ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Pesan-pesan Terakhir Salomo (I)

Selamat datang di satu lagi program Sekolah Alkitab Mini. Program ini adalah bagian dari studi tentang keseluruhan Alkitab. Kitab Puisi kedua ditulis oleh Salomo dan berjudul “Kitab Pengkhotbah”, yang sesungguhnya adalah suatu khotbah. Salomo menyampaikan khotbahnya kepada para pemuda Israel ketika Salomo sudah lanjut usianya. Ingatlah bahwa dalam Mazmur 127 Salomo mengatakan bahwa seseorang bisa saja sia-sia merasa risau atau kuatir; seseorang bisa saja sia-sia bekerja keras; seseorang bisa saja sia-sia membangun. Sebab, seseorang mungkin saja mengkuatirkan dan merisaukan hal yang sia-sia, bekerja keras atau membangun hal yang sia-sia dan hal-hal yang keliru. Itulah inti khotbah Salomo dalam Mazmur 127. Demikianlah penjelasan tentang kehidupan Salomo. Menurutnya, ia telah mengkuatirkan hal-hal yang keliru, bekerja keras mengupayakan hal-hal yang keliru, serta membangun hal-hal yang keliru. Kitab Pengkhotbah merupakan versi pengembangan dari Mazmur 127.

Dalam Kitab Pengkhotbah, Salomo mengatakan kepada para pemuda Israel, “Aku berusaha menemukan maksud dan makna kehidupan dalam tiga bidang kehidupan. Pertama, aku mencari maksud dan makna kehidupan dalam kekayaan material. Aku memusatkan hidupku untuk mengumpulkan kekayaan dan aku menjadi orang terkaya yang pernah hidup.” Tidak seorang pun yang pernah sukses mencari makna dan maksud kehidupan dalam kekayaan seperti halnya Salomo. Akan tetapi kalau Anda mengikuti argumentasinya dalam Kitab Pengkhotbah, Salomo berkata kepada para pemuda Israel, “Aku menghadapkan kekayaan dan kesejahteraanku dengan perkara kematianku. Pada suatu hari aku melihat seorang bodoh di masyarakat dan aku bertanya kepada diri sendiri, ‘apa yang akan terjadi pada orang bodoh itu? Ia akan mati. Apa yang akan terjadi padaku? Aku akan mati. Dan siapa yang akan menghabiskan segala kekayaan yang telah aku kumpulkan itu? Mungkin seorang yang bodoh seperti orang itu.’”

Putra Salomo adalah orang bodoh. Mungkin Salomo sedang membayangkan putranya ketika ia sampai kepada kesimpulan itu. Setelah menjadi orang terkaya yang pernah hidup, Salomo menyeimbangkan kekayaannya dengan perkara kematiannya yang tidak mungkin diperbantahkan, dan Salomo berkata, “Pada dasarnya kekayaan tidak dapat menjadi maksud dan makna kehidupan. Kehidupan itu pastilah lebih daripada sekedar mengumpulkan kekayaan.” Salomo berkata, “Aku menyesal tentang semuanya ini, bahwa aku harus meninggalkan segala buah kerja kerasku bagi orang lain. Siapa yang tahu apakah putraku akan menjadi orang yang bijaksana atau orang yang bodoh? Akan tetapi terpaksa aku akan menyerahkan semuanya itu kepadanya. Sungguh sia-sia! Sungguh mengecilkan hati! Bayangan menyerahkan seluruh kekayaanku kepada orang bodoh membuatku putus asa.”

Salomo kemudian memberitahu para pemuda Israel, saat ia menyadari bahwa kekayaan bukanlah maksud dan makna kehidupan ini, ia mencurahkan hidupnya untuk mengejar hikmat. Kembali, Salomo mengatakan kepada para pemuda Israel, “Aku menjadi orang paling bijaksana yang pernah hidup.” Akan tetapi, sama seperti halnya Salomo tidak menemukan maksud dan makna kehidupan di dalam kekayaan, ia pun tidak menemukannya dalam pengejarannya akan hikmat. Ia tidak menemukan maksud dan makna kehidupan di dalam kekayaan sebab ia telah menyimpulkan bahwa ia tidak dapat membawa kekayaannya ke liang kubur. Ia tidak menemukan maksud dan makna kehidupan dalam hikmat sebab ia menemukan ternyata hikmat tidak menuntun kepada kebahagiaan.

