ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Injil yang Mutlak (II)

Salam jumpa di Sekolah Alkitab Mini. Program ini dimaksudkan untuk membantu Anda memahami keseluruhan Alkitab, di mana kita membahasnya kitab demi kitab. Akan tetapi yang terpenting bukanlah semata-mata memahaminya dengan kepala Anda melainkan juga memahaminya dengan hati Anda. Keinginan saya adalah membantu umat Allah masuk ke dalam Firman-Nya dan Firman-Nya masuk ke dalam umat-Nya.

Dalam sesi terakhir, kita membahas pernyataan-pernyataan Paulus yang mengagumkan dalam dua pasal pertama kitab Galatia, di mana Paulus menjelaskan bahwa segala kebenaran mendalam yang ditulisnya itu diterimanya sebagai penyataan dari Yesus Kristus sendiri ketika mereka melewatkan waktu bersama di padang gurun Arab.

Dalam Galatia 1:20 Paulus menulis: “Di hadapan Allah kutegaskan: apa yang kutuliskan kepadamu ini benar, aku tidak berdusta.” Ketika kita membahas pengalaman Paulus saat ia menjadi percaya, saya telah mengatakan bahwa Paulus tidak memberi Anda banyak pilihan. Entah ia seorang pendusta, atau salah satu mujizat terbesar dalam Perjanjian Baru. Pauluslah yang menulis setengah dari isi Perjanjian Baru.


Waktu kita mempelajari Injil Yohanes, saya telah menceritakan bahwa C.S. Lewis mengatakan bahwa Yesus memberi kita hanya 3 pilihan: kita bisa menyebut Yesus itu pendusta, atau orang gila, atau sungguh-sungguh Tuhan, yang berarti kita harus mengikut Dia. Sebelum kita meneruskan pembahasan tentang surat-surat Paulus, hendaknya Anda memutuskan apa yang Anda yakini tentang dia: entah Paulus itu seorang pendusta, orang gila, atau ia sungguh-sungguh menerima segala kebenaran mendalam, yang ia tuliskan dalam surat-suratnya, sebagai penyataan langsung dari Yesus Kristus sendiri. Inilah saat yang tepat bagi Anda untuk memutuskan apa yang Anda yakini tentang Paulus.

Saat Anda membaca surat-surat Paulus yang mendalam ini, setiap orang yang berpikir akan bertanya, dari mana Paulus mendapatkan semua informasi ini? Paulus bukanlah salah seorang rasul yang mengikut Yesus dan belajar dari-Nya selama 3 tahun sewaktu Yesus hidup di bumi. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menjelaskan bahwa ia tidak “sekolah seminari” di Yerusalem. Kalimat pembukanya menjelaskan kepada mereka, dan kepada kita sekarang, dari mana ia mendapatkan segala informasi yang ia teruskan dalam surat-suratnya. Ia menulis, “Dari Paulus, seorang rasul, bukan karena manusia, juga bukan oleh seorang manusia, melainkan oleh Yesus Kristus dan Allah, Bapa, yang telah membangkitkan Dia dari antara orang mati.” Lalu dalam ayat 11 Paulus menulis: “Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yang kuberitakan itu bukanlah injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh penyataan Yesus Kristus.”

