| |
Nabi yang Politis (I)
Dengarlah, hai bangsa-bangsa sekalian! Perhatikanlah, hai bumi serta isinya! Biarlah Tuhan Allah menjadi saksi terhadap kamu, yakni Tuhan dari bait-Nya yang kudus. Sebab sesungguhnya, Tuhan ke luar dari tempat-Nya dan turun berjejak di atas bukit-bukit bumi. Luluhlah gunung-gunung di bawah kaki-Nya, dan lembah-lembah terbelah seperti lilin di depan api, seperti air tercurah di penurunan. Semuanya ini terjadi karena pelanggaran Yakub, dan karena dosa kaum Israel. Pelanggaran Yakub itu apa? Bukankah itu Samaria? Dosa kaum Yehuda itu apa? Bukankah itu Yerusalem? Sebab itu Aku akan membuat Samaria menjadi timbunan puing di padang menjadi tempat penanaman pohon anggur. Aku akan menggulingkan batu-batunya ke dalam lembah dan akan menyingkapkan dasar-dasarnya.”
 |
Selamat datang di satu lagi kelas Sekolah Alkitab Mini, di mana kita mempelajari keseluruhan Alkitab, yang sudah mengantarkan kita kepada para nabi Perjanjian Lama. Ayat yang baru saja saya bacakan menunjukkan pembukaan khotbah nabi Mikha. Seperti telah kita saksikan sebelumnya, seluruh nabi ini adalah pengkhotbah besar. Mikha adalah salah seorang pengkhotbah terbesar di antaranya. Masing-masing nabi mempunyai gaya berkhotbahnya sendiri. Sungguh menarik, untuk mengetahui dan berkenalan dengan gaya berkhotbah masing-masing nabi. |
Kitab Mikha dimulai dengan memberi kita informasi sejarah, sehingga kita mengetahui bahwa Mikha hidup dan berkhotbah selama pemerintahan Yotam, Ahaz, dan Hizkia. Beberapa nabi melayani selama pemerintahan raja Uzia. Kita telah mempelajari bahwa Uzia dan putranya, Yotam, bersama-sama memerintah selama tujuh tahun terakhir pemerintahan Uzia karena Uzia menderita kusta. Hizkia adalah raja yang baik, Yotam adalah raja yang cukup baik, namun Ahaz adalah raja yang sangat fasik. Penanggalannya menunjukkan bahwa Mikha hidup dan berkhotbah kira-kira seratus tahun sebelum pembuangan Yehuda ke Babel. Hal itu berarti bahwa pembuangan Israel ke Asyur juga terjadi pada zaman Mikha dan bahwa Mikha adalah nabi sezaman Yesaya dan Hosea.
Karena kefasikan raja Ahaz, terjadilah kebejatan rohani, moral, maupun kepemimpinan sipil bangsa di zaman Mikha. Mikha mengarahkan khotbahnya kepada kepemimpinan bangsa. Mikha bergabung dengan Yehezkiel dan Yeremia serta beberapa nabi lainnya, yang menyalahkan kebejatan rohani maupun kepemimpinan sipil umat Allah ini sebagai pemicu kebejatan moral maupun rohani di zaman mereka.
Mikha dan Amos mempunyai profil kepribadian yang serupa. Amos adalah seorang pemetik hasil panen dan juga seorang gembala. Mikha adalah apa yang sekarang kita sebut sebagai anak desa. Walaupun seorang anak desa, Mikha berkhotbah di ibukota kerajaan Utara dan Selatan. Saya telah mengemukakan bahwa seluruh nabi, kecuali Hosea dan Amos, melayani Kerajaan Yehuda di Selatan. Hanya Hosea dan Amos yang melayani Kerajaan Israel di Utara. Sekali lagi saya ingin menekankan fakta bahwa ada sepuluh suku di utara dan dua suku di selatan. Kesepuluh suku di utara disebut Israel. Kedua suku, yaitu Benyamin dan Yehuda berada di selatan, yang disebut Yehuda. Seluruh nabi, kecuali Hosea dan Amos, melayani Kerajaan Yehuda di Selatan, kecuali Mikha. Mikha berkhotbah di kedua tempat tersebut. Mikha dipanggil Allah untuk pergi ke ibukota Kerajaan Israel di Utara, yaitu Samaria, dan ke ibukota Kerajaan Yehuda di Selatan, yaitu Yerusalem. Di sanalah Mikha memberikan khotbahnya yang luar biasa.