Pernahkah Anda melihat patung “Sang Pemikir?” “Sang Pemikir” bukanlah gambaran orang yang bahagia. Sang Pemikir tampak suram dan muram. Salomo menjelaskan logika dari kesimpulannya: “Dalam hikmat pun terdapat duka, dan orang yang meningkatkan pengetahuannya, meningkatkan dukanya pula.” Jadi, program Ph.D. atau paska doktoral belum tentu akan memberi Anda kebahagiaan.

Ketika saya masih kuliah, saya mempunyai begitu banyak pertanyaan. Ketika itu saya mengambil jurusan Alkitab sekaligus Psikologi, dan saya kesulitan menyelaraskan keduanya. Saya belajar Alkitab dan Psikologi sepanjang hari di kelas dan sebagai seorang juru ketik, saya mempelajari tentang keluarga manusia sepanjang malam. Saya mengajukan banyak pertanyaan kepada salah seorang profesor saya sampai-sampai pada suatu hari ia memandangi saya dan berkata, “Izinkan saya memberitahumu apa yang menurut saya harus kamu lakukan. Cobalah kamu pergi ke desa. Ketika kamu melihat ternak, turunlah dari mobilmu dan hampirilah salah satu sapi itu. Tataplah matanya. Maka kamu akan merasa rileks ketika kamu menatap matanya, sebab sapi itu merasa cukup dengan dirinya. Orang bahkan menampilkan gambar sapi pada sekaleng susu sebagai simbol kecukupan diri. Kecukupan diri seperti itu disebut sebagai “kecukupan diri ternak.” Kecukupan diri ternak didasarkan pada ketidaktahuan. Si sapi tidak mengetahui bahwa dunia ini terbagi-bagi karena masalah politik dan agama menjadi bentuk-bentuk pemerintahan yang demokratis atau teroris, dan bahwa ada senjata nuklir yang bisa memusnahkan seluruh umat manusia. Si sapi tidak mengetahui semuanya itu, jadi ia merasa cukup dengan dirinya. Cobalah kamu pergi ke desa, tataplah mata seekor sapi dan jadilah rileks.”

Ketika saya merenungkan pernyataan tersebut saya memutuskan bahwa saya memang perlu rileks namun saya tidak mau menjadi seekor sapi, dan saya tidak mau kecukupan diri saya didasarkan pada ketidaktahuan. Semuanya itu saya ceritakan untuk mengatakan begini: Ketika upaya Anda mengejar hikmat membawa Anda ke tempat dimana Anda mengetahui banyak hal, apakah fakta bahwa Anda sudah mengetahui banyak hal itu akan membuat Anda bahagia?

Bertahun-tahun yang lalu saya berjumpa dengan seorang pemimpin militer berpangkat tinggi yang menjadi bagian dari NATO dan sedang mewakili negaranya serta kemiliteran mereka selagi ia mempelajari tentang persaingan senjata antara Rusia dengan Amerika Serikat selama Perang Dingin. Ia mulai kehilangan kewarasannya karena ia mengetahui demikian banyak tentang apa yang bisa diakibatkan oleh senjata termonuklir. Ia meyakinkan saya bahwa kebahagiaan bukanlah produk sampingan dari pengetahuan. Upaya Salomo mengejar hikmat pun menuntunnya kepada kesimpulan yang sama.

Dalam pendahuluan, saya telah mengatakan bahwa pengetahuan bukanlah suatu kebajikan, namun aplikasi pengetahuan itulah kebajikan. Sekarang saya ingin mengatakan bahwa pengetahuan bukanlah hikmat, namun aplikasi yang benar dari pengetahuan itulah hikmat. Dalam upayanya yang kedua untuk menemukan maksud dan makna kehidupan, Salomo menyimpulkan bahwa ia kembali pulang dengan tangan hampa sebab pengetahuan belum tentu menuntun kepada kebahagiaan. Salomo menyimpulkan bahwa hikmat menuntun kepada duka dan pengetahuan menuntun kepada perkabungan.

