ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Injil yang Berlawanan (I)

Salam jumpa di Sekolah Alkitab Mini. Sungguh suatu kehormatan bagi kami untuk membahas keseluruhan Alkitab, kitab demi kitab, dan saya sangat senang bahwa Anda menjadi murid Firman Allah yang setia. Program studi ini telah mengantarkan kita kepada surat-surat Rasul Paulus, yang menulis setengah isi Perjanjian Baru. Dalam sesi ini kita akan melanjutkan studi tentang surat Paulus kepada jemaat di Galatia. Setelah Paulus melayani dengan sangat efektif di Galatia, kemudian, para guru Yahudi yang menjadi percaya ketika Paulus memberitakan Injil di Galatia, mengajar kepada orang-orang yang telah menjadi percaya, bahwa mereka tetap harus mematuhi hukum-hukum seremonial Yahudi agar mereka diselamatkan. Mereka mengajar kepada jemaat di Galatia bahwa percaya kepada Injil Kristus yang Paulus khotbahkan belumlah cukup untuk diselamatkan.

Ketika Paulus mendengar bahwa Injil Kristus yang telah ia beritakan itu diputar-balikkan, ia menjadi marah. Ia tidak sabaran menunggu juru stenonya dan langsung menulis dengan tulisan tangannya sendiri: “Aku takjub bahwa engkau berbalik dari Allah yang, dalam kasih dan rahmat-Nya, telah mengundangmu untuk berbagi kehidupan kekal yang Ia berikan melalui Kristus. Engkau sudah mengikuti jalan lain menuju sorga, yang sesungguhnya bukan jalan menuju sorga sama sekali, sebab tidak ada jalan lain menuju sorga selain yang telah kami tunjukkan kepadamu. Engkau terkecoh oleh mereka yang memutar-balikkan dan mengubah kebenaran tentang Kristus. Biarlah Allah mengutuk siapa pun, termasuk aku sendiri, yang mengkhotbahkan cara lain untuk diselamatkan selain yang telah kuajarkan kepadamu.

Bahkan seandainya pun seorang malaikat turun dari sorga dan mengkhotbahkan pesan lainnya, terkutuklah dia. Aku ulangi, barangsiapa memberitakan injil lain selain daripada yang telah engkau terima, terkutuklah dia!”

Demikianlah Paulus memulai suratnya kepada jemaat di Galatia. Paulus mengkonfrontasikan pemutar-balikkan Injil Kristus dengan Injil Kristus yang mutlak. Paulus mau mengatakan kepada jemaat di Galatia: “Ketika aku bersama denganmu, aku memberitakan Injil Kristus; keselamatan oleh kasih karunia, oleh iman, tanpa ditambah apa-apa. Orang telah menindak-lanjuti karyaku di antaramu dengan mengajarkan bahwa engkau harus melakukan sesuatu untuk ditambahkan kepada karya Yesus Kristus yang telah tuntas; bahwa Yesus belum cukup berkarya, maka engkau tetap harus disunat, dan mematuhi hukum Musa.” Oleh karenanya Paulus sangat keras menegor pemutar-balikkan Injil Kristus itu dengan mengatakan bahwa Injil Kristus yang telah diberitakannya kepada mereka itulah yang mutlak, sebab ia menerimanya lewat penyataan langsung dari Yesus Kristus sendiri di padang gurun Arab.

Mulai dari pasal 2:11 sampai akhir pasal 2, terdapat satu lagi bacaan indah dalam surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini, yang difokuskan pada Injil Kristus yang mutlak. Injil Kristus menjadi tema surat singkat Paulus kepada jemaat di Galatia. Masalah jemaat di Galatia adalah bahwa Injil Kristus diputar-balikkan, sehingga fokus surat yang singkat namun sangat keras kepada jemaat di Galatia ini adalah pada Injil Kristus yang mutlak. Saya menyebut bacaan dalam pasal 2 ini “Injil Kristus yang Berlawanan”.

Di sini ajaran besar Rasul Paulus muncul dari pengalamannya bersama dengan Petrus. Persoalannya di sini ada hubungannya dengan fakta bahwa banyak orang yang sebelumnya adalah orang Yahudi sebelum mereka menjadi murid Yesus, sebisa mungkin ingin mempertahankan keyahudian mereka setelah mereka membuat komitmen untuk mengikut Yesus. Mereka mengadakan rapat dewan di Yerusalem di mana persoalan ini dibahas. Diputuskan bahwa kalau umat Kristen Yahudi ingin mempertahankan hukum-hukum seremonial Yahudi, hukum-hukum tentang tata cara makan, dan tradisi-tradisi seperti itu, selama mereka tidak mempercayakan keselamatan mereka kepada semuanya itu, maka tidak ada salahnya bagi mereka untuk mempertahankan adat istiadat Yahudi mereka. Akan tetapi, diputuskan bahwa umat Kristen yang bukan Yahudi tidak perlu mempraktikkan adat istiadat religius Yahudi. Orang percaya yang bukan Yahudi tidak perlu menjadi Yahudi dalam ibadah agamawi mereka. Umat Kristen Yahudi diinstruksikan agar tidak membebani hal itu terhadap orang percaya yang bukan Yahudi.