Ketika Anda mempelajari sejarah menurut Alkitab dan juga sejarah gereja, sungguh menarik mengamati pola dalam karya Allah. Cara-cara Allah mengundang rasa ingin tahu, sebab cara-cara Allah bukanlah cara-cara manusia. Selama periode waktu yang dikenal sebagai “Kebangkitan Besar,” Allah dengan luar biasa memakai Wesley bersaudara dan George Whitfield, lulusan-lulusan Oxford, untuk memicu kebangkitan rohani yang mengubah perjalanan sejarah bangsa Inggris. Para pria berpendidikan ini berkhotbah kepada rakyat biasa di ladang dan rakyat biasa mendengarkan mereka dengan senang hati. Kira-kira seratus tahun kemudian, Allah dengan luar biasa mengurapi seorang penjual sepatu yang tidak berpendidikan bernama Dwight L. Moody. Pelayanan Dwight L. Moody sangat mempengaruhi Amerika dan mengarahkan ribuan orang kepada Allah walaupun tata bahasa Moody sangat buruk. Ketika Anda mendengar Moody berbicara, Anda akan berpikir bahwa ia baru saja ke luar dari lumbung atau ladang. Namun ketika Anda mendengarkan dia selama kira-kira lima menit, Anda tidak lagi memperhatikan tata bahasanya. Seolah-olah ada suara lain yang mengambil alih, yang merupakan pengurapan Roh Kudus atas Moody. Pelayanan Moody sangat dinamis. Bayangkan. Moody, yang tidak berpendidikan, berkhotbah kepada siswa-siswi Oxford dan Cambridge yang mendengarkan dengan penuh minat, mendengarkan seseorang yang tidak berpendidikan.
Seandainya Anda yang mengatur segalanya, bukankah Anda akan mengutus Wesley ke Oxford dan Cambridge, serta mengutus Moody ke ladang untuk berkhotbah kepada rakyat biasa? Saya yakin itulah yang akan saya lakukan. Namun kenyataannya, bukan demikian yang Allah lakukan.
Rasul Paulus adalah satu-satunya rasul yang mengenyam pendidikan teologi. Paulus pernah menjadi rabi, pernah menjadi orang Farisi di antara orang Farisi. Paulus belajar kepada Gamaliel, yang berarti ia mengenyam pendidikan teologi yang terbaik di zamannya. Apakah Allah mengutus Paulus kepada para rabi? Tidak! Allah mengutus Paulus kepada bangsa bukan Yahudi; Allah mengutus Paulus kepada para penyembah berhala, kepada orang yang sama sekali tidak mempunyai latar belakang teologi. Dan siapa yang Allah utus kepada para rabi? Nelayan buta huruf, seperti Petrus dan adiknya, Andreas, yang bahkan buta huruf. Mitra kerja Petrus, yaitu Yakobus dan Yohanes, yang juga buta huruf, diutus oleh Allah kepada Mahkamah Agama Yahudi. Para anggota Mahkamah Agama kagum bahwa mereka demikian menguasai diri, demikian berani, dan demikian berhikmat, sebab jelas sekali bahwa mereka sesungguhnya buta huruf. Akan tetapi, kita membaca bahwa para anggota Mahkamah Agama itu “menyadari bahwa mereka pernah bersama-sama dengan Yesus.” Karena mereka pernah bersama-sama dengan Yesus, ada sesuatu tentang nelayan-nelayan buta huruf ini yang tidak sanggup dijelaskan oleh para rabi itu.
