ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 

 

Tantangan Keluarga Kristen bagian (I)

 

Suatu kali para jari mengadakan pertemuan keluarga. Mereka makan malam bersama dan saling berbagi cerita mengenai tantangan yang secara nyata mereka alami sebagai anggota-anggota tubuh, di tengah zaman yang semakin ingin memecah belah mereka. Inilah hasil dari perbincangan mereka.

SI JEMPOL merasa tantangan terbesar bagi dirinya adalah PERSAINGAN. Menurutnya, di dunia metropolitan seperti Jakarta ini, besar sekali kemungkinan adanya persaingan. Jari jemari harus siap diperadukan satu dengan lainnya. siapa yang kuat, dia yang mendapat perlakuan secara khusus.

Bicara tentang si Jempol saja misalnya, ada banyak orang yang lebih memilih serta menantikan kehadirannya dibandingkan jari jemari lainnya. Sebab begitu si jempol berdiri, semua orang sudah paham bahwa ada pujian yang akan dikumandangkannya. Katanya, “Aku tidak mungkin mengacungkan jempol untuk semua orang. Hanya pada orang-orang tertentu saja aku mau berdiri dan menyatakan pujianku. Semakin aku jujur, semakin orang menghendaki kehadiranku.”

Apakah kita juga setuju dengan pendapat si jempol? Bahwa salah satu tantangan yang dihadapi seorang Kristen di zaman ini adalah persaingan? Sadar atau tidak kita ada di dalam dunia persaingan ini. Mulai dari anak-anak sampai orang dewasa, persaingan terus berlanjut dan membayang-bayangi hidup kita.

Di kalangan anak-anak kita saja misalnya persaingan mulai muncul saat mereka memperebutkan kasih sayang. Berapa banyak orangtua yang tidak siap menjadi orangtua bagi anak-anak mereka, sehingga mereka lebih suka berlaku manis pada anak-anak mereka yang juga memberikan respon positif. Untuk anak-anak yang manis, yang pandai, yang taat, seringkali orangtua memberikan perhatian lebih ketimbang pada anak-anak mereka yang memberontak, tidak taat dan sulit belajar mandiri. Anak-anak jadi terbiasa berlaku pura-pura demi memperebutkan perhatian orangtuanya.

Itu baru di dalam keluarga saat mereka berelasi dengan orangtuanya. Tetapi di kalangan dunia anak sendiri, jangankan anak-anak yang sudah menginjak akil balik, di usia anak saya pun (sekitar 2 tahunan) sudah terjadi persaingan. Persaingan terjadi karena masalah yang sangat sepele kelihatannya, yaitu masalah bola plastik. Saat persediaan bola plastik hanya satu, bola itu jadi diperebutkan. Siapa yang mendapat bola itu? Rupanya yang kuatlah yang bisa memegang dan menguasai bola itu. Mereka yang ditendang, tidak bisa melawan atau membalas, harus menerima kekalahan yang tidak adil itu dengan terpaksa.

Di kalangan para siswa persaingan juga muncul. Bukan hanya di sekolah saat mereka bersaing nilai, tetapi juga saat mereka bersaing teman favorite, pacar, bahkan juga saat sebuah tim sedang memilih anggota terbaik mereka untuk sebuah kompetisi olah raga.

Persaingan berlanjut di dunia bisnis, di kantor, di jalanan, di toko, termasuk di dunia hiburan. Untuk mengambil tempat duduk di restaurant favorite pun kita bersaing waktu dengan pengunjung lainnya. mata kita harus sigap mencari tempat duduk yang kosong, jika restaurant yang kita tuju tidak memiliki stand pendaftaran customer mereka.

Ternyata memang benar, persaingan muncul tidak memandang bulu dan kelas. Di manapun, kapan pun selalu ada persaingan. Entah anak-anak kita pandai atau biasa-biasa saja, entah kita sedang berekreasi maupun bekerja, persaingan bisa terjadi.

Pertanyaannya, apa buruknya dari sebuah persaingan? Persaingan yang sehat tentu membawa hasil yang baik. Tetapi sebaliknya jika persaingan itu didominasi oleh ambisi dan ketinggian hati, maka persaingan akan membawa seseorang pada tindakan kejam, sarkastis dan akhirnya menimbulkan banyak korban. Padahal peneladanan Kristus berbeda sama sekali dengan hal tersebut. Apa perbedaan teladan Kristus dengan maraknya persaingan yang ada di zaman ini?

Persaingan melegalkan kita mengorbankan orang lain, sedangkan kehadiran Kristus mengajar kita untuk berkorban demi orang lain. Persaingan menebalkan kepekaan sosial kita, sedangkan kehadiran Kristus membuat kita semakin peka akan kebutuhan sesama. Persaingan membawa kita pada pementingan diri dengan kekuatan dan kelebihan kita, sedangkan kehadiran Kristus mementingkan mereka yang lemah dengan bantuan kekuatan serta kelebihan yang Tuhan beri pada kita.

Apakah kita dan anggota keluarga kita bersaing secara positif? Yesus juga mengajarkan kita untuk bersaing, bersaing dalam perlombaan iman. Bersaing dalam memenangkan kasih yang sejati, serta persaingan dalam menciptakan perdamaian (Rom 12:18).

Kini giliran SI TELUNJUK unjuk bicara. Menurutnya, tantangan terberatnya zaman ini adalah HARGA DIRI.

Si Telunjuk berkata, “Aku merasa, seringkali jariku disalahgunakan orang lain. Saat mereka menggunakanku untuk mempertahankan harga diri mereka. Mereka menunjuk seseorang untuk melempar tanggung jawab, menunjuk yang lemah untuk mempermalukan mereka, bahkan menunjuk diri sendiri saat pujian disampaikan.”

Dan ironisnya, si telunjuk seringkali menjadi alasan bagi perpecahan yang terjadi dalam keluarga. Sepasang suami istri memutuskan untuk pisah kamar saat tidur malam, hanya karena merasa tidak dihargai oleh pasangannya. Seorang anak bisa meninggalkan rumah karena merasa tidak dihargai oleh orangtuanya. Bahkan seorang pekerja segera meninggalkan rumah tempat mereka bekerja karena merasa harga dirinya diabaikan oleh sang tuan rumah.

Sempat seorang ayah berkata pada anaknya, “Kita boleh tidak punya uang, tapi jangan sampai kita kehilangan harga diri.” Rupanya harga diri begitu penting dan tinggi nilainya. Dunia ini bisa menunjukkan perbedaan status sosial, pendidikan, ekonomi, budaya dan peradaban secara mencolok, tetapi perbedaan itu tidak dapat menyembunyikan yang disebut dengan Harga Diri.

Akibat dari memprioritaskan harga diri, seseorang sampai hati mengorbankan uangnya, miliknya bahkan tenaganya. Sayangnya, dunia ini pun menghargai seseorang dengan hal-hal lahiriah. Rupanya, materi ikut berbicara, memberi andil bagi keputusan berharga atau tidaknya seseorang. Coba kita ingat-ingat, apa yang membuat seorang penjaga toko menghargai kita? Pakaian kita, penampilan kita, termasuk kartu kredit kita. Lalu, pelayanan apa yang juga bergantung pada materi atau uang yang kita miliki? Kelas dalam pesawat terbang, saat kita bermalam di rumah sakit, atau saat kita berbelanja. Semoga dan jangan sampai itu terjadi juga di gereja atau rumah kita.

Inilah tantangan keluarga Kristen di zaman ini, di mana keutuhan keluarga perlu diupayakan melalui sikap saling menghargai dan bukan karena masing-masing anggota keluarga menonjolkan harga dirinya masing-masing. Saya pernah mengatakan pada beberapa anak muda, mari kita turunkan harga diri kita demi mempertahankan relasi. Apa maksudnya? Relasi kita dengan Tuhan dan relasi kita dengan anggota keluarga sangatlah penting. Tuhan mengharapkan agar sesama anggota keluarga saling menolong dan melengkapi satu dengan lainnya. Istilah menolong mengandung makna kesediaan untuk merendahkan hati, turun menyodorkan tangan bagi mereka yang lemah.

Yang lemah diangkat oleh yang kuat. Itu berarti ada upaya turun ke bawah seperti Yesus yang kuat dan berkuasa turun menjadi seorang manusia dan mengambil rupa seorang budak/hamba. Ia menjadi sama seperti kita yang penuh dengan kelemahan. Inilah teladan kerendahan hati demi mengangkat keberhargaan seseorang. Kita yang lemah dan berdosa, diangkatNya menjadi anakNya, menjadi serupa seperti Kristus. Pengangkatan harga diri kita yang dilakukan oleh Kristus inilah yang membuat Sang Bapa sedia menerima kita.

Kalau saja Allah di Sorga mau menerima kita yang lemah, tidakkah kita meneladani Kristus yang telah mengangkat kita? Ingat, tantangan keluarga zaman ini adalah mengajak anggota keluarga mempertahankan relasi, bukan harga diri. Justru dengan saling menghargai, termasuk menghargai yang lemah, hidup kita jadi berharga. Bisa jadi bukan di mata manusia, tetapi berharga di mata Dia, Allah yang telah merendahkan diriNya buat kita