakan tentang pergi ke Negara Israel lalu pulang sambil bernyanyi, “Hari ini aku berjalan di mana Yesus pernah berjalan.” Perspektif guru Alkitab ini adalah bahwa Kristus ada di dalam hati orang percaya dan oleh karenanya sangat dekat, dan mengunjungi Tanah Israel tidak akan menjadikan Kristus lebih dekat lagi. Akan tetapi, pada suatu kesempatan, kira-kira 40 orang dalam kelas Alkitab di mana ia mengajar meminta saya mengantarkan mereka ke Israel. Karena perjalanan itu akan menjadi semacam retret, maka pengajar Alkitab ini pun ikut serta. Begitu tiba di sana, ia menemukan ternyata itu benar-benar merupakan Tanah Suci. Ada sesuatu yang sangat istimewa tentang kota Yerusalem. Salah satu hal yang menjadikannya istimewa tentunya adalah ketika kita menengok ke belakang dan menyadari hal-hal yang pernah terjadi di sana. Hal lain yang menjadikannya mengasyikan adalah memandang jauh ke depan melalui mata para nabi dan melihat nubuat-nubuat ajaib menakjubkan yang belum tergenapi di sana. Nubuat para nabi Perjanjian Lama, dan wahyu mereka tentang berakhirnya sejarah manusia, seharusnya menjadikan kita semua mengamati Yerusalem dan mengarahkan mata kita ke Tanah Israel dan Timur Tengah.

Saya harus mengakhiri studi ini sampai di sini. Pastikan Anda bergabung dengan saya pada waktu berikutnya ketika kita akan mempelajari lebih lanjut khotbah yang luar biasa dari nabi Mikha ini. Dalam studi berikutnya, Mikha akan memberikan apa yang oleh banyak orang dianggap sebagai ayat terbesar dalam keseluruhan Alkitab.