Pengkhotbah seperti saya, yang mengajarkan Firman Tuhan, harus mengatakan, “Saya adalah pelayan Injil Kristus dan saya adalah pelayan dari manusia dan oleh manusia.” Dari manusia, karena saya disahkan sebagai pendeta dari manusia. Manusialah yang menumpangkan tangannya ke atas saya dan mengakui bahwa Allah telah mensahkan saya sebagai pelayan. Anda pernah mendengar saya menyebut nama-nama profesor saya, seperti Dr. J. Vernon McGee, dan banyak yang lain, yang mengajarkan Firman Tuhan kepada saya. Jadi, apa yang saya ajarkan sekarang kepada Anda adalah dari manusia dan oleh manusia. Akan tetapi, dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus menulis: “Yang kukhotbahkan ketika aku berada di Galatia itu bukan dari manusia dan juga bukan oleh manusia.” Maksudnya, apa yang ia khotbahkan itu bukan diterimanya dari manusia mana pun dan ia bukan diajar oleh manusia mana pun. Paulus mau mengatakan bahwa ia disahkan sebagai rasul bukan oleh manusia mana pun, melainkan oleh penyataan langsung dari Yesus Kristus sendiri. Paulus mau mengatakan: “Aku adalah seorang rasul oleh Yesus Kristus. Yesus Kristus sendiri yang mengamanatkannya kepadaku. Yesus Kristus sendiri yang mensahkan aku menjadi seorang rasul.” Dalam pasal 2, Paulus menjelaskan bahwa 14 tahun kemudian ia baru pergi ke Yerusalem dan berjumpa dengan rasul-rasul lainnya. Ia menjelaskan bahwa ia pergi ke sana oleh penyataan, yang berarti bahwa Roh Kuduslah yang menuntunnya pergi ke Yerusalem. Para rasul mengetahui bahwa Paulus akan datang karena Roh Kudus memberitahu mereka bahwa Paulus akan datang. Ketika pada akhirnya Paulus berjumpa dengan para rasul yang lain, Paulus menulis, bahwa “setelah melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, maka Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yang dipandang sebagai soko-guru jemaat, berjabat tangan dengan aku dan dengan Barnabas sebagai tanda persekutuan, supaya kami pergi kepada orang-orang yang tidak bersunat dan mereka kepada orang-orang yang bersunat.”

Sungguh menarik. Pertama-tama, saya jadi bertanya-tanya: Bagaimana Paulus membuktikan kepada para rasul yang lain, bahwa dirinya pun rasul sama seperti mereka? Apa maksudnya Yakobus, Kefas, dan Yohanes, yang dipandang sebagai soko-guru jemaat, “melihat kasih karunia yang dianugerahkan kepadanya”? Apa sesungguhnya yang dilihat para rasul itu, sehingga meyakinkan mereka bahwa Paulus memang seorang rasul sama seperti mereka? Kata “kasih karunia” di sini adalah “charis”. Ketika kasih karunia bekerja dalam kehidupan Anda, hal itu disebut “charisma.” Pastilah para rasul itu melihat karunia-karunia Roh pada diri Paulus. Pastilah mereka melihat semacam perwujudan karismatik yang mendemonstrasikan fakta bahwa kasih karunia sungguh telah dianugerahkan kepada Paulus, bahwa Roh Kudus sungguh diam di dalam diri Paulus dan atas Paulus, sama seperti halnya Roh Kudus diam di dalam diri mereka dan atas mereka. Para rasul yang lain telah 3 tahun mengikut Yesus. Sekarang Paulus mengklaim bahwa ia pun sudah 3 tahun melewatkan waktu bersama Yesus. Mereka sama-sama mengetahui banyak sekali tentang Yesus. Pasti Paulus menceritakan banyak hal yang diketahuinya tentang Yesus dari saat ia melewatkan waktu bersama Yesus. Apa pun yang Paulus lakukan, ia mendemonstrasikan kepada para rasul yang lain bahwa dirinya juga seorang rasul, sama seperti mereka. Maka para rasul yang lain berjabat tangan dengan Paulus dan Barnabas sebagai tanda persekutuan dan mengatakan, “kamu berdua ternyata juga rasul, sama seperti kami. Pergilah kepada orang-orang yang bukan Yahudi, yang tidak mengenal Allah, sedangkan kami akan pergi kepada orang-orang Yahudi, yang mengenal Allah.”

Seandainya saya jadi mereka, saya tidak akan melakukannya demikian. Pernahkah Anda ingin mengatakan kepada Tuhan: “Menurut saya, bukan begitu seharusnya. Menurut saya Engkau seharusnya melibatkan saya pada saat menyusun rancangan-Mu itu. Saya tidak akan melakukannya demikian.” Begini. Paulus dulunya seorang rabi, seorang yang paling Farisi di antara semua orang Farisi. Paulus adalah asuhan Gamaliel, rabi besar itu, yang setara dengan kuliah di Harvard sekarang ini. Sebagai orang Yahudi, Paulus telah mengenyam pendidikan teologi terbaik. Paulus pernah menjadi anggota Mahkamah Agama. Berarti lebih tepat kalau Paulus diutus kepada orang Yahudi. Sedangkan nelayan buta huruf seperti Petrus itu seharusnya diutus kepada orang yang belum mengenal Allah, kepada orang yang bukan Yahudi. Sebab mereka belum mempunyai pendidikan teologi sama sekali, mereka belum mengenal bahasa Semit. Jadi, orang yang tidak berpendidikan seharusnya diutus kepada orang yang belum mengenal Allah, sedangkan seorang sarjana teologi seharusnya diutus kepada para rabi. Ternyata, Allah melakukan yang sebaliknya. Allah mengutus sang sarjana teologi kepada orang yang belum mengenal Allah seperti para penjahat di Korintus itu dan banyak orang lainnya yang berlaku barbar. Dan Allah mengutus nelayan buta huruf itu kepada para rabi. Dalam Kisah Para Rasul 3, ketika Petrus dan Yohanes diadili oleh Mahkamah Agama, mereka takjub melihat hikmat, keberanian, dan kewibawaan Petrus dan Yohanes saat mereka menjawab pertanyaan yang diajukan kepada mereka. Sampai-sampai yang bisa mereka katakan hanyalah, “Wajar. Sebab Petrus dan Yohanes ini telah 3 tahun mengikut Yesus.” Hanya itu satu-satunya penjelasan yang mungkin. Demikianlah cara Allah berkarya.