Rapat dewan yang kedua di Yerusalem digambarkan dan dirangkum dalam Kisah Para Rasul 15. Akan tetapi, jemaat terus saja mengalami masalah sementara Paulus dan Barnabas memberitakan Injil kepada orang-orang bukan Yahudi. Misalnya, di kota Antiokhia, terdapat jemaat yang Yahudi dan bukan Yahudi. Sebagian di antaranya hidup bersama dan sering makan bersama. Oleh karenanya mereka mengalami sebuah masalah. Haruskah mereka mematuhi hukum tata cara makan ketika mereka makan bersama?

Rupanya mereka mempunyai dua meja saat mereka makan bersama di Antiokhia. Pada meja yang satu mereka mematuhi hukum tata cara makan Yahudi. Pada meja yang lain mereka tidak mematuhi hukum tata cara makan Yahudi. Orang yang bukan Yahudi lebih suka makan di meja di mana mereka boleh makan daging panggang dengan telur, atau roti lapis daging, sebab di meja mereka tidak berlaku hukum tata cara makan Yahudi yang melarang makanan seperti itu. Orang Yahudi yang tidak mau tersinggung oleh daging, boleh makan di meja di mana berlaku hukum tata cara makan Yahudi.

Ketika Rasul Paulus mengunjungi Antiokhia, semua orang bertanya-tanya, di meja mana Paulus akan makan. Toh Paulus dulunya seorang rabi, orang yang paling Farisi di antara orang Farisi, sempat berguru kepada Gamaliel. Ternyata Paulus duduk di meja bukan orang Yahudi dan makan daging panggang dan roti lapis daging. Petrus demikian terkesannya sehingga ia duduk bersama Paulus di meja bukan orang Yahudi. Mungkin untuk pertama kalinya itulah Petrus mencicipi daging panggang. Rupanya Petrus melakukan hal itu selama beberapa lama. Akan tetapi, pada suatu hari Rasul Paulus mungkin duduk di ujung meja bukan Yahudi dan membelakangi pintu. Tiba-tiba beberapa saudara dari Yerusalem, yang mematuhi hukum Yahudi dengan kaku, muncul. Saya suka membayangkan Petrus sedang menikmati roti lapis dagingnya ketika saudara-saudara dari Yerusalem itu masuk. Ketika Petrus melihat mereka, Petrus bangkit dari meja bukan Yahudi dan pindah ke meja Yahudi. Barnabas terpengaruh, dan mengikut Petrus. Sebagian orang Yahudi lain yang sebenarnya sedang makan bersama Paulus di meja bukan Yahudi, juga mulai pindah. Ketika itulah Paulus berbalik dan melihat siapa yang datang.

Maka mengamuklah Paulus! Dalam Galatia 2:11 Paulus menulis: “Tetapi waktu Kefas datang ke Antiokhia, aku berterus-terang menentangnya, sebab ia salah.” Kata Yahudi yang digunakan di sini mengatakan bahwa mereka berhadapan muka saling menantang dan dekat sekali. Paulus benar-benar mencela Petrus di hadapan seluruh jemaat di Antiokhia, sebab, sebelum saudara-saudara Yahudi itu datang, Petrus makan bersama orang bukan Yahudi, namun ketika saudara-saudara Yahudi itu datang, Petrus pindah ke meja Yahudi sehingga orang Yahudi lainnya juga terpengaruh dan melakukan hal yang sama.

Waktu Paulus mengkonfrontasi Petrus, ia mengucapkan hal-hal seperti dituliskannya kepada jemaat di Roma. Dalam Galatia 2:16-17 Paulus menulis: “Kamu tahu, bahwa tidak seorang pun yang dibenarkan oleh karena melakukan hukum Taurat, tetapi hanya oleh karena iman dalam Kristus Yesus. Sebab itu kami pun telah percaya kepada Kristus Yesus, supaya kami dibenarkan oleh karena iman dalam Kristus dan bukan oleh karena melakukan hukum Taurat. Sebab: ‘tidak ada seorang pun yang dibenarkan’ oleh karena melakukan hukum Taurat. Tetapi jika kami sendiri, sementara kami berusaha untuk dibenarkan dalam Kristus ternyata adalah orang-orang berdosa, apakah hal itu berarti, bahwa Kristus adalah pelayan dosa? Sekali-kali tidak.” Dengan kata lain, Paulus mau mengatakan: “Kalau aku hanya mempercayakan keselamatanku kepada Kristus dan aku harus mematuhi hukum ini untuk menyelamatkan aku, maka sia-sialah Kristus mati untuk aku.”

