| |
Dalam studi terakhir, saya telah membagikan pemikiran saya tentang beberapa mutiara hikmat yang indah dari Kitab Amsal. Selamat datang di satu lagi program Sekolah Alkitab Mini. Program ini adalah studi tentang Alkitab, dan studi ini telah mengantarkan kita ke Kitab Penuh Hikmat, Kitab Amsal. Kita takkan membahas semuanya, namun saya percaya bahwa studi ini akan membangkitkan minat Anda untuk mencari tahu lebih banyak lagi tentang mutiara hikmat ini.
|
Satu lagi amsal yang luar biasa adalah Amsal 11:24-25: “Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.”
Ajaran Yesus sendiri menegaskan amsal ini. Yesus mengajarkan bahwa orang akan menjadi pecundang terbesar ketika ia berusaha mempertahankan hidupnya, dalam arti berusaha menyelamatkan nyawanya. Menurut Yesus, kalau Anda benar-benar ingin menemukan kehidupan Anda, maka lepaskanlah, curahkan kehidupan Anda, korbankan hidup Anda demi Allah dan demi sesama. Tampaknya demikianlah yang dikatakan oleh Salomo dalam amsal ini, yang seharusnya diterapkan dalam gereja maupun dalam kehidupan pribadi serta hubungan-hubungan kita.
|
Saya pernah mendengar pesan luar biasa dari Dr. John R.W. Stott, seorang pendeta Anglikan dari Inggris, yang menjadi pendeta bagi Ratu Inggris. Pesannya berjudul “Gereja Luar Dalam.” Dr. Stott berkata bahwa sebagian besar gereja ibarat sekelompok orang yang duduk membentuk lingkaran dengan kursi mereka menghadap ke dalam. Yang mereka renungkan hanyalah apa yang akan mereka lakukan bagi satu sama lain. Menurut Dr. Stott, yang perlu mereka lakukan adalah membalikkan kursi mereka, saling membelakangi, menghadap ke luar, dan menyadari bahwa gereja seharusnya hadir demi kepentingan orang-orang yang bukan anggotanya. Menurut saya itu adalah pernyataan yang mendalam.
Berbicara sebagai seorang yang telah 43 tahun menjadi pendeta, saya percaya dengan seluruh keberadaan saya, bahwa gereja adalah sebuah lembaga yang hadir demi kepentingan orang-orang yang bukan anggotanya, yang berarti orang-orang di luar sana yang belum percaya. Dengan kata lain, gereja seharusnya hadir demi kepentingan orang-orang yang masih tersesat di dunia ini, dan bukan bertumbuh ke dalam. Gereja yang mempunyai visi seperti demikian, visi untuk menjangkau orang lain seperti demikian, adalah gereja yang sangat diberkati oleh Allah. Mereka adalah gereja yang bertumbuh sebab sementara mereka memberi minum secara rohani kepada orang lain, mereka sendiri diberi minum. Salomo berkata, “Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum.” Betapa kebenaran ini perlu diterapkan dalam gereja.
Saya ingin melanjutkan studi dan memberikan komentar tentang amsal-amsal yang umum dari kitab Amsal ini. Saya berdoa semoga Anda terinspirasi untuk secara tekun membaca serta diperlengkapi untuk memahami mutiara-mutiara kebenaran yang lain.
Coba Anda dengarkan mutiara hikmat berikut: “Saksi yang setia menyelamatkan hidup, tetapi siapa menyembur-nyemburkan kebohongan adalah pengkhianat” atau dengan kata lain “Orang fasik menuduh, orang kudus membela”. Pernahkah Anda memperhatikannya? Orang yang dalam Tuhan bukanlah orang yang senang bergosip. Orang yang dalam Tuhan tidak menjadi orang yang super kritis. Orang yang super kritis adalah orang yang telah menjadi masam secara rohani. Orang yang dalam Tuhan selalu membela sementara orang fasik menuduh. Istri saya adalah seorang yang hidup dalam Tuhan. Kalau Anda mengatakan sesuatu tentang Adolf Hitler, ia akan berkata, “Akan tetapi kita tidak akan mempunyai mobil Volkswagen kalu bukan karena Hitler.” Istri saya bahkan mengatakan hal yang baik tentang Hitler. Pokoknya istri saya tidak mau mendengar seseorang menjatuhkan siapa pun. Itulah sifat yang rohani. Pada suatu kali saya berjumpa dengan seorang pria tua yang memasang plakat di dinding kantornya yang berbunyi: “Tidak ada serangan, tidak ada pembelaan diri!” yang maksudnya adalah, “Saya takkan pernah menyerang siapa pun, maka saya takkan pernah mempertahankan diri.” Biasanya orang-orang yang hidup dalam Tuhan merasa demikian.