Pelayanan Moody di Amerika sungguh berhasil. Ketika Moody merasa dituntun Tuhan untuk mengadakan kebaktian kebangunan rohani di Inggris, para kritikus meramalkan bahwa Moody akan gagal di London. Mereka mengatakan, “Mungkin ia berhasil menjangkau banyak orang di ladang jagung di Amerika Serikat, namun ia takkan pernah mendapatkan pendengar di Inggris.” Moody mempunyai seorang musisi bernama Ira Sankey. Semua pekabar Injil besar mempunyai musisi mereka sendiri. Moody akan bangkit berdiri, membaca dari Alkitab, lalu duduk kembali. Lalu Sankey akan bernyanyi. Lalu Moody akan bangkit kembali dan berkhotbah. Demikianlah kebiasaan mereka. Pada malam pertama Moody berada di Inggris, ia membacakan perikop tentang Anak yang Hilang dari Lukas 15 lalu duduk. Lalu Sankey menggubah sekaligus menyanyikan lagu “The Ninety and Nine” dengan harpanya. Apakah Anda pernah mendengarnya? Sankey bernyanyi tentang gembala yang mempunyai sembilan puluh sembilan ekor domba, namun yang satu hilang. Sankey menggubah kidung tersebut saat itu juga. Kita melihat bahwa Roh Allah turun ke atas tempat itu dan ketika Moody bangkit berdiri dan berkhotbah tentang Anak yang Hilang, Roh Kudus membuat ratusan orang menjadi beriman pada malam itu. Moody diundang berkhotbah di seluruh penjuru Inggris. Moody diundang berbicara kepada siswa-siswi Universitas Oxford dan Cambridge. Ketika saya membaca sejarah menurut Alkitab dan sejarah gereja, saya menjadi penasaran dengan cara-cara Allah. Saya senang membaca bahwa Allah memanggil dan memberikan amanat kepada Mikha, anak desa itu, dan mengutusnya untuk berkhotbah di ibukota kerajaan di Utara maupun di Selatan.
Mari kita renungkan sebagian khotbah anak desa ini, nabi besar Allah ini. Kitab Mikha terdiri dari 7 pasal. Saat Anda membaca Kitab Mikha, dan menyadari bahwa Kitab Mikha pada prinsipnya merupakan tiga khotbah yang luar biasa yang disampaikan oleh nabi ini, Anda akan menghargai kebesaran khotbah Mikha. Walaupun Mikha mengkhotbahkannya di ibukota kerajaan di Utara dan di Selatan, khotbah pertamanya ditujukan kepada seluruh bangsa di muka bumi. Karena Mikha menujukan khotbah pertamanya kepada seluruh bangsa di muka bumi, maka saya membacakan bagian pertama khotbah tersebut pada awal sesi ini. Dalam khotbah pertama Mikha kepada seluruh bangsa di muka bumi, ia berkhotbah secara berkobar-kobar tentang fakta bahwa Allah akan mendisiplinkan Samaria, yang merupakan ibukota kerajaan di Utara dan juga akan mendisiplinkan Yerusalem, yang merupakan ibukota kerajaan di Selatan.
Ketika kita membaca khotbah Mikha dalam bahasa kita, kita tidak dapat mengerti sebagian hal yang dikatakannya dalam bahasa asli Ibrani. Seandainya Anda dapat membaca khotbahnya dalam bahasa Ibrani, Anda akan menyadari bahwa Mikha adalah seorang pengkhotbah yang sangat, sangat cerdas dan fasih. Misalnya, ketika sampai ke inti khotbahnya kepada seluruh bangsa di muka bumi, ia mengatakan, “Karena itulah aku hendak berkeluh kesah dan meratap, hendak berjalan dengan tidak berkasut dan telanjang, hendak melolong seperti serigala dan meraung seperti burung unta; sebab lukanya tidak dapat sembuh, sudah menjalar ke Yehuda, sudah sampai ke pintu gerbang bangsaku, ke Yerusalem! Di Gat janganlah sampaikan berita, janganlah sekali-kali menangis! Baiklah gulingkan dirimu dalam debu di Bet-Le-Afra! Berkemaslah, hai penduduk Safir, dengan telanjang dan malu. Tidak berani ke luar penduduk Zaanan. Ratapan Bet-Haezel menghalangi engkau untuk tetap berdiri. Dengan bimbang penduduk Marot berharap akan kebaikan. Sebab malapetaka turun dari pada Tuhan.”
