ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Ho-hum atau Nahum? (II)

Selamat datang di satu lagi kelas Sekolah Alkitab Mini. Kelas ini adalah bagian dari studi pendahuluan tentang keseluruhan Alkitab. Studi kita dimulai dengan Kitab Kejadian dan telah mengantarkan kita, kitab demi kitab, ke para nabi Perjanjian Lama. Kalau Anda baru mendengarkan program ini, saya ucapkan selamat datang. Dalam sesi terakhir, kita telah memulai studi tentang Nubuat Nahum dalam tiga pasal yang singkat, yang menubuatkan tentang jatuhnya kota Niniwe. Garis besar Kitab Nahum adalah begini: pasal satu, Kehancuran Niniwe Dinyatakan; Pasal dua, Kehancuran Niniwe Digambarkan; Pasal tiga, Alasan Kehancuran Niniwe Dijelaskan.


Ketika Anda sampai ke pasal pertama Kitab Nahum dan mendengar pernyataan bahwa Niniwe akan jatuh, hal pertama yang harus menjadi fokus Anda, adalah kota Niniwe itu sendiri. Dalam buku catatan Anda tentang Kitab Daniel, saya telah memberikan gambaran tentang kota Babel untuk memberi Anda gambaran tentang kota di mana Daniel menjalani kehidupannya dan melayani. Sekarang dengarkanlah penggambaran seorang ahli teologia tentang kota Niniwe, sebab hal itu akan membantu kita memahami pesan Nahum, yang merupakan penghiburan besar bagi umat Allah:

“Pada waktu nubuat Nahum, Niniwe merupakan Ratunya kota seluruh dunia, perkasa dan brutal melampaui imajinasi, kepala sebuah negara serdadu, yang dibangun di atas jarahan dari bangsa-bangsa yang mereka taklukkan. Kekayaan tidak terbatas dari ujung-ujung bumi dicurahkan ke dalam peti-peti bendaharanya. Nahum mengumpamakan Niniwe sebagai markasnya singa-singa kelaparan yang melahap darah bangsa-bangsa. Kota Niniwe yang besar ini, panjangnya kira-kira 30 mil dengan lebar kira-kira 10 mil. Niniwe dilindungi oleh lima tembok dan tiga parit yang dibangun dengan kerja paksa terhadap tawanan asing yang tidak terhitung banyaknya. Bahwasanya Yunus menyinggung 120.000 bayi mengindikasikan bahwa kemungkinan populasi Niniwe mendekati 1 juta jiwa, bahkan sebagian orang mengatakan 2 juta. Tembok melindungi bagian dalam kota Niniwe, yang panjangnya kira-kira 5 km dan lebarnya lebih dari 2 km, yang dibangun di persimpangan antara Sungai Tigris dan Sungai Kosher, dengan tinggi tembok 36 ½ meter dan lebar di bagian atasnya yang cukup untuk menampung empat kereta kuda, dengan lingkaran hampir 13 km. Pada puncak kekuasaan Niniwe, pada malam sebelum Niniwe tiba-tiba digulingkan, Nahum muncul dengan nubuat ini, yang oleh sebagian orang disebut sebagai ‘Nyanyian Kematian Nahum’ atau ‘Seruan Kemanusiaan akan Keadilan.’” Hal itu memberi kita perspektif sejarah tentang kota Niniwe.

Seperti yang telah saya kemukakan, jatuhnya kota Niniwe merupakan kabar baik bagi umat Allah di Kerajaan Yehuda di Selatan. Nahum menujukan pesannya kepada Kerajaan di Selatan ini, mengatakan bahwa mereka tidak perlu lagi khawatir  tentang penyerbuan yang terus mereka takutkan dari bangsa Asyur. Coba Anda amati bagaimana Nahum mengatakan, “Oh Yehuda! Engkau tidak perlu lagi mengkhawatirkan hal ini.” Pesan kepada Yehuda adalah bahwa karena nubuat Nahum lah, mereka telah dibebaskan dari ancaman Asyur. Pesan Nahum juga ditujukan kepada raja Asyur. Seperti seluruh nabi, Nahum juga berbicara apa adanya. Nahum berkhotbah, “Allah telah menyatakan berakhirnya keseluruhan sistemmu yang menyedihkan itu karena dosamu sangat menjijikkan!”