Dengarkan amsal berikut: “Kekuatiran dalam hati membungkukkan orang, tetapi perkataan yang baik menggembirakan dia.” Saya pernah memberikan konseling kepada orang-orang yang sudah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun mengalami depresi. Ketika mereka keluar dari depresi yang mereka alami, saya bertanya, hal apa yang sangat berarti bagi mereka saat mereka sedang depresi. Mereka selalu menjawab, “Kata-kata yang membesarkan hati. Seseorang yang memeluk saya dan berkata, ‘Anda akan melewati masalah ini. Semuanya akan baik-baik saja.’” Seperti yang dikatakan dalam amsal ini: “Perkataan yang baik menggembirakan orang.”
Bertahun-tahun yang lalu, saya mendengar seseorang mengatakan bahwa ada berbagai macam orang di dunia ini. Pertama, ada orang yang “membiarkan segalanya terjadi” lalu ada orang yang “menjadikan segalanya terjadi” dan ada juga orang yang “bertanya-tanya tentang apa yang terjadi.” Saya memutuskan bahwa saya adalah tipe orang yang “membiarkan segalanya terjadi”. Pada suatu kesempatan, saya berdiri di hadapan sebuah kelompok pria dalam suatu acara sarapan bersama dan saya berkata, “Saya adalah orang yang membiarkan segalanya terjadi. Saya tidak mempunyai rencana. Saya tidak pernah mengetahui apa yang akan Tuhan lakukan. Saya tidak tahu kemana angin akan bertiup.” Dalam saat teduh saya keesokan paginya, saya membaca amsal berikut: “Orang fasik bermuka tebal, tetapi orang jujur mengatur jalannya”. Nurani saya langsung tersengat ketika membaca amsal tersebut. Menurut amsal tersebut, bukanlah hal yang rohani bila tidak memiliki rencana. Anda diharapkan untuk mempunyai rencana. Mintalah agar Allah menuntun Anda, dan menyadari bahwa manusia yang mengusulkan, Allah yang menentukan.
“Komunikasi yang dapat dipercaya memungkinkan kemajuan.” Sungguh pernyataan yang bijaksana. Kalau Anda mempunyai komunikasi, Anda mempunyai alat dengan mana Anda bisa membangun pernikahan Anda atau hubungan apa pun. Kalau Anda tidak mempunyai komunikasi, Anda tidak mempunyai alat yang Anda butuhkan untuk memecahkan masalah-masalah Anda. Kesalahpahaman dalam hubungan, seperti dalam pernikahan, adalah seperti bakteri. Kesalahpahaman itu berkembang biak dalam gelap, namun tidak akan bertahan hidup dalam terang. Komunikasi mendatangkan terang terhadap bakteri seperti itu. Ketika Anda mendatangkan terang terhadap bakteri itu, sebagian besarnya akan mati, dan yang belum mati bisa diatasi. Kalau Anda berkomunikasi dalam suatu hubungan, Anda menggunakan alat yang menguatkan hubungan tersebut. Akan tetapi tanpa komunikasi, bakteri tersebut akan terus berkembang biak hingga Anda tidak bisa lagi melakukan apa pun tentangnya.
Banyak ahli teologia meyakini bahwa Kitab Amsal didasarkan kepada kehidupan seorang pemuda. Pertama, nasihat diberikan kepadanya ketika ia masih tinggal bersama orangtuanya. Lalu ketika ia beranjak dewasa, amsalnya berhubungan dengan kelompok sebaya atau kelompok bergaul, sampai pada akhirnya ditujukan pada pernikahannya, perannya sebagai suami sekaligus ayah. Banyak orang merasa bahwa seperti itulah pola Kitab Amsal. Ada banyak amsal tentang topik mendisiplinkan anak. Banyak amsal mengatakan bahwa kalau Anda tidak mendisiplinkan anak Anda, hal itu membuktikan bahwa Anda tidak mengasihinya, dan kalau Anda sungguh mengasihi anak Anda, Anda akan segera menegornya, atau mendisiplinkannya. Ada cukup banyak amsal tentang topik tersebut. Kalau Anda membuat kolom seperti yang saya sarankan, mencatat amsal-amsalnya dalam kolom berjudul seperti yang saya sarankan, Anda akan mencatat banyak sekali amsal dalam kolom yang berjudul “Pendisiplinan anak-anak.”
