ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 

Kehidupan Ibadah Sepasang Suami Istri (III)

Doa yang Efektif

Bagaimana cara berdoa yang efektif? Tanyakan kepada diri kita sendiri.

Di dalam lingkungan keluarga, sebagaimana yang telah kita bicarakan pada awal tulisan ini, doa yang efektif itu adalah doa yang disampaikan dengan hati yang tulus, pada saat yang tepat dan kemudian menunggu jawaban dengan sabar. Doa menjadi efektif kalau kita membiarkan Tuhan menyelesaikan persoalan bagi kita. Persoalan kita diselesaikan-Nya? Tanya kita lagi. Ya, dengan semboyan "Ora et Labora." Bekerja dan berdoa.

Di dalam keluarga, doa yang efektif ialah apabila masing-masing pasangan memperlakukan pasangannya dengan penuh pertimbangan, penguasaan diri dan merindukan kesejahteraan pasangannya. Artinya, saling mendoakan dengan penuh kesungguhan. Tanpa pamrih.

Doa sang suami akan menjadi efektif apabila ia melakukan hal yang berikut ini:

"Demikianlah juga kamu," kata Petrus dalam 1 Petrus 3:7, "hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah." Petrus mengungkapkan hubungan suami-istri di sini dengan pengakuan bahwa pihak istri itu adalah "kaum yang lemah" atau memang dalam posisi yang lemah menurut pendapat orang pada zaman itu. Kalau mereka memang lemah maka adalah menjadi kewajiban yang kuat untuk menolongnya.

Banyak perempuan yang memperjuangkan hak-hak asasi kaumnya, karena diperlakukan tidak sebagaimana wajarnya sebagai sesama manusia, juga di dalam keluarga. Sang suami, yang merasa dirinya kuat, bantulah istrimu yang lemah. Maka doamu akan dijawab oleh Tuhan. Mengapa suami berdoa kepada Tuhan? Ya, setidaknya karena ia merasa lemah di hadapan Tuhan untuk menghadapi perjuangan hidup. Kalau Tuhan menolongnya, pertolongan berikutnya wajarlah diberikannya kepada istrinya. Dengan demikian, doanya akan dijawab.

Lebih lanjut Petrus mengatakan di dalam ayat yang sama:

"Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya `doamu jangan terhalang`." (tulisan tambahan dengan tanda petik dari penulis). Jelas sekali di sini diberikan jawaban bagaimana doa yang efektif itu. "Hormati mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia," artinya, ada kesamaan derajat antara suami dan istri. Doa yang tidak disertai dengan rasa hormat dan kasih sayang tidak akan dijawab oleh Tuhan. Hal itu dikatakan dengan jelas di sini. Hal itu juga berarti, bahwa barangsiapa yang menyiksa istrinya, doanya tidak akan dijawab. Mari kita camkan itu. Sebagai ahli waris kasih karunia, yakni Kerajaan Allah, istri harus diperlakukan dengan baik dan ramah, sederajat, karena sama-sama calon warga surga.

Sikap dalam doa, hendaknya diungkapkan dengan rasa hormat dan ketenangan yang meneduhkan jiwa dan lingkungan. Kalau kita meminta kepada Tuhan (berdoa), perlukah kita berteriak-teriak seolah-olah Ia kurang peka terhadap permintaan kita?

Coba kita perhatikan apa yang dikatakan oleh Rasul Paulus dalam Roma 8:26, "Demikianlah juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan."

Sang rasul mengatakan di sini bahwa kita ini lemah, dan selalu memerlukan kekuatan dari Tuhan, bahkan, kadang-kadang seruan kita tidak terucapkan karena tekanan yang begitu dalam menekan sanubari kita. Saat hening, saat teduh, saat yang khusyuk, sangat kita perlukan untuk berkomunikasi dengan Tuhan.

Suami-istri dan anak-anak dalam keluarga yang berdoa bersama-sama akan tetap dalam ketentraman dan kebahagiaan bersama-sama. Tuhan akan mendengarkan doa mereka. –selesai- (c3i.sabda.org)