Dalam khotbahnya, Salomo memberitahu para pemuda Israel bahwa ia mencoba rute ketiga dalam upayanya menemukan maksud dan makna kehidupan. Ia menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang menikmati segala kesenangan dunia. Ia berkata kepada para pemuda Israel, “Ingatlah, aku adalah orang terkaya yang pernah hidup dan aku adalah orang terpandai yang pernah hidup.” Terkadang saya memandang orang yang kaya dan melihat beberapa hal yang mereka dapatkan berkat kekayaan mereka. Terkadang saya berkata dalam hati, seandainya saya mempunyai uang sebanyak mereka, saya bisa menunjukkan apa yang dapat saya lakukan dengan uang sebanyak itu. Saya berkata dalam hati, “Percuma saja mereka memiliki uang sebanyak itu, sebab tampaknya mereka tidak pernah bergembira, mereka tidak tahu bagaimana caranya menikmati apa yang mereka miliki. Akan tetapi, seandainya saya mempunyai uang sebanyak mereka, saya akan jauh lebih pandai daripada mereka. Saya akan mengetahui apa yang akan saya lakukan dengan uang sebanyak itu.”

Salomo mengatakan bahwa ia memiliki segalanya dan ia mengetahui segalanya ketika ia mulai bersenang-senang. Salomo berkata, “Aku tidak menahan mataku dari apa pun yang mereka inginkan.” Luar biasa! Tidak ada orang yang pernah mengejar “kesenangan” dan pemuasan diri seperti Salomo. Akan tetapi, Salomo mengatakan bahwa sementara ia hidup bersenang-senang, ia menemukan pertanyaan-pertanyaan ini: Apa gunanya? Apa yang aku capai dengan melakukan semuanya ini?

Sedari dulu saya terpesona oleh fakta bahwa Jack dan Bobby Kennedy bersaudara diberikan satu juta dolar pada ulang tahun mereka yang ke-21, bebas dari pajak dan dengan pialang-pialang yang siap menginvestasikan uang mereka bagi mereka. Mereka tidak perlu bekerja seumur hidup mereka, namun mereka sama-sama memikul tanggung jawab yang mengakibatkan mereka kehilangan nyawa mereka. Saya percaya bahwa orang-orang seperti Kennedy bersaudara bisa memberitahu kita, karena mereka pernah mengalami kekayaan, bahwa kekayaan bukanlah tempat dimana maksud dan makna kehidupan bisa ditemukan. Kita dilahirkan bukan untuk bersenang-senang; kita dilahirkan bukan untuk mengejar kesenangan malam demi malam.

Ketika Salomo menghabiskan hidupnya untuk bersenang-senang, ia menyadari di dalam hatinya, bahwa ia tetap mempunyai kebutuhan untuk menemukan maksud dan makna kehidupan. Salomo mengetahui bahwa ia berada di bumi ini untuk suatu maksud dan ia mengetahui bahwa pesta pora bukanlah maksud untuk apa Allah menempatkannya di bumi. Demikianlah kesimpulan Salomo saat ia mencari maksud dan makna kehidupan melalui hidup bersenang-senang.

Ketika Salomo sampai kepada akhir khotbahnya bagi para pemuda Israel itu, kesimpulannya didasarkan pada pencariannya yang panjang dalam ketiga bidang tersebut: kekayaan, hikmat, dan kesenangan. Kesimpulan Salomo begini: “Takutlah akan Allah dan berpeganglah pada perintah-perintah-Nya, karena ini adalah kewajiban setiap orang. Karena Allah akan membawa setiap perbuatan ke pengadilan yang berlaku atas segala sesuatu yang tersembunyi, entah itu baik, entah itu jahat.” “Takutlah akan Allah” artinya “percaya kepada Allah.” Dan “berpeganglah pada perintah-perintah-Nya” artinya mentaati Firman-Nya. Logika di balik kesimpulan Salomo diekspresikan demikian dalam bahasa Ibrani: “sebab hal ini akan menjadikanmu manusia yang utuh.” Percaya kepada Allah dan mentaati Firman-Nya akan menjadikan Anda manusia yang utuh seperti yang Allah rancangkan. Disanalah Anda akan menemukan maksud dan makna kehidupan. Disanalah Anda akan menemukan kepenuhan sebagai seorang manusia. Salomo berkata, “Manusia yang beriman dan taat adalah kemuliaan Allah.” Itulah pesan Salomo kepada para pemuda Israel ini.