“Orang yang baik makan untuk hidup, sedangkan orang yang jahat hidup untuk makan.” Amsal ini menjadikan sebagian besar orang merasa tidak nyaman. Amsal ini menyengat nurani sebagian besar orang. Amsal ini memicu pertanyaan yang menarik: Mengapa orang makan? Suatu pertanyaan yang baik. Sebagian besar orang makan untuk ketahanan, namun banyak juga yang tidak berhenti sampai di sana. Kita makan karena hidangannya terasa lezat; kita makan karena kita lapar; kita makan karena kita cemas; kita makan karena kita marah; kita makan karena kita depresi; kita makan karena kita kesepian. Itulah daftar panjang alasan mengapa kita makan. Kita akan memecahkan banyak masalah kesehatan kita dengan memahami dan menerapkan amsal ini, “Orang yang baik makan untuk hidup.” Seorang yang baik makan untuk ketahanan, dan ia berhenti di sana. “Orang yang jahat hidup untuk makan.” Yang ia pikirkan setelah selesai sarapan adalah apa yang akan dimakannya untuk makan siang. Setelah selesai makan siang, ia memikirkan akan makan apa untuk makan malam. Ada berbagai terjemahan untuk amsal ini. Salah satunya mengatakan, “Orang benar makan sekenyang-kenyangnya, tetapi perut orang fasik menderita kekurangan.” Mungkin Anda lebih menyukai terjemahan ini!
Berikut amsal yang baik: “Kalau tidak ada lembu, juga tidak ada gandum, tetapi dengan kekuatan sapi banyaklah hasil.” Sungguh amsal yang bijaksana. Kalau Anda tidak mempunyai lembu, memang Anda tidak perlu membersihkan, namun Anda juga tidak mendapatkan hasil karena tidak mempunyai lembu. Untuk mendapatkan hasil, terkadang Anda harus bersedia membersihkan kandang lembu Anda serta menginvestasikan harta dan waktu Anda. Tampaknya demikianlah yang dimaksud.
“Orang yang murtad hatinya menjadi kenyang dengan jalannya, dan orang yang baik dengan apa yang ada padanya” Orang yang murtad, di dalam bahasa Ibrani, adalah orang yang menanamkan kakinya dan tidak mau maju seperti keledai. Dengan kata lain, orang yang berhenti bertumbuh akan bosan dengan dirinya sendiri, sedangkan kehidupan orang benar sangat menggairahkan karena orang benar selalu bertumbuh. Confucius mengatakan bahwa ada tiga cara untuk menguji kepandaian seseorang. Pertama, bisakah ia meladeni suatu ide baru? Kedua, bisakah ia meladeni orang yang belum dikenalnya? Ketiga, bisakah ia menghibur dirinya sendiri? Orang benar bisa menghibur dirinya sendiri. Ia tidak menjadi bosan dengan dirinya sendiri. Orang yang murtad, yaitu orang yang tidak bertumbuh itulah yang menjadi bosan dengan dirinya sendiri.
“Siapa menjaga mulutnya, memelihara nyawanya”. Sikap yang baik memperpanjang umur. Perusahaan asuransi pun akan mengajarkan demikian. Itulah sebabnya Anda perlu “memeriksakan diri dari leher ke atas,” demikian saya mendengar seseorang mengatakannya. Kalau sikap kita demikian penting, maka Anda perlu memastikan bahwa sikap Anda benar. Anda benar-benar dapat memperpanjang umur Anda dengan mempunyai sikap yang baik.
“Rasa lapar itu baik kalau mendorongmu bekerja untuk memuaskannya.” Rasa lapar atau kemiskinan bisa menghasilkan seorang Abraham Lincoln, seorang Gandhi, atau bisa menghasilkan seorang Mafia. Rasa lapar bisa menghasilkan orang yang pemarah, penuh dengan kepahitan, dan dengan keras menyerang masyarakat yang mereka salahkan atas masalah mereka. Akan tetapi rasa lapar tidak selalu menghasilkan orang pemarah yang penuh dengan kepahitan. Rasa lapar bisa menghasilkan dorongan yang sebanding dengan kebutuhan yang telah Anda kenal dalam kehidupan Anda. Saya pernah mendengar seseorang mengatakan bahwa ia mengenal orang-orang yang membangun kota di mana saya tinggal. Ia mengatakan, “Mereka semua itu seperti saya; mereka pernah kelaparan. Ketika kami baru mulai berkarier, kami merasakan yang namanya lapar, dan dari sanalah kami mendapatkan dorongan. Kami bekerja 18 jam sehari dan membangun kota ini.