Sepengetahuan saya, John Wesley mengenyam pendidikan Oxford yang sangat baik. Akan tetapi, terlepas dari pendidikannya tersebut, Wesley, yang terutama terinspirasi oleh George Whitfield, justru berkhotbah kepada para pekerja di ladang, para buruh tambang di Wales, orang-orang yang kurang berpendidikan. Whitfield maupun Wesley, sama-sama lulusan Oxford, pergi ke Wales dan berkhotbah kepada para buruh tambang yang berlumuran dengan batubara. Mereka suka melihat garis-garis putih bekas air mata pada wajah para buruh tambang itu. Saat Whitfield dan Wesley mengkhotbahkan Injil Kristus kepada para buruh tambang itu, banyak di antara mereka yang menjadi percaya. Kira-kira 100 tahun kemudian, Allah memunculkan seseorang bernama Dwight L. Moody. Moody sangat sedikit sekali mengenyam pendidikan. Ia seorang penjual sepatu. Tata bahasanya payah. Allah mengutus Moody ke Oxford. Ketika Moody berkhotbah di Oxford, banyak mahasiswa Oxford yang menjadi percaya. Moody berkhotbah di Inggris yang berbudaya, dan ribuan orang yang berbudaya dan profesional di sana menjadi percaya karenanya. Pada mulanya, para pendengarnya suka tersinggung karena pidato Moody yang payah itu. Mereka akan berkata dalam hati, “Berani-beraninya petani dari Amerika ini datang jauh-jauh berkhotbah kepada kita!” Akan tetapi, setelah kira-kira 10 menit, para pendengarnya akan lupa dengan figur Moody sendiri. Seolah-olah mereka mendengar suara lain dan tahu-tahu mereka menjadi percaya.

Menurut saya, rasa humor Allah cukup tinggi. Menurut saya Allah senang melakukan hal yang demikian. Menurut saya Allah senang memakai orang-orang tipe George Whitfield dan John Wesley yang berpendidikan tinggi dan berbudaya untuk memberitakan Injil kepada para buruh tambang. Allah senang memakai orang-orang seperti mereka untuk berkhotbah kepada rakyat biasa yang akan mendengarkan dengan senang hati. Di lain pihak, Allah senang memakai orang-orang tipe Moody yang sangat sedikit mengenyam pendidikan dan mengutusnya ke Oxford atau ke Inggris yang berbudaya. Itulah yang Allah lakukan ketika Ia mengutus Paulus, seorang rabi, kepada orang yang belum mengenal Allah, dan mengutus nelayan buta huruf kepada para rabi.

Dalam Galatia 1 dan 2, Paulus menjelaskan kepada mereka dan kepada kita sekarang ini, bahwa demikianlah cara kerja Allah. Dalam Galatia 1 dan 2, Paulus membahas masalah pemutarbalikkan Injil Kristus. Paulus menyebutnya sebagai “injil lain”. Tidak ada yang namanya injil lain. Yang ada hanya Injil Kristus dan itulah yang Paulus khotbahkan ketika ia berada di Galatia. Injil lain itu hanyalah pemutarbalikkan Injil Kristus, dan, menurut Paulus, siapa pun yang mengkhotbahkan injil lain itu, “terkutuklah dia!” Dua kali Paulus mengatakan demikian. Lalu Paulus mengatakan: “Izinkan aku memberitahukan sesuatu tentang Injil Kristus yang kuberitakan. Aku mendapatkan Injil Kristus itu bukan dari sekolah rabi. Tidak ada orang yang mengajarkan Injil Kristus itu kepadaku. Injil Kristus itu bukan sesuatu yang aku baca dalam buku. Aku menerima Injil Kristus itu langsung dari Allah sendiri, langsung dari Yesus Kristus sendiri, lewat penyataan-Nya ketika aku berada di padang gurun Arab. Itulah sebabnya kukatakan bahwa Injil Kristus yang kuberitakan itulah satu-satunya Injil, satu-satunya Injil yang mutlak.”