Ketika Nahum menjelaskan alasan jatuhnya kota Niniwe dalam pasal tiga Kitab Nahum, ia menyebutkan banyak alasan mengapa murka Allah dicurahkan ke atas kota Niniwe. Seperti bangsa-bangsa di Tanah Perjanjian, terhadap mana perang pemusnahan diperjuangkan, kekejaman dan dosa orang Niniwe sungguh tidak terlukiskan. Para arkeolog menegaskan kejahatan mereka. Ketika Allah memerintahkan perang pemusnahan terhadap bangsa-bangsa yang tinggal di tanah Kanaan, yang kita baca kisahnya dalam Kitab Ulangan, hal itu dikarenakan dosa mereka yang tidak terlukiskan. Seolah-olah dosa mereka seumpama cawan yang telah meluap dan Allah tidak sanggup lagi mentolerirnya, sehingga Allah memerintahkan perang pemusnahan terhadap mereka. Nah, demikian pula halnya dengan Asyur. Berikut adalah satu lagi kutipan dari seorang ahli teologia tentang kebrutalan, kefasikan, dan kekejaman bangsa Asyur:

“Kebijakan Asyur adalah memindahkan bangsa yang mereka taklukkan ke negeri lain, untuk menghancurkan rasa kebangsaan mereka, dan membuat mereka lebih takluk. Bangsa Asyur adalah serdadu hebat. Ketika itu, sebagian besar bangsa merupakan bangsa perampok, namun bangsa Asyur tampaknya merupakan bangsa yang paling parah. Mereka membangun negara mereka di atas jarahan dari bangsa-bangsa dan mereka mempraktikkan kekejaman. Mereka menguliti para tawanan mereka hidup-hidup atau memutuskan tangan mereka, kaki mereka, hidung mereka, telinga mereka, atau mencungkil mata mereka atau mencabut lidah mereka dan mereka membuat tumpukan tengkorak manusia. Segalanya itu mereka lakukan untuk menteror.” Kekejaman bangsa Asyur sungguh tidak dapat terbayangkan.

Dalam Nahum 1:2-8, Anda mulai menangkap sebuah tema selain kejatuhan Niniwe. Sesungguhnya nubuat Nahum adalah studi tentang karakter Allah. Bagaimanakah karakter Allah? Apakah Allah emosional? Kalau Allah memang emosional, apakah Allah mempunyai lebih dari satu perasaan? Dalam kebudayaan kita sekarang, kita cenderung berfokus pada ciri tertentu dari Allah, misalnya, kasih-Nya. Kita menyukai fakta bahwa Allah adalah kasih. Kita senang mendengar hal itu sebab kalau Allah adalah kasih, kita mempunyai kepastian bahwa Ia akan baik kepada kita. Jadi kita sungguh menyukai hal itu. Ketika kita mendengar tentang murka Allah, kita seringkali tidak nyaman. Ketika kita mendengar tentang keadilan Allah, kekudusan Allah, kebenaran Allah, dan bagaimana Allah pada akhirnya tidak akan mentolerir ketidakadilan, ketidakbenaran, dan dosa, kita tidak menyukai Allah yang seperti itu, padahal Alkitab menggambarkan Allah yang mempunyai ciri emosional yang seperti pelangi. Karakter Allah mempunyai banyak warna yang berbeda-beda, bukan hanya satu warna. Menurut Alkitab, Allah itu emosional. Allah mempunyai spektrum emosional yang lengkap, bukan hanya kasih, melainkan juga perasaan-perasaan lain, seperti murka. Nahum menggambarkan Allah sebagai Bapa yang pengasih. Nahum berkhotbah bahwa Allah itu baik. Nahum menyuruh kita datang kepada Allah ketika masalah datang sebab Allah layak dikenal ketika masalah datang. Nahum berkhotbah bahwa Allah adalah Bapa pengasih yang mengenal mereka yang mengenal Dia, namun bukan itu saja karakter Allah. Nahum mengajarkan, bahwa sebagai Hakim yang adil dan kudus, Allah cemburu terhadap mereka yang dikasihi-Nya, menuntut balas terhadap orang yang melukai mereka yang dikasihi-Nya, dengan geram menghancurkan musuh dari mereka yang dikasihi-Nya. Amarah murka Allah adalah ibarat api dan ketika murka Allah bangkit, kuasa-Nya sungguh luar biasa. Begitu murka Allah mencapai titik demikian, Ia tidak berbalik. Nahum mengumpamakan kuasa Allah seperti badai mengamuk, seperti angin ribut dan gempa bumi. Dalam pasal 1 Anda menangkap gambaran yang demikian. Karakter Allah adalah pesan yang perlu kita cari dalam nubuat Nahum. Bagaimanakah karakter Allah?

Dalam pasal 2, malapetaka dan jatuhnya Niniwe digambarkan. Seperti telah saya katakan, Nahum sangat jelas menggambarkannya. Sang ratu ditelanjangi dan diarak dengan rantai ke pembuangan; para prajuritnya membelot; orang-orangnya ketakutan; lutut gemetar; jantung lemas karena ngeri; orang-orang ketakutan, pucat pasi, dan gemetar. Lalu dalam pasal 3 nubuatnya, Nahum memberikan alasan atau dasar pemikiran jatuhnya Niniwe.