Seandainya kita dapat membaca khotbah ini dalam bahasa asli Ibrani, Anda akan menemukan permainan kata dalam ayat 10-14. Mikha menggunakan sedikit plesetan. Kata Safir mirip kedengarannya dengan kata dalam bahasa Ibrani yang artinya kecantikan, dan di sini, kecantikan tersebut dikontraskan dengan kondisi mereka yang memalukan. Zaanan mirip kedengarannya dengan kata kerja yang berarti “maju.” Mikha mengkontraskan konsep tersebut dengan ketakutan para penduduk Zaanan, bahkan untuk ke luar sekalipun. Bet-Haezel mirip kedengarannya dengan kata yang berarti fondasi, yang akan diambil dari mereka sehingga menghalangi mereka berdiri. Yang sesungguhnya dikhotbahkan oleh Mikha adalah begini: “Merataplah di kota yang koyak; bergelimang dalam debulah di kota debu; berjalan telanjanglah di kota yang tandus; jangan mencadangkan di kota cadangan; pasanglah pelana pada kudamu di kota kuda dan menyalaklah hai para raja, di kota sesumbar.”
Untuk mengilustrasikan “berjalan telanjang di kota tandus,” Mikha benar-benar berjalan telanjang, hanya untuk memastikan maksudnya dimengerti. Seperti yang telah saya kemukakan, nabi-nabi ini sangat demonstratif dalam mengilustrasikan maksud mereka. Saya yakin Mikha sangat mengesankan ketika memberikan khotbahnya yang pertama itu.
Saya ingin merangkum khotbah pertama Mikha yang ditujukan kepada seluruh bangsa di muka bumi. Mikha berkhotbah bahwa Allah mau dimuliakan melalui seluruh umat-Nya. Melalui umat-Nya, Allah mau menunjukkan kepada seluruh dunia, seperti apa Dia itu. Untuk apa Allah menciptakan manusia? Bukan untuk persekutuan. Allah menciptakan manusia bukan karena Ia kesepian dan membutuhkan persekutuan. Menurut Alkitab, Allah menciptakan manusia karena Ia menginginkan makhluk yang akan mencerminkan gambar dan rupa-Nya sendiri bagi seluruh ciptaan Allah. Untuk itulah Allah menciptakan manusia.
Ketika Allah mengamanatkan bangsa Ibrani untuk menjadi umat-Nya, itulah maksud-Nya bagi mereka. Allah menghendaki agar bangsa Ibrani menunjukkan kepada dunia, seperti apa Allah mereka itu. Di zaman Mikha, mereka mengalami kemerosotan baik moral maupun rohani. Mereka tidak menunjukkan kepada dunia, cerminan gambar dan rupa Allah. Oleh karenanya, pesan Mikha kepada seluruh bangsa di muka bumi, yang merupakan khotbah pertama dari tiga khotbahnya itu, pada prinsipnya adalah begini: Kehendak Allah, baik dulu maupun sekarang, adalah bahwa Allah menghendaki umat-Nya mencerminkan gambar dan rupa-Nya sendiri. Akan tetapi, walaupun umat-Nya tidak menjadi seperti yang Allah tetapkan bagi mereka, Allah tetap akan mencapai maksud-Nya melalui mereka. Allah akan menyatakan diri-Nya kepada dunia melalui mereka. Mikha berkhotbah, “Allah akan ‘menghukum’ engkau di hadapan dunia! Ketika Allah menghukummu, Allah akan mengundang seluruh dunia untuk menyaksikannya. Ketika Allah menghukummu di hadapan seluruh dunia, Allah akan menunjukkan kepada dunia, cerminan dari gambar dan rupa-Nya.”