Sekarang setelah kami sukses, kami menyekolahkan putra-putra kami di sekolah terkemuka dan mereka pulang dan menginginkan kami bermain terus dengan mereka. Mereka tidak mengerti mengapa kami selalu bekerja.” Rasa lapar bisa membangun kalau hal itu memotivasi Anda dalam kehidupan. Itulah cara yang benar untuk menanggapi rasa lapar Anda. Orang yang menanggapi rasa laparnya dengan cara demikian terluput dari ketakutan menderita lapar lagi. Sekarang ini, banyak anak muda menyedihkan yang tidak mempunyai motivasi dikarenakan mereka belum pernah merasakan kelaparan. Orangtua mereka telah menjamin hidup mereka sehingga mereka tidak dapat membayangkan seperti apa rasanya lapar itu serta mengalami kekurangan. Orangtua mereka dibesarkan dengan kesulitan dan kesusahan dan oleh karenanya, mereka mengetahui apa artinya lapar. Orangtua mereka mempunyai segala macam motivasi dan tidak mengerti mengapa anak-anak mereka bersikap apatis. Demikian pula anak-anak mereka tidak mengerti mengapa orangtua mereka bersikap demikian.
Mutiara hikmat lainnya mengatakan, “Orang yang berpengetahuan menahan perkataannya, orang yang berpengertian berkepala dingin. Juga orang bodoh akan disangka bijak kalau ia berdiam diri dan disangka berpengertian kalau ia mengatupkan bibirnya.” Dengan kata lain: “Lebih baik menutup mulut dan disangka bodoh, daripada membuka mulut dan menegaskan kebodohan Anda.”
Kalau Anda tidak banyak berbicara, orang mungkin menganggap Anda cerdas, namun ketika Anda membuka mulut Anda, Anda menegaskan kebodohan Anda.
Berikut mutiara hikmat lainnya: “Hati orang berpengertian mencari pengetahuan”. Orang mengatakan bahwa orang yang fanatik ialah orator yang tuli sebab ia tidak pernah mendengar apa yang orang lain coba beritahukan kepadanya. Orang yang fanatik mengatakan, “Jangan membingungkan saya dengan fakta-fakta, pikiran saya sudah bulat.” Saya pernah mendengar seorang wanita berkata kepada saya, “Jangan membingungkan saya dengan Alkitab, pak pendeta, pikiran saya sudah bulat.” Orang yang berpengertian akan selalu terbuka terhadap kebenaran baru, terutama kebenaran Firman Tuhan.
Amsal 20:24 mengatakan: “Langkah orang ditentukan oleh Tuhan, tetapi bagaimanakah manusia dapat mengerti jalan hidupnya?” Suatu amsal yang mendalam. Menurut Yesaya, “Sebab rancangan-Ku bukanlah rancanganmu, dan jalanmu bukanlah jalan-Ku, demikianlah firman Tuhan. Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu.” Coba Anda renungkan hal ini sejenak: Kalau kita ingin mengetahui jalan Allah, kalau kita ingin mengetahui kehendak Allah, kalau kita berusaha mengikuti kehendak-Nya dan jalan-Nya, mengapa kita berharap untuk selalu memahami jalan hidup kita? Sudah dari semula Allah memperingatkan kita, bahwa cara-Nya berpikir tidaklah sama seperti cara kita berpikir dan cara-Nya bertindak tidaklah sama seperti cara kita bertindak. Oleh karenanya, orang yang hidup menurut jalan Allah seharusnya siap mengalami hari-hari ketika ia harus hidup oleh iman karena ia tidak memahami jalan hidupnya.
“Si pemalas berkata: "Ada singa di luar, aku akan dibunuh di tengah jalan.” Atau dengan kata lain, “orang malas itu banyak alasannya. Ia berkata ‘Aku tidak mungkin berangkat bekerja. Kalau aku keluar rumah jangan-jangan aku berjumpa dengan seekor singa di jalanan dan tewas diterkamnya.’” Amsal ini berfokus pada rasionalisme paranoid atau alasan yang dibuat-buat orang atas ketidaksuksesannya dan karena tidak melakukan apa-apa dengan kehidupannya. “Ada seekor singa di jalanan, jangan-jangan aku diterkamnya kalau aku keluar.” Tidak ada singa di jalanan. “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu. Tidak tahukah kamu, tujuh kali orang benar jatuh, namun ia bangun kembali?” Saya pernah mendengar seorang profesor tua berkata, “Ujian terhadap karakter Anda adalah apa yang diperlukan untuk bisa menghentikan Anda?” Tidak dibutuhkan banyak untuk menghentikan sebagian orang. Amsal ini menyarankan bahwa kalau Anda memang orang benar, Anda mungkin mengalami bencana demi bencana, Anda mungkin jatuh 7 kali, namun setiap kalinya Anda tetap bangkit kembali. Ujian hakiki terhadap karakter kita adalah apa yang dibutuhkan untuk menghentikan kita.
“Sebuah cermin memantulkan wajah seseorang, namun seperti apa dia sesungguhnya ditunjukkan oleh teman-teman yang dipilihnya.” “Siapa menerima bagian dari pencuri, membenci dirinya. Didengarnya kutuk, tetapi tidak diberitahukannya”. Ini adalah dua amsal yang mengajarkan bahwa ada yang namanya citra diri. Bagaimana Anda memandang diri sendiri itu sangat penting. Salah satu cara Anda dapat mengetahui bagaimana Anda memandang diri sendiri adalah dengan melihat pergaulan Anda. Misalnya, ketika memilih pasangan untuk menikah, atau ketika membuat komitmen dengan pasangan Anda, kemungkinan Anda membuat komitmen dengan seseorang yang Anda kira sangat mirip dengan Anda. Kalau Anda memberi diri sendiri nilai 1.000 poin, mungkin Anda akan memilih seseorang dengan nilai 1.000 poin juga. Itulah sebabnya pernikahan remaja seringkali gagal. Seorang remaja mungkin berpikir bahwa ia mempunyai nilai 75 poin dan menikah dengan seseorang yang juga mempunyai nilai 75 poin. 10 tahun kemudian mereka menemukan ternyata mereka mempunyai nilai 1.000 poin dan terjebak menikah dengan pasangan yang hanya mempunyai nilai 75 poin. Maka seringkali mereka bercerai. Citra diri sangat penting dan menjadi faktor yang berpengaruh terhadap pernikahan dan perceraian seperti itu. Itulah kebenaran yang ingin disampaikan oleh sang penulis Kitab Amsal ketika ia mengajarkan bahwa orang dengan siapa Anda bergaul mencerminkan citra diri Anda.
“Sang majikan akan mendapatkan hasil kerja yang lebih baik dari seorang pemula yang belum terlatih daripada dari seorang terampil yang pemberontak.” Terkadang mungkin lebih baik mempunyai seorang pekerja yang tidak mempunyai berbagai gelar namun setia, daripada mempunyai seorang pekerja terampil yang berusaha merebut bisnis Anda.
Anda dapat melihat dari amsal-amsal umum yang definitif ini bahwa Anda bisa menemukan kata-kata hikmat emas dalam Kitab Amsal. Amsal artinya pepatah bijaksana, atau mutiara hikmat. Ingatlah bahwa tujuan Salomo memberi kita amsal-amsal ini adalah agar orang yang bijaksana bisa menjadi pemimpin yang bijaksana, dan agar yang berpikiran sederhana bisa menjadi bijaksana dan agar orang mengetahui caranya untuk hidup, bagaimana caranya bertindak dalam segala keadaan dalam kehidupan. Kata-kata “hati”, “roh”, dan “jiwa” disinggung kira-kira 70 kali dalam Kitab Amsal. Jadi Kitab Amsal memuat pesan dari Allah kepada umat-Nya yang ditujukan kepada roh, hati, dan jiwa mereka, yang menunjukkan cara untuk hidup dan cara mengatasi segala masalah praktis dalam kehidupan sehari-hari. Perkataan Musa yang berbunyi, “Manusia hidup bukan dari roti saja, melainkan dari segala yang diucapkan Tuhan,” bisa ditulis di atas Kitab Amsal.
Amsal 3:5 mengatakan: “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri.” Percayalah kepada Dia hari ini juga.
|
|