Dalam pasal 1, kehancuran Niniwe dinyatakan; dalam pasal 2, kehancuran Niniwe digambarkan; namun dalam pasal 3, alasan kehancuran Niniwe dijelaskan. Nahum menjelaskan mengapa Allah menghancurkan Niniwe. Nahum menjelaskan alasan seperti: “Celakalah kota penumpah darah itu! Seluruhnya dusta belaka, penuh dengan perampasan, dan tidak henti-hentinya penerkaman! Semuanya karena banyaknya persundalan si perempuan sundal, yang cantik parasnya dan ahli dalam sihir, yang memperdayakan bangsa-bangsa dengan persundalannya dan kaum-kaum dengan sihirnya. Niniwe lalim dan (seperti yang telah kita kemukakan) dosa rajanya menjijikkan. Dan negeri umat Allah hancur setelah engkau serang.” Yang Nahum maksudkan adalah Yehuda yang, seperti telah kita katakan, kehilangan 200.000 orang karena dibuang ke Asyur ketika pasukan Asyur menyerbu Yehuda. 46 kota dihancurkan. “Engkau meremukkan musuh-musuhmu demi memberi makan anak-anakmu dan istri-istrimu.” Mungkin inilah alasan penting jatuhnya Niniwe: “Semua yang mendengar nasibmu akan bertepuk tangan sukacita. Sebab adakah seseorang yang belum menderita kekejamanmu?” Anda mungkin mengatakan hal yang sama tentang Eropa dan Nazi Jerman ketika Hitler memegang kekuasaan. Di manakah ada orang yang tidak menderita di bawah kekuasaan sang Kaisar Ketiga? Seandainya Anda bepergian ke timur menuju Rusia, apakah Anda akan menemukan seseorang yang belum pernah menderita karena sistem tersebut? Demikianlah keadaannya di zaman Kerajaan Asyur. Ke mana pun Anda pergi, Anda akan menemukan orang-orang yang pernah menderita akibat kekejaman bangsa Asyur.

Saat kita mempelajari sejarah tentang kehancuran Niniwe dinyatakan, digambarkan, dan dijelaskan alasannya, pertanyaan yang perlu kita ajukan adalah: Apakah ada penerapan devosional pribadinya bagi kita? Menurut saya, ada. Pesan bagi kita ada hubungannya dengan kebenaran tentang karakter Allah. Nubuat Nahum sesungguhnya adalah studi tentang murka Allah. Kata Ibrani untuk murka Allah adalah kata yang sangat menarik. Yaitu kata yang berarti “menyeberang” seperti halnya menyeberangi sungai. Maksudnya adalah, bahwa Allah itu baik dan Allah adalah kasih. Demikianlah Allah menghendakinya dan demikianlah Allah ingin mengekspresikan diri-Nya. Akan tetapi, sebagai Allah yang kudus dan adil, Allah hanya bisa mentolerir dosa, ketidak-benaran, ketidak-adilan, dan kekejaman bangsa Asyur untuk beberapa waktu lamanya, hingga titik di mana Allah akan “menyeberang” dari karakter-Nya sebagai Bapa yang pengasih menjadi Hakim yang adil dan kudus. Ketika Allah “menyeberang” seperti itu, Ia akan mengekspresikannya dengan melampiaskan murka-Nya. Begitu Allah melakukan penyeberangan dalam karakter-Nya, Allah tidak akan berhenti sampai Ia benar-benar memusnahkan apa yang menjadi objek amarah murka-Nya. Coba Anda memandangnya begini: Allah mengasihi manusia. Allah mengasihi mereka yang mengenal Dia, yaitu anak-anakNya dan umat pilihan-Nya. Walaupun Allah adalah Bapa pengasih, ketika seseorang mulai menghancurkan objek kasih-Nya itu, Allah bisa “menyeberangi” karakter-Nya dan begitu Allah “menyeberang,” Ia tidak akan berhenti mengekspresikan murka-Nya sampai Ia memusnahkan apapun yang menghancurkan objek kasih-Nya. Dalam pengertian tertentu, itulah definisi murka Allah. Bayangkan definisi tentang murka Allah dalam arti menyeberangnya karakter Allah: “Murka Allah adalah sikap kudus yang konsisten, yang permanen, terhadap ketidak-kudusan.” “Murka Allah adalah sikap yang konsisten, yang permanen, dari pribadi Allah yang pengasih, terhadap apa yang menghancurkan objek kasih-Nya.” “Murka Allah adalah reaksi memusnahkan dari kekudusan yang mutlak atas ketidak-kudusan, dan murka Allah adalah reaksi memusnahkan dari pribadi Allah yang pengasih, atas apa yang menghancurkan objek kasih-Nya.”