Ketika saya masih sekolah dasar, para guru suka menghukum para murid di depan kelas. Mungkin sebagian dari antara Anda juga masih ingat masa-masa itu. Guru Anda akan menghukum Anda di depan kelas. Sungguh pengalaman yang tidak mengenakkan bagi murid yang tidak patuh dan pengalaman yang menakutkan bagi murid-murid yang lain. Menurut saya, itulah filosofi di balik hukuman di depan publik. Dulu, penjahat digantung di depan publik untuk memberikan kesan serius dan untuk menakut-nakuti warga lainnya agar mematuhi hukum. Itulah mentalitasnya ketika saya masih sekolah dasar.
Menurut saya, pada prinsipnya itulah yang ingin disampaikan oleh Mikha dalam khotbahnya yang pertama. Menurut Mikha, Allah akan mendatangkan bangsa Asyur untuk menghukum kerajaan Israel di Utara, dan bangsa Asyur akan menjadi semacam cambuk Allah untuk menghukum umat-Nya di kerajaan Israel di Utara. Seluruh dunia diundang menyaksikan penghukuman tersebut sehingga seluruh dunia akan menerima wahyu tentang kehendak Allah bagi umat-Nya. Seluruh dunia akan mengetahui, apa yang oleh Allah dianggap sebagai perilaku yang normal dan benar bagi umat-Nya. Seluruh dunia akan menangkap pesannya sebab mereka akan melihat Allah membaringkan Kerajaan Israel di Utara itu di atas lutut-Nya dan menggunakan bangsa Asyur untuk “mencambuk” mereka. Maka seluruh dunia akan mengetahui apa yang Allah tetapkan bagi umat-Nya.
Mikha juga menujukan khotbahnya kepada Kerajaan Yehuda di Selatan ketika ia mengkhotbahkan bahwa bangsa Babel akan datang. Mikha bergabung dengan Yesaya dalam meramalkan pembuangan ke Babel kira-kira seratus tahun sebelum adanya Kekaisaran Babel. Mikha juga bergabung dengan Yesaya dalam meramalkan pembuangan tersebut 150 tahun sebelum hal itu terjadi. Mikha menubuatkan bahwa Allah akan membaringkan Kerajaan Yehuda di Selatan di atas lutut-Nya, dan menggunakan bangsa Babel untuk “mencambuk” mereka di hadapan seluruh dunia.
Keseluruhan maksud khotbah Mikha yang pertama adalah begini: Maksud Allah bagi kehidupan bangsa pilihan-Nya adalah agar mereka menunjukkan kepada seluruh dunia, seperti apa karakter Allah, gambar dan rupa Allah itu. Karena mereka tidak mau melaksanakannya secara benar melalui hidup yang kudus, maka Allah berfirman melalui Mikha, “Engkau tetap akan menunjukkan kepada dunia apa yang menjadi maksud-Ku, sebab Aku akan mencambukmu di hadapan seluruh dunia.” Demikianlah rangkuman dari inti khotbah Mikha yang pertama. Dalam khotbah Mikha yang pertama itulah, ia menggunakan plesetan yang dapat kita mengerti seandainya kita memahami bahasa Ibrani. Khotbah Mikha yang pertama menunjukkan betapa fasihnya Mikha berkhotbah.
Seperti halnya nabi yang lain, Mikha pun mengakhiri khotbahnya dengan berita baik ketika ia menubuatkan kembalinya Yehuda dari pembuangan di Babel dan pulihnya kerajaan di Utara maupun di Selatan pada akhirnya. Dan tentu, Mikha juga menubuatkan bahwa pemulihan itu nantinya akan terjadi pada akhir zaman ketika kerajaan di Utara maupun di Selatan kembali dari pembuangan mereka.
Sampai studi yang berikutnya. Bergabunglah dengan saya saat kita membahas lebih lanjut tentang Mikha, nabi yang menubuatkan tentang Mesias ini.
|
|