Beberapa kebenaran teologi yang paling mendalam yang pernah disampaikan oleh Rasul Paulus diucapkannya ke muka Petrus di Antiokhia. Dalam konteks itulah Paulus memberikan apa yang saya sebut “Injil yang Berlawanan”.

Dalam Galatia 2:19-21, di akhir konfrontasinya dengan Petrus, Paulus memberikan pernyataan mengagumkan ini: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku. Aku tidak menolak kasih karunia Allah. Sebab sekiranya ada kebenaran oleh hukum Taurat, maka sia-sialah kematian Kristus.” Itulah yang saya sebut “Injil Kristus yang berlawanan”, sebab pada prinsipnya, yang Paulus maksudkan adalah bahwa “Injil Kristus yang mutlak adalah begini: Kristus mati agar engkau boleh hidup. Itulah Injil Kristus. Sedangkan Injil yang berlawanan adalah begini: engkau mati agar Kristus boleh hidup. Itulah Injil yang berlawanan.

Galatia 2:19-21 ini dihafalkan oleh banyak orang. Paulus memulai pernyataannya dengan mengatakan bahwa dirinya telah disalibkan dengan Kristus. Dari sudut penerapannya, banyak orang berhenti membacanya sampai di sana saja. Banyak orang masuk biara dan melakukan segala macam hal, karena kalimat “Aku telah disalibkan dengan Kristus” itu. Padahal, dalam kalimat selanjutnya Paulus mengatakan: “namun aku hidup … hidupku yang kuhidupi … adalah hidup oleh iman.” Berarti yang Paulus bicarakan adalah tentang bagaimana ia hidup dan bukan mati. Dan ia memberikan 3 alasan mengapa ia hidup.

Pertama: “… adalah hidup oleh iman.” Itulah pesan dalam suratnya kepada jemaat di Roma: “Aku hidup oleh iman dan aku hidup kekal. Aku hidup berlimpah di dunia yang sekarang, namun aku hidup oleh iman kepada Kristus, bukan dengan mengupayakan jalan masuk ke Sorga dengan cara mematuhi berbagai hukum dan aturan yang sesungguhnya tidak mungkin dipatuhi. Aku hidup oleh iman kepada Kristus.”

Kedua, ia berkata, “Aku hidup karena Kristus hidup di dalam aku”. Inilah ajaran dinamis dari Rasul Paulus: “Kristus hidup di dalam aku”. Paulus mau mengatakan: “Tidak sadarkah engkau bahwa Kristus hidup di dalam kamu? Tidak tahukah engkau bahwa tubuhmu adalah bait Allah, bahwa Kristus sungguh hidup di dalam kamu?” Itulah sebabnya, ketika Anda berolahraga atau beristirahat, seharusnya hal itu Anda sebut sebagai “pemeliharaan bait Allah”. Anda sedang memelihara bait di mana Kristus hidup. “Kristus hidup di dalam aku” sungguh merupakan ajaran yang dinamis. Coba Anda merenungkannya. Inilah kebenaran paling dinamis yang diajarkan dalam Perjanjian Baru: “Kristus di dalam kamu itulah pengharapan akan kemuliaan.” Kristus hidup di dalam Anda. Oleh karenanya, “Aku hidup karena Kristus hidup di dalam aku. Aku hidup oleh iman kepada Anak Allah. Aku hidup karena aku telah disalibkan dengan Kristus.”