Saya  tidak akan pernah melupakan suatu pengalaman yang mendemonstrasikan hal itu kepada saya. Suatu ketika di kantor polisi, ada seorang ayah yang sangat pengasih, dan saat itu ia benar-benar merasa terguncang, sebab walaupun ia seorang ayah yang pengasih, yang lembut, tetapi ada seorang pria yang sangat sakit telah memperkosa dan membunuh putrinya yang baru berusia 7 tahun. Ketika pria yang telah berbuat demikian terhadap objek kasih si ayah ini dibawa ke kantor polisi, seluruh polisi yang ada harus beramai-ramai melerai ayah yang berusaha menghajar pria yang telah menghancurkan objek kasihnya itu.

Hitler melakukan kekeliruan pada tahun 1940-an. Ia memandang Amerika dan mengatakan, “Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah. Berbahagialah orang yang lemah lembut.” Saya percaya bangsa Jepang pun melakukan kesalahan yang sama. Bangsa Amerika hanyalah bangsa yang bersifat baik, yang menyenangkan, yang ingin hidup damai. Hal itu memang benar sampai Amerika diserang dan objek kasihnya terancam. Ketika hal itu terjadi, Amerika bangkit dan para pejuangnya menjadi sama jahatnya seperti serdadu mana pun sampai keseluruhan sistem yang berusaha menghancurkan objek kasihnya itu dimusnahkan. Seandainya Amerika tidak melakukannya, seandainya mereka tidak membentuk pasukan Sekutu yang menyerbu dan menghancurkan sang Kaisar Ketiga, maka tidak akan ada lagi orang Yahudi yang masih hidup sekarang ini. Bangsa Yahudi adalah umat pilihan Allah. Bangsa Yahudi adalah objek kasih Allah. Allah mengasihi bangsa Yahudi. Ketika itu mereka dibasmi, dibunuh, secara sistematis. Menurut saya bencana Pembantaian yang dilakukan oleh Nazi itu sama saja seperti penaklukkan yang dilakukan oleh bangsa Asyur dan bangsa Babel. Sama saja. Ketika itu terjadi pembantaian massal terhadap umat pilihan Allah, dan umat ini adalah objek kasih Allah. Saya percaya bahwa Allah, selama tahun 1940-an tersebut “menyeberang” dan mengekspresikan murka-Nya sampai Kaisar Ketiga Nazi dihancurkan.

Demikianlah pemikiran atau konsep yang Nahum coba sampaikan kepada kita, yaitu karakter Allah. Memang, Allah adalah Allah yang pengasih, sampai cawannya penuh, sampai ketidak-benaran, ketidak-adilan, dan dosa, telah menjadi sedemikian hebatnya maka Allah menyeberang dalam karakter-Nya dan mengekspresikan amarah murka-Nya. Kitab Nahum menunjukkan betapa murka Allah benar-benar memusnahkan. Nubuat Nahum menunjukkan betapa menakjubkan ketika Allah menyeberang dalam karakter-Nya dan mengekspresikan murka-Nya terhadap apa yang menghancurkan objek kasih-Nya. Dalam nubuat Nahum, hal itulah yang perlu menjadi fokus kita. Kitab Nahum adalah studi tentang karakter Allah yang sesungguhnya, yang menunjukkan ciri gabungan antara kasih dengan murka yang membentuk karakter Allah.

Pada waktu nubuat Nahum dinyatakan, Niniwe merupakan salah satu kota terbesar dan yang paling berkuasa di muka bumi. Bangsa Asyur melakukan kesalahan buruk ketika mereka menindas Israel, sebab Allah mengawasi umat-Nya. Tiga pasal kitab Nahum membahas murka Allah atas Asyur karena kekejaman mereka dan kesombongan mereka dalam meremukkan Israel. Kota Niniwe harus dihancurkan, yang mana hal itu benar-benar terjadi persis seperti yang Nahum ramalkan.

Pendengar terkasih, Firman Allah itu benar. Anda dapat mengalami kasih Allah atau pun amarah murka-Nya. Firman-Nya mengajarkan bahwa “Allah adalah kasih.” Dan Allah berhasrat agar semua orang datang kepada-Nya dan mengalami kasih-Nya, tetapi mereka yang menolak karunia-Nya sudah dihakimi. “Barangsiapa percaya kepada Yesus Kristus tidak akan dihukum; barangsiapa tidak percaya, ia telah berada di bawah hukuman, sebab ia tidak percaya dalam nama Anak Tunggal Allah.” (Yohanes 3:18).