Alasan lain bagi logika kesimpulan Salomo itu adalah bahwa akan ada penghakiman. Salomo banyak mengatakan tentang ketidakadilan dalam kehidupan. Mengingat segala ketidakadilan itu, Salomo menyimpulkan bahwa pasti akan ada penghakiman suatu hari kelak. Penghakiman di masa mendatang merupakan bagian penting dari logika Salomo bahwa maksud dan makna kehidupan ditemukan ketika kita, sebagai manusia, percaya kepada Allah dan mentaati Firman-Nya. Demikianlah inti khotbah Salomo kepada para pemuda Israel.

Sementara Salomo berkhotbah kepada para pemuda Israel, ia menceritakan banyak hal yang mengagumkan. Ketika Anda membaca Kitab Pengkhotbah, Anda akan menemukan semacam sistem kebenaran dua jalur. Terkadang Salomo ragu dan terkadang Salomo mempertanyakan banyak hal. Terkadang Salomo menantang segalanya dan terkadang tampaknya ia berbicara terlepas dari penyataan atau wahyu Allah. Itulah sebabnya Kitab Pengkhotbah merupakan kitab kesukaan orang-orang yang tidak percaya dan orang yang skeptis. Sedari dulu orang yang tidak percaya dan orang yang skeptis menyukai Kitab Pengkhotbah sebab dalam Kitab Pengkhotbah Allah membiarkan Salomo mengekspresikan segala keraguannya. Salomo adalah orang yang sangat cerdas, namun ia mempertanyakan dan ia meragukan banyak hal. Salomo menjadi sangat pesimis, hampir-hampir menjadi pecundang secara filosofis. Banyak ayat dalam Kitab Pengkhotbah yang mengilustrasikan filosofi pecundang seorang Salomo. Akan tetapi, ketika Salomo mencari dan Allah memberinya penyataan atau wahyu, Salomo memberi kita mutiara kebenaran yang indah. Sebagian mutiara hikmatnya dalam Kitab Pengkhotbah ini lebih baik daripada mutiara hikmatnya dalam Kitab Amsal.

Karena pesan Kitab Pengkhotbah menyajikan kebenaran dari dua perspektif, sebagian orang berpikir bahwa kitab ini ditulis oleh lebih dari satu orang. Akan tetapi, kalau Anda benar-benar memahami apa yang terjadi dalam Kitab Pengkhotbah, Anda bisa membayangkan bahwa bagian-bagian dari kitab ini ibarat perbincangan Bildad, Zofar, dan Elifaz dalam Kitab Ayub. Ketika para penghibur Ayub itu mengakhiri perbincangan mereka, Allah mengatakan bahwa sebagian hal yang mereka katakan itu tidak benar. Akan tetapi, perbincangan mereka tetap merupakan bagian dari Alkitab. Keseluruhan Alkitab memang diilhami oleh Allah namun sebagian pernyataan dalam Alkitab tidak benar. Ketika Alkitab mengutip perkataan iblis, apa yang dikatakan iblis tidak benar namun tetap dicantumkan dalam Alkitab. Dalam Kitab Pengkhotbah, banyak pemikiran yang memang diilhami Allah namun bukanlah hal yang benar seperti yang ditunjukkan oleh Salomo ketika ia sedang pesimis, ketika ia merasa sinis di saat ia mencari maksud dan makna kehidupan. Akan tetapi, respon Allah terhadap upaya Salomo itu memberikan beberapa kebenaran paling indah dalam keseluruhan Alkitab.

Pastikan Anda bergabung lagi dalam sesi berikutnya ketika saya akan menjelaskan banyak kebenaran indah dan mendalam dalam Kitab Pengkhotbah, ketika Allah menyampaikan mutiara hikmat yang mendalam melalui Salomo, yang lebih mendalam daripada kitab Amsal Salomo yang mengagumkan.