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, surat Paulus kepada jemaat di Galatia adalah satu-satunya surat tulisan tangan Paulus sendiri. Surat-suratnya yang lain ditulis oleh juru stenonya, oleh karena penglihatan Paulus tidak baik. Setidaknya sebagian duri dalam daging yang dimaksudkan Paulus adalah penglihatan yang buruk, bahkan mungkin hampir buta. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia, Paulus mengklaim bahwa itu adalah tulisan tangannya sendiri. Paulus demikian marah sehingga ia tidak sabaran untuk menunggu juru stenonya. Dalam pasal terakhir surat Paulus kepada jemaat di Galatia, mungkin Paulus menulis dengan huruf yang besar-besar karena penglihatannya yang buruk.

Segala yang saya uraikan tentang surat Paulus kepada jemaat di Galatia barulah pendahuluan. Pesan Kitab Galatia ini sangat mirip dengan Kitab Roma. Kitab Galatia dapat juga disebut sebagai “Kitab Roma yang dipersingkat”. Paulus sangat emosional ketika ia menulis surat ini. Mengapa? Sebab pesan kasih karunia Allah yang telah dikhotbahkannya di sana, diputar-balikkan, atau dikontaminasikan.

Ingatlah bahwa surat-surat Paulus tidak dimuat secara berurutan dalam Alkitab. Penempatannya dalam Alkitab lebih didasarkan pada isinya. Para ahli teologia pun tidak mengetahui secara pasti di mana Paulus berada ketika ia menulis surat kepada jemaat di Galatia ini. Yang pasti, Paulus menulisnya dalam perjalanan misinya yang ketiga. Sebagian orang mengatakan bahwa ia menulisnya di Filipi, atau Efesus, atau Korintus. Mau tidak mau Anda mendapatkan kesan bahwa para ahli teologia pun tidak mengetahui pasti, di mana Paulus berada ketika ia menulis surat ini.

Penting sekali kita membandingkan surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini dengan Kitab Hakim-Hakim dalam Perjanjian Lama. Kalau Anda masih ingat, konsekuensi kemurtadan atau pemutar-balikkan itu sangat mengerikan. Hal itu tetap berlaku sampai sekarang. Bertahun-tahun yang lalu, perkataan Norman Vincent Peale dikutip dalam majalah Reader’s Digest: “Anda bisa menyalahkan seluruh masalah jemaat kepada sekolah seminari yang merampas Firman Allah yang diilhami Roh Kudus, yang mutlak, dan yang otentik, dari para siswanya.” Hal itu mengakibatkan kemurtadan atau pemutar-balikkan. Kalau Anda tidak percaya kepada Firman Tuhan, apa yang akan Anda beritakan? Selanjutnya, apa akibatnya kalau Anda tidak memberitakan Injil Kristus atau Firman Tuhan? Itulah inti pesan Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Galatia. Dalam suratnya ini, Paulus mengekspos tentang pemutar-balikkan Injil Kristus.

Sebagai penutup, coba Anda merenungkannya. Kita melihat Paulus marah karena Injil Kristus dirancukan. Sekarang bacalah lagi surat Paulus kepada jemaat di Galatia ini, dan lihatlah apakah Anda dapat mendefinisikan, apa itu Injil Kristus, yang mutlak, yang Paulus khotbahkan itu, dan apa itu pemutar-balikkan Injil Kristus. Hal itu akan membantu Anda memahami pesan Paulus dan pesan Yesus Kristus sendiri.

Jangan ragu-ragu menulis kepada kami. Kami menyediakan buklet cuma-cuma untuk membantu Anda mengulang bahan-bahan ini agar Anda pun dapat meneruskannya kepada orang lain.