ABOUT US RATE CARD CONTACT US    
 
 
Untuk Media Player Lain ;
 
Counselor 1   
Counselor 2    
Telepon (021) 5565-1350
 
 

 

 

Pentingnya Musik Dalam Gereja (II)


Pemazmur dalam Mazmur 100:1-4 menasihati kita untuk menghadap Tuhan dan masuk hadirat-Nya dengan musik dan pujian. "Mazmur untuk korban syukur. Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi! Beribadahlah kepada TUHAN dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai! Ketahuilah, bahwa TUHAN-lah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya. Masuklah melalui pintu gerbang-Nya dengan nyanyian syukur, ke dalam pelataran-Nya dengan puji-pujian, bersyukurlah kepada-Nya dan pujilah nama-Nya!"

Begitu pentingnya musik dalam gereja, sehingga tidak heran tokoh reformasi kita, Martin Luther, pernah berkata: "Next after theology, we give the greatest honor to music; let it be music, we will make it as sacred as it needs be." (Setelah theologia [doktrin/firman], mari kita beri penghargaan tertinggi kepada musik; biarlah ada musik, dan kita akan menguduskannya sebagaimana seharusnya.) Begitulah umat Tuhan dalam Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan zaman reformasi menempatkan musik. Bagaimana dengan kita sekarang? Apakah kita serius terhadap musik? Dan, apakah kita memanfaatkan musik secara positif dan menempatkannya sesuai proporsinya di dalam gereja?

Berikut adalah contoh liturgi pada umumnya yang rata-rata hampir sama di gereja-gereja.

  1. Votum dan salam
  2. Pujian dan penyembahan
  3. Doa syafaat
  4. Pengumpulan persembahan
  5. Pengakuan iman
  6. Kesaksian
  7. Paduan suara
  8. Pembacaan Alkitab
  9. Khotbah
  10. Saat teduh
  11. Warta jemaat
  12. Berkat rasul

Dari 12 susunan liturgi di atas, hanya satu yang diberikan khusus untuk Tuhan, yaitu nomor 2: pujian dan penyembahan (termasuk paduan suara). Sisanya untuk kepentingan jemaat sendiri.

Betapa sayangnya jika satu-satunya bagian liturgi yang dikhususkan untuk Tuhan terlalu singkat dan asal-asalan. Mungkin kita sering melihat ada jemaat yang tidak ikut menyanyi saat pujian dilantunkan. Buku pujian yang seharusnya digunakan sebagai panduan untuk menyanyi malah dipakai untuk berkipas-kipas. Bahkan, ada jemaat yang terlambat datang ke gereja, sehingga ia melewatkan waktu untuk memuji Tuhan. Ada pula jemaat yang hanya ingin mendengarkan khotbah. Yaitu khotbah yang baru dan bagus, yang ia harapkan. Apabila yang diharapkan meleset, ia pulang dari gereja dengan wajah yang murung karena merasa tidak mendapat apa-apa. Sebagai umat yang telah mendapatkan kasih karunia Allah, sudah sepantasnya kita tidak lagi memikirkan "apa yang akan kudapat", tetapi sebaliknya atau paling tidak seimbang memikirkan "apa yang akan saya berikan untuk Tuhan".

Firman Tuhan menasihatkan kita, "Sebab itu, marilah kita, melalui Dia, senantiasa mempersembahkan korban syukur kepada Allah, yaitu ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya" (Ibrani 13:15). Pemberian kita untuk Tuhan tidak hanya berupa kesaksian dan materi atau uang, tetapi juga dapat berupa "ucapan bibir yang memuliakan nama-Nya". Tuhan akan menghargai pemberian kita itu sebagai korban syukur kita kepada-Nya. Ini kesempatan yang luar biasa, bukan?
Karena itu, berikanlah yang terbaik untuk Tuhan. Itulah yang dikehendaki Tuhan, "Biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah" (1 Petrus 2:5).

Dan, inilah maksud dan tujuan buku ini, agar kita semakin mengerti betapa hebatnya pujian dan penyembahan itu. Dengan demikian, kita dapat memanfaatkannya dengan baik dan tepat guna. –selesai- (gema.sabda.org)