| |
Saya Bekerja untuk Tuhan? (IV)
 |
Penulis Perjanjian Baru dengan konsisten mengatakan kepada kita bahwa kemuliaan sifat, karakter, kekuasaan, dan tujuan Allah terlihat dalam diri Yesus. Seperti yang dikatakan penulis kitab Ibrani, misalnya, "Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan" (Ibr. 1:3). Yohanes menulis sabda Allah melalui Alkitab dengan kuasa Roh Kudus. Yesus ada dalam diri kita melalui Roh Kudus -- dan saat ini kita memang menjadi bagian dari sabda-Nya. Dalam segala hal, pekerjaan "memuliakan" tetap diteruskan melalui kita. Tapi bagaimana kita tahu bahwa kita memuliakan Tuhan? |
Mungkin kita tidak akan pernah menyadarinya. Memang ada alat untuk mengetahui tingkat kolesterol, tekanan darah, atau keadaan jantung kita, namun tidak ada yang namanya "alat pengukur kemuliaan". Namun, kita diyakinkan bahwa Tuhan senang karena kita menaati panggilan-Nya, dan ketaatan itu akan dengan sendirinya membawa kemuliaan bagi nama-Nya. Tugas kita adalah mengatur pekerjaan kita, dan Tuhan yang akan menilai hasilnya.
Namun begitu, ada aspek lain yang juga penting dalam memuliakan Tuhan. Dalam Alkitab, pekerjaan dan penyembahan sangat berkaitan. Bahkan, kata "bekerja" dalam bahasa Ibrani terkadang diartikan sebagai `penyembahan`. Mark Greene mengaitkannya setelah mengamati bahwa "bekerja adalah kata yang dibentuk oleh tujuh huruf"[1]. Ketika seorang Kristen bekerja, dia juga sedang menyembah. Apakah Anda merasa sudah melakukannya setiap hari? Cara kerja dan cara menyikapi pekerjaan yang buruk akan mengarah kepada penyembahan yang berkualitas buruk pula -- atau tidak menyembah sama sekali. Jika itu terjadi, kemuliaan Allah sedang dirampok sebanyak dua laki lipat -- karena kita tidak mendorong orang lain untuk memuliakan-Nya karena kita sendiri pun tidak memuliakan-Nya.
Doa Daud, ketika dia mempersiapkan Bait Allah yang kelak akan dibangun oleh anaknya, Salomo, menyiratkan pola penyembahan dalam Alkitab: "Ya TUHAN, punya-Mulah kebesaran dan kejayaan, kehormatan, kemasyhuran dan keagungan, ya, segala-galanya yang ada di langit dan di bumi! Ya TUHAN, punya-Mulah kerajaan dan Engkau yang tertinggi itu melebihi segala-galanya sebagai kepala" (1Taw. 29:11).
Yesus mengambil inti dari doa itu yang kemudian Dia ajarkan kepada murid-murid-Nya (Mat.6:9-13). Seperti yang dikatakan William Barclay, "Saya tidak bisa mengatakan amin (untuk doa itu) kecuali saya bisa mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Karena bagaimanapun juga itu adalah doa saya." Sungguh-sungguh suatu tantangan yang besar untuk memuliakan Tuhan dalam hidup dan pekerjaan kita [2].
Aksi:
Kita telah membahas empat cara agar pekerjaan kita bisa memuliakan Tuhan. Periksa dan nilailah pekerjaan Anda sekarang berdasar empat prinsip ini. Berdoalah agar Anda mampu bersikap jujur dan objektif. Kita semua perlu belajar banyak dan mencoba menerapkannya dengan lebih baik. Bagaimana Anda menjawab pertanyaan, "Apa pentingnya pekerjaanku bagi Tuhan?"
Apakah Tuhan tercermin dalam sikap kerjaku?
Sikap kerja kita berperan penting dalam menentukan peran unik kita nantinya. Ketika Anda mengerjakan beberapa aksi di atas, Anda mungkin merasakan kepedihan akan sikap Anda yang sekarang. Saya sendiri merasakan seperti itu. Mari kita bahas hal ini lebih dalam dengan melihat "semangat zaman" ini. Bagaimana dan di mana semangat zaman ini bisa memengaruhi kerja kita yang begitu dipedulikan Tuhan? Saya mencari profil seseorang atau perusahaan untuk mengetahui sikap yang umum dilakukan dalam bekerja. Saya tidak butuh waktu lama untuk menemukan apa yang saya cari -- profil-profil seperti itu banyak terdapat dalam media massa dan pelatihan yang ada di seluruh dunia. Mereka inilah yang membentuk opini yang memengaruhi kita dalam menetapkan konteks mengenai bagaimana orang Kristen harus bekerja. Inilah sepuluh pandangan mereka tentang diri mereka sendiri atau orang lain yang mereka kagumi.
- Ia selalu memiliki sikap bersaing tanpa pikir panjang.
- Orang ini selalu ingin menjadi penguasa setiap saat.
- Ia penuh dengan ambisi.
- Agar berhasil, semua orang harus dipandang sebagai musuh.
- Pekerjaan adalah mesin promosi untuk diri sendiri.
- Dalam segala hal, moralitas tidak penting -- yang penting adalah hasil akhir.
- Rahasia sukses adalah pertama-tama menemukan cara bagaimana menghasilkan uang dengan cepat.
- Budaya kerja 24-7 sangat cocok; berkeluarga tidak penting.
- Selalu penuh dengan adrenalin, selalu melakukan sesuatu dengan semaksimal mungkin.
- Seorang pembentuk tim dikenal karena pendelegasian atau kepercayaannya -- tapi tidak keduanya.
Anda akan melihat betapa tegas dan kerasnya pernyataan-pernyataan di atas. Ada beberapa pernyataan yang sangat ekstrem, dan kebanyakan terkesan negatif. Ambisi dan persaingan memang dibutuhkan agar kinerja seseorang baik -- pada tingkat tertentu, hal itu akan membawa kemuliaan bagi Tuhan. Tapi bagian-bagian lain, seperti meniadakan moral atau tidak ingin berkeluarga, tidak bisa disebut sebagai prinsip orang Kristen. Anda mungkin mengenal banyak orang seperti itu atau jangan-jangan Anda sendiri memiliki pemikiran seperti itu, tergantung dari jenis pekerjaan yang Anda lakukan. Mungkin Anda baru saja memulai karir dan mengabaikan hal ini, atau mungkin Anda berada di pertengahan karier dan semua ini terdengar seperti "memang seperti itulah bisnis". Bukan hanya "pemimpin dunia industri" yang menggunakan pernyataan- pernyataan seperti itu. Saya sudah bertemu dengan orang-orang seperti ini dalam jalan kehidupan yang sangat berbeda. Banyak dari mereka yang mengganggap bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah suatu kehormatan. Meskipun ada yang melecehkan sikap-sikap seperti itu, tapi pada kenyataannya banyak yang memercayai dan melakukannya. Dan sebagian dari mereka adalah orang-orang Kristen.
Kini kita tahu bahwa pekerjaan kita berarti untuk Tuhan -- setidaknya itulah yang diharapkan Tuhan. Namun, berarti atau tidaknya pekerjaaan kita tergantung dari sikap dan perilaku kita. Cermati lagi kesepuluh perilaku di atas. Pikirkanlah kesepuluh hal itu sebagai tempat kita bercermin, yang mana yang ada pada diri Anda dan lingkungan kerja Anda. (bersambung)
|
|