Di sinilah agama Kristen memberikan suatu paradoks. Kalau Anda memahami ajaran Yesus, satu-satunya jalan ke atas adalah ke bawah; satu-satunya cara untuk hidup adalah mati; satu-satunya cara mendapatkan nyawa Anda adalah dengan mengorbankannya. Demikianlah yang Paulus maksudkan. Yesus mengajarkan bahwa kehidupan Anda adalah ibarat pasir dalam gelas pengukur waktu. Satu hal yang pasti tentang substansi di dalam gelas itu adalah bahwa hal itu melambangkan kehidupan Anda. Anda tidak mungkin menyimpannya dalam arti menghalangi pasirnya turun. Yang mungkin Anda lakukan hanyalah mengendalikan bagaimana pasirnya turun. Anda bisa membiarkannya turun begitu saja, Anda bisa menumpahkannya, atau Anda bisa menuangkannya untuk maksud-maksud yang keliru. Anda bisa mengorbankannya untuk maksud-maksud yang keliru, atau, Anda bisa mengorbankannya untuk maksud-maksud yang benar. Itulah yang Yesus ajarkan tentang apa yang seharusnya kita lakukan dengan kehidupan kita atau substansi dalam wadah itu. Menurut Yesus, janganlah kita menumpahkannya, melainkan, hendaklah kita menjualnya kepada penawar tertinggi. Hendaklah kita mengorbankannya demi kemuliaan Allah dan demi Yesus Kristus. Hendaklah kita menuangkannya di mana Yesus menyuruh kita menuangkannya, kapan Yesus menyuruh kita menuangkannya, dan untuk siapa Yesus menyuruh kita menuangkannya. Demikianlah yang seharusnya kita lakukan dengan kehidupan kita menurut Yesus maupun Rasul Paulus. Inilah yang Paulus maksudkan ketika ia mengatakan: “Aku telah disalibkan dengan Kristus. Aku telah menemukan kebenaran besar ini bahwa satu-satunya cara mendapatkan kehidupanmu adalah dengan mengorbankannya, dan satu-satunya cara menyelamatkan nyawamu adalah dengan mengorbankannya. Satu-satunya cara untuk hidup adalah mati.” Demikianlah yang Paulus ajarkan di sini. Ajaran Paulus sejalan dengan ajaran Kristus. Saya menyebut ajaran Paulus ini sebagai “Injil Kristus yang berlawanan” sebab apa yang Paulus katakan kepada Petrus di Antiokhia itu adalah begini: “Engkau diselamatkan bukan karena mematuhi hukum tata cara makan itu. Engkau diselamatkan karena iman kepada apa yang Yesus lakukan bagimu. Kristus mati agar engkau boleh hidup. Itulah Injil Kristus. Sekarang engkau mati agar Ia boleh hidup. Itu berarti Injil yang berlawanan.”

Baptisan adalah penerapan yang indah dari kebenaran mendalam yang diajarkan oleh Yesus dan Paulus ini. Saya mempercayai cara pembenaman. Saya meyakini kepercayaan Baptis Reformasi seperti Charles Spurgeon. Salah satu hal yang saya sukai tentang pembenaman adalah bahwa pembenaman secara indah menggambarkan pernyataan ini: “Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.” Saat Anda masuk ke dalam air, Anda mengidentikkan diri Anda dengan kematian Yesus Kristus. Anda mengakui iman Anda, bukan saja terhadap kematian Yesus demi pengampunan dosa Anda, melainkan juga mengakui kepada seluruh dunia bahwa Anda turut disalibkan bersama Kristus, bahwa Anda mati terhadap ambisi dan rencana bagi kehidupan Anda sendiri. Anda memberitahu seluruh dunia bahwa bukan Anda yang melibatkan Kristus dalam rencana-rencana Anda, melainkan Kristus yang melibatkan Anda dalam rencana-rencana-Nya. Anda mati terhadap segala rencana Anda sendiri. Lalu, ketika Anda muncul dari dalam air, Anda mengakui iman Anda terhadap kebangkitan; Anda memberitahu seluruh dunia bahwa Anda telah dibangkitkan bersama Kristus. Itulah Injil Kristus yang berlawanan. Kristus mati agar Anda boleh hidup. Sekarang Anda mati agar Kristus boleh hidup melalui Anda.

Galatia 2:19-21 ini adalah rangkuman dari Kitab Roma. Maksud saya begini. Ketika Paulus mengatakan: “Aku hidup oleh iman”, hal itu mewakili 4 pasal pertama Kitab Roma. Lalu dalam Roma 5 s/d 8, ketika Paulus menunjukkan bagaimana cara mengatasi dosa, yang ia maksudkan adalah: “Aku hidup karena Kristus hidup di dalam aku. Roh yang hidup di dalam aku lebih besar daripada hukum dosa dan kuasa dosa yang mencoba menyeret aku ke bawah”. Lalu, ketika Paulus mengatakan, “Aku hidup karena aku disalibkan dengan Kristus”, hal itu mewakili pasal-pasal terakhir Kitab Roma di mana Rasul Paulus mengatakan: “Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” Itu sama dengan mengatakan: “Aku hidup karena aku disalibkan dengan Kristus. Aku telah mempersembahkan tubuhku kepada-Nya sebagai persembahan yang hidup.” Pernyataan itu merangkum surat Paulus kepada jemaat di Roma.

Sebagai penutup, cobalah Anda menghafalkan Galatia 2:19-21. Lalu dengan kata-kata sendiri, tunjukkanlah bagaimana pesan dalam Kitab Roma dirangkum dalam ayat-ayat ini. Sudahkah Anda disalibkan dengan Kristus? Apakah Anda hidup di dalam Dia dan demi Dia? Itulah bahan perenungan kita bersama sampai kita berjumpa lagi dalam sesi Sekolah Alkitab Mini berikutnya.