ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 


Apa Itu Kasih Kristiani? (II)

Kasih yang Berhati-Hati
"Kasih itu penuh risiko. Apa yang terjadi bila orang yang Anda kasihi itu berpaling dan mengkhianati Anda? Apakah yang akan terjadi bila orang yang Anda kasihi itu meninggal dunia, atau menemui kemalangan? Bukankah kasih hanya akan membuat hati Anda terluka?" Kasih yang berhati-hati berusaha melindungi diri dari dukacita. Hal menjauhi dukacita, kesulitan, dan cobaan akan menjadi syarat-syarat kasih. Cara semacam ini menjadi semakin umum dalam hubungan kita, dan orang mudah berubah karena mereka mendasarkan kasih pada perasaan.

Tentu saja tidak bisa dijamin, bahwa kasih kristiani tidak akan membawa dukacita. Orang Kristen masih bisa berbuat dosa dan masih dapat saling menyakiti hati. Rasul Yakobus mengatakan bahwa kasih "menutupi banyak dosa." Maksudnya, ada banyak dosa yang dapat ditutupi. Hubungan yang langgeng hanya dimungkinkan dengan menahan kesedihan melalui kasih yang mengikat diri, bukan dengan cara menghindari kesedihan.

Daripada mencari-cari cara melindungi diri agar hati tidak terluka dalam pergaulan kita dengan sesama, lebih baik orang Kristen melakukan pendekatan lain dalam menangani hal tersebut. Dalam pelajaran bela diri, salah satu pelajaran pertama yang diberikan adalah cara menjatuhkan diri yang tepat. Para pelatih bela diri memang realistis. Mereka menganggap bahwa anak-anak asuhan mereka nantinya harus menahan tendangan-tendangan yang tangguh. Maka dari itu, mengetahui cara menjatuhkan diri yang baik, serta cara mengatasi pukulan-pukulan yang datang adalah ketangkasan yang penting.

Orang Kristen juga dapat belajar cara menahan sakit hati dalam hubungan antar pribadi, yakni melalui pengampunan, kesabaran, langsung menangani perselisihan, dst., tanpa membuat semakin tegang ataupun menjaga jarak.

Kasih demi Pemuasan Diri

"Saya butuh hubungan yang penuh kasih, supaya hidup saya memuaskan." Siapakah akan memungkiri fakta yang tersirat di dalam pernyataan itu? Kita semua butuh hubungan penuh kasih agar hidup kita memuaskan. Masalahnya bukanlah pemuasan diri, tetapi menganggap pemuasan diri sebagai tujuan hidup kita.

Bila pemuasan diri adalah tujuan akhir, maka akan ada kecenderungan untuk memandang hubungan kasih sebagai alat untuk mencapai tujuan itu. Sering kali pendekatan ini menuntun kita untuk memusatkan perhatian pada kebutuhan pribadi akan kasih sayang atau pemuasan diri sendiri melalui cinta. Kasih yang tadinya merupakan pelengkap dari pemuasan diri, kini menjadi syarat lain yang harus dipenuhi.

Tujuan hidup orang Kristen bukanlah pemuasan diri, melainkan kasih akan Allah dan sesama manusia. Ajaran-ajaran Alkitab mendorong kita untuk memusatkan diri pada sesama, dan bukan memikirkan diri sendiri. Kita mengasihi, bukan dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan pribadi, tetapi sebagai tanggapan kasih Allah, "Kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita." (1 Yohanes 4:19) Kasih bukanlah upaya untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yaitu pemuasan diri, kebahagiaan, ataupun kepuasan pribadi; kasih itulah tujuannya.

Kasih sebagai Ganjaran atau Hukuman

Para ahli ilmu jiwa menyatakan bahwa teknik ganjaran dan hukuman sangat efektif untuk mengubah tingkah laku. Sebagai contoh adalah tikus, ia dapat dilatih untuk melakukan latihan-latihan yang cukup sulit.

Karena kasih itu sangat kuat, kita cenderung memakainya sebagai suatu ganjaran, atau menariknya kembali sebagai hukuman. Tetapi kasih semacam itu adalah kasih yang bersyarat. Kasih kristiani tidaklah untuk diamalkan dengan cara seperti itu. Kita tidak boleh menarik kembali ikatan janji kita untuk mengasihi orang lain, sebagai hukuman bagi orang tersebut bila ia bersalah; kita juga tidak boleh mengancam akan menarik kembali kasih kita, agar ia terdorong untuk mengubah dirinya. Dengan perkataan lain, mengasihi atau janji untuk lebih mengasihi hendaknya tidak dimanfaatkan sebagai alat pemikat.

Saya tidak mau memberi kesan bahwa kita berlaku tidak konsekuen jika kita mengasihi orang lain, dan bersamaan dengan itu pula, kita mencoba mengubah mereka. Kita bisa saja menerima dan mengasihi orang lain, dan pada saat yang sama, berusaha mengubah tingkah laku mereka. Cara Tuhan menerima dan mengasihi kita adalah contoh yang baik, yang dapat kita terapkan dalam hubungan kita dengan sesama.

Dalam kebaktian penginjilan yang dilakukan Billy Graham, sebuah lagu dinyanyikan, "Sebagaimana adaku, kudatang pada-Mu, Yesus." Kata-kata lagu pujian itu menyatakan suatu kebenaran yang penting: Allah mengundang kita untuk datang kepada Yesus dan menerima keselamatan, walau bagaimanapun keadaan kita. Warta suci Kristus bukanlah "berubah dahulu, baru datang", tetapi "datanglah, sebagaimana ada." Meskipun demikian, perubahan merupakan bagian berita keselamatan. "Datanglah sebagaimana adanya, tetapi jangan tetap dalam keadaan itu; berubahlah supaya serupa dengan Kristus."

Maksud kasih yang mengubah tingkah laku ialah bahwa kasih yang kita berikan itu tidak tergantung pada tingkah laku orang, bukan berarti kita tak boleh berusaha mengubah kelakuan orang. Sebenarnya, adakalanya kita wajib mencoba memperbaiki tindak-tanduk seseorang. Misalnya, apabila tingkah laku seorang anak tidak pantas, maka orang tua wajib berusaha agar kelakuan anak mereka berubah. Kita tidak boleh mengabaikan tanggung jawab kita untuk membantu maupun mendorong orang yang kita cintai untuk mengubah kelakuannya, jika memang harus melakukannya. Namun, kita hendaknya jangan mengancam bahwa kita akan berhenti mengasihi mereka, jika mereka tidak mengubah kelakuan mereka. (bersambung)