ABOUT US RATE CARD CREW CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 

 

Tantangan Keluarga Kristen (2)

Kini giliran Si JARI TENGAH unjuk gigi. Ia menekankan EGOISME sebagai tantangan terberat zaman ini.

Si Jari Tengah berkata, “Coba semua jari berdiri. Siapa yang tertinggi dan ada di pusat dari semua? Tentulah aku.” Dengan rendah hati lalu dia melanjutkan pendapatnya, “Karena itulah aku takut, takut aku menjadi sombong dan takabur. Aku yang sengaja diciptakan paling tinggi di antara kalian dan aku yang diletakkan Tuhan di tengah-tengah dari semua anggota keluarga jari jemari, aku takut aku menjadi sombong. Sempat terlintas dalam pikiranku bahwa Allah sengaja melakukan itu karena memang akulah yang terbaik dan untuk itu patutlah aku dilindungi, diperhatikan, diistimewakan.

Saya teringat motto dari sebuah film yang menceritakan pengalaman hidup para penjaga pantai. Mereka setuju bahwa hidup mereka dipersembahkan agar orang-orang yang seharusnya mati di lautan bebas karena kecelakaan, memiliki kesempatan kedua untuk hidup kembali dengan pertolongan mereka. “…so the others may live.”

Apakah prinsip itu tersirat dalam benak kita sebagai anggota keluarga? Sebagai anggota masyarakat? Atau sebagai seorang yang dipakai dalam dunia kerja dan pelayanan kita?

Seorang ibu berkata pada temannya, “Kalau saya tidak berguna di tempat ini, masih banyak orang memerlukan saya.” Apa pesan dari kalimat ini? Seseorang perlu diakui keberadaannya, seseorang ingin menjadi penting dan berharga.

Kali ini Si Jari Tengah setuju dengan telunjuk. Apa yang membuat seseorang memaki-maki orang lain? Apa yang membuat seseorang mengundurkan diri dari sebuah kegiatan? Apa yang membuat seseorang mengacuhkan orang lain? kadangkala bukan hanya karena ia tidak mendapati penghargaan terhadap dirinya, tetapi juga karena egoisme diri.

Hati-hati, jangan-jangan egoisme juga telah menelusup dalam keluarga kita. Kita bekerja bukan karena merupakan kebutuhan, tetapi karena kita hobi bekerja dan mengejar sesuatu yang menjadi ambisi pribadi kita. Ironisnya, kita bekerja karena ingin melarikan diri dari keadaan keluarga.

Apa akibat dari egoisme? Menurut Mangunhardjana, membuat seseorang kehilangan penghargaan terhadap orang lain. Egoisme membuat orang lain sebagai alat atau objek untuk memenuhi kepentingan pribadi. Egoisme membuat seseorang tidak peka atau buta terhadap kebutuhan orang lain.

Apakah kita telah menjadikan anak-anak atau pasangan kita sebagai objek? Apakah kita mencium, bermain dan membelikan mainan buat anak-anak hanya untuk kepentingan kita? Atau kita sedang belajar peka terhadap kebutuhan mereka?

Tantangan egoisme zaman ini mengajak kita merefleksi ulang, apakah kita telah menjadi seorang anggota keluarga yang memperhatikan kebutuhan anggota keluarga yang lain? Jangan sampai kita buta, sebab di situlah keluarga kita sedang terancam keruntuhan dan kerusakan.

Lain halnya dengan SI JARI MANIS, menurutnya justru KESETIAAN PADA TUHAN merupakan tantangan terpopuler masa kini.

Kisah-kisah penyangkalan terhadap kesetiaan marak terdengar bukan hanya di masyarakat pada umumnya dalam dunia bisnis, politik maupun pendidikan. Namun ketidaksetiaan juga merebak di dalam keluarga-keluarga Kristen. ketidaksetiaan pada sesama itu dimulai dari ketidaksetiaan kita untuk mendengar dan melakukan firman Tuhan.

Ketidaksetiaan menjalani apa yang Tuhan kehendaki membuat kita semakin tidak peka akan tugas yang Tuhan berikan pada kita sebagai utusanNya. Hanya dimulai dari hal-hal yang sangat sepele. SMS (Short Message System) telah mencoba menggoda setiap orang untuk melunturkan kesetiaannya. Kata-kata manis yang membuat seseorang tersenyum sendirian, perhatian yang hanya singkat tetapi penuh makna, “Sudah makan belum?” menghancurkan dinding pemisah antar yang sudah terikat dengan para penggodanya.

Tidak heran anak-anak juga belajar untuk tidak setia. Mulai dari fleksibilitas orangtua dalam mengantar anak-anak mereka ke Sekolah Minggu atau Kebaktian Remaja. Ada yang menunjukkannya dengan cara terlambat datang, atau malah sekalian tidak hadir. Dilanjutkan dengan ketidaksetiaan menjadi pelaku firman.

Mari kita refleksikan ulang, apa yang sudah dengan setia kita jalani? Membaca firman Tuhan dengan setia? Sudahkah kita dengan setia berterimakasih pada Dia yang telah memberkati kita? Atau sudahkah kita dengan setia mengajarkan cinta Tuhan pada anak kita secara berulang-ulang?

Seorang pria menyarankan pada temannya untuk menyimpan cincin nikahnya jika ia bepergian. Bukan karena takut hilang atau diambil orang, tetapi supaya banyak orang tahu bahwa dia tidak terikat. Berbagai cara dapat juga kita lakukan untuk menunjukkan ketidaksetiaan. Dan sayangnya itu diperkuat dengan kepandaian kita membela diri.

Ironisnya, justru orang-orang yang tidak setia seringkali mendapatkan banyak keuntungan dari ketidaksetiaannya itu. Sebut saja orang-orang yang seringkali pindah pekerjaan. Atau orang-orang yang ditawari gaji tinggi oleh perusahaan kompetitor. Namun ada pertanyaan yang mudah-mudahan dapat sedikit memperbaiki kita, yaitu: janji setia apa yang sekarang hendak kita ucapkan di hadapan Tuhan dan keluarga kita? Penuhilah janji itu di masa mendatang dan ajaklah anggota keluarga kita juga belajar memegang janji setia mereka pada Tuhan dan pada keluarga.

SI KELINGKING kini berucap, mengakhiri diskusi dan makan malam keluarga jari jemari. Menurut SI KELINGKING tantangan yang tidak kalah pentingnya untuk diwaspadai adalah

PERHATIAN TERHADAP YANG TERKECIL. Si kelingking memang jarang dibicarakan. Ia begitu kecil dan kurang kuat untuk mengangkat sebuah kantong plastik belanjaan sekalipun belanjaan itu ringan. Namun itulah justru tantangan mereka sebagai anggota keluarga.

Seorang murid bertanya pada gurunya, “Manakah yang harus kami selamatkan jika kami harus menyelamatkan banyak orang di ambang kematian mereka, dengan adanya keterbatasan kami?” Lalu jawab guru itu, belalah mereka yang paling lemah dan paling membutuhkan pertolongan.

Guru itu rupanya memiliki prinsip Kristiani. Untuk itulah Yesus datang ke dunia dan untuk itulah Dia mengutus kita. Agar yang lemah menjadi kuat, yang kecil diperhatikan, yang miskin berkata kukaya. Dia datang melalui kita, untuk menguatkan orang lain, memperhatikan orang lain, menghibur yang berduka.

Siapa yang paling kecil dalam keluarga kita? Perhatikanlah dia dan ajaklah dia memperhatikan mereka yang juga kecil dan membutuhkan perhatian.

Inilah hasil kesimpulan bincang-bincang para jari. Terakhir, sebelum mereka menutup pertemuan itu,

“Ada satu yang kurang kata mereka, coba kita bersama-sama menundukkan tubuh kita. ada sebuah simbol yang dapat disalahartikan. Kepalan seluruh jari dapat berarti sebuah pembalasan. Tetapi kepalan semua jari dapat juga berarti semangat bersama untuk mewujudkan hal baik. Itulah tantangan keluarga kita,” menurut para jari.

Lalu apa solusi dari semua tantangan itu? Sekarang mereka mulai membuka mata keluar dari kumpulan keluarga kecil mereka. “Lihat, ternyata masih ada keluarga lain di sebelah kita. Mereka sama-sama jari tangan. Ada jempol, telunjuk, jari tengah, jari manis dan kelingking.”

“O, itu bukan keluarga kita,” sahut si jempol.

“E… e… e… baru saja kita bicarakan bagaimana sulitnya melepaskan egoisme, harga diri dan persaingan,” tiba-tiba dengan berani di jari tengah menyanggah.

“Maaf, saya terbawa emosi. Apakah berarti kita harus menyatukan kedua keluarga besar ini?” tanya si Jempol.

“benar!” jawab Si Telunjuk.

“Kita satukan keluarga kita dengan mereka sambil berpelukan. Sebab saat kita berpelukan, kita semakin erat. Kita bahkan dapat membisikkan kata-kata doa yang kita perlukan agar kita diberi kesanggupan menghadapi tantangan zaman yang berat ini,” lanjut Si Telunjuk dengan semangat.

“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Sekaranglah waktunya. Mari kita berpelukan! Maksudnya… berdoa!” jawab jempol sambil berlari memeluk jari jemari lain di seberang mereka.

“Oh Tuhan terima kasih, akhirnya keluarga besar itu menyatu mencari Engkaulah sebagai satu-satunya sumber kuat mereka menghadapi tantangan zaman ini. Ingatkan mereka terus, ya Tuhan!”

Riani Josaphine Suhardja