| |
| Untuk Media Player Lain ; |
 |
 |
 |
| |
|
 |
Counselor 1  |
Counselor 2  |
| Telepon (021) 5565-1350 |
|
| |
Menjadi Besar di Hadapan-Nya (II)
|
|
"Pada waktu itu datanglah murid-murid itu kepada Yesus dan bertanya: "Siapakah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga?" Maka Yesus memanggil seorang anak kecil dan menempatkannya di tengah-tengah mereka, lalu berkata: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:1-4)
Gagasan menjadi seperti seorang anak kecil tampaknya akan memengaruhi para pembaca melalui berbagai cara. Pelajaran penting dari kutipan yaitu adalah gagasan untuk menjadi "rendah hati seperti seorang anak kecil". Selanjutnya, hal ini berarti menolak godaan untuk menjadi seorang yang dipenuhi perasaan yang berlebihan tentang betapa pentingnya diri Anda. |
|
|
Tentunya, adanya manfaat positif lainnya dari kita untuk bersikap seperti seorang anak kecil yang ceria, tidak ada beban, dan selalu ingin tahu, yaitu meningkatkan kesehatan, kreativitas, kemampuan belajar, dan lainnya. Yesus bermaksud untuk menetralisasi kecenderungan sifat orang dewasa yang sudah mengeras, seperti suka mengejek, tertutup, dan egois dalam situasi dunia yang semakin rumit dan penuh tekanan ini.
Pada kesempatan lain, Yesus menyampaikan ajaran-Nya lebih lanjut manakala Ia menghadiri suatu perjamuan malam formal di rumah seseorang berstatus cukup penting. Tampaknya, kali ini Ia menegaskan bahwa menjadi terkenal merupakan suatu hal penting yang sama sekali tidak buruk, tetapi haruslah berlandaskan pada dasar yang kokoh dari kerendahan hati.
"Karena Yesus melihat, bahwa tamu-tamu berusaha menduduki tempat-tempat kehormatan, Ia mengatakan perumpamaan ini kepada mereka: "Kalau seorang mengundang engkau ke pesta perkawinan, janganlah duduk di tempat kehormatan, sebab mungkin orang itu telah mengundang seorang yang lebih terhormat dari padamu, supaya orang itu, yang mengundang engkau dan dia, jangan datang dan berkata kepadamu: Berilah tempat ini kepada orang itu. Lalu engkau dengan malu harus pergi duduk di tempat yang paling rendah. Tetapi, apabila engkau diundang, pergilah duduk di tempat yang paling rendah. Mungkin tuan rumah akan datang dan berkata kepadamu: Sahabat, silakan duduk di depan. Dan dengan demikian engkau akan menerima hormat di depan mata semua tamu yang lain. Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan." (Lukas 14:7- 11)
Pada umumnya, kita menghargai seseorang yang tidak terlalu menekankan prestasi dan status mereka. Hal ini menjadi lebih bermakna jika orang tersebut justru memiliki kekuasaan atau kemampuan untuk dituruti oleh banyak orang. Kita semua menginginkan keberhasilan dan menjadi seseorang yang memiliki kemasyhuran dan kekuatan. Jika orang yang sukses tersebut memamerkan status mereka, kita mungkin saja merasa ada yang kurang pantas atau bahkan marah terhadap perilaku yang berlebihan itu. Sebaliknya, jika mereka menunjukkan sikap rendah hati dan menghargai orang lain, kita dapat mengakui harkat dan status mereka. Memang agak sulit untuk menjelaskan mengenai hal ini jika tidak pernah mengalaminya sendiri. Cerita Yesus mengenai perjamuan makan memberikan kepada kita suatu gambaran yang gamblang dan membuat kita mampu untuk membayangkan secara langsung hubungan yang kuat antara kerendahan hati dengan keagungan. Saya kurang memahami semua gagasan ini manakala saya menc ermatinya. Namun, kemudian saya teringat kepada Donald Petersen, CEO Perusahaan Mobil Ford. Ia menjadi seorang CEO yang jauh dari penampilan yang "wah" dibanding banyak pimpinan perusahaan lainnya, seperti Henry Ford II dan Lee Iacocca. Sangatlah sulit bagi banyak orang untuk mengingat namanya, dan sudah sering ada surat kabar yang salah mengeja namanya. Sebagai seorang pemimpin, ia menganjurkan pemberdayaan, kerja sama tim, kepercayaan, kerja sama operasional, dan pengakuan terhadap peran setiap karyawannya. Ia mengaku dengan terbuka bahwa ia menikmatinya karena tidak seterkenal pemimpin perusahaan lainnya. "Kami tidak memerlukan para bintang.... Menjadi bagian dari tim akan menciptakan kondisi yang lebih produktif. Saya merasa lebih nyaman ketika jauh dari pusat perhatian."
Berikut ini contoh dari sikap kepemimpinan yang dibawa Petersen ke dalam perusahaan Ford, seperti yang dikisahkan Jack Telnack, pimpinan bagian perancangan Ford ketika Petersen menjadi CEO. (